Wacana

6 Ciri Generasi Menunduk yang Kurang Mencintai Kehidupan

Ilustrasi Keluarga (Foto: Rippleeffectdisciplines.com)
Ilustrasi Keluarga (Foto: Rippleeffectdisciplines.com)
Mereka seolah tak peduli akan nyawa sendiri, ataupun nyawa orang lain. Ketika kecelakaan terjadi, mereka mengira itu adalah cobaan dari Tuhan.

Senangnya melihat keluarga bahagia berjalan bersama. Ayah, ibu dan kedua anaknya berjalan penuh keceriaan ke rumah makan tersebut. Wajah mereka cerah. Kebahagiaan tampak jelas terpancar dari wajah merea.

Ketika sampai di restoran, tiba-tiba mereka mulai mengeluarkan telepon pintar dari kantung celana maupun tas mereka. Seketika itu juga, mereka mulai sibuk sendiri-sendiri dengan alat tersebut. Suasana kebahagiaan pun hilang dalam sekejap mata. Yang tampak adalah empat orang yang sibuk dengan telepon pintar mereka masing-masing.

Pemandangan semacam ini amat sering ditemukan di dalam ruang publik. Pasangan yang duduk bersama, namun sibuk masing-masing dengan telepon pintar mereka. Keluarga besar yang berkumpul, namun tak sungguh “berkumpul”, karena semua sedang asyik di dunianya (maya) sendiri-sendiri. Saya menyebut mereka semua sebagai generasi yang menunduk.

Tidak hanya itu, generasi yang menunduk ini terkesan tidak mencintai kehidupan. Ada yang mengendarai motor dan mobil, sambil melihat telepon pintarnya. Mereka seolah tak peduli akan nyawa sendiri, ataupun nyawa orang lain. Ketika kecelakaan terjadi, mereka mengira itu adalah cobaan dari Tuhan.

Generasi yang Menunduk

Ada enam ciri dari generasi yang menunduk. Pertama, generasi ini miskin kemampuan untuk mengamati (observational skill). Ketika pandangan terarah ke bawah kepada telepon pintar yang ada, lingkungan sekitar cenderung terabaikan. Tanpa kemampuan mengamati, orang pun tak sungguh memahami lingkungan tempat ia hidup.

Kedua, ketika kemampuan mengamati berkurang, maka kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain (Perspektivenübernahme) pun juga berkurang. Empati melemah. Hubungan antarmanusia diwarnai asas saling memanfaatkan. Tinggal didorong sedikit, kekerasan dan konflik pun akan terjadi.

Tiga, empati adalah dasar dari solidaritas. Sementara, solidaritas adalah ikatan yang mendasari hidup bersama. Ketika empati melemah, solidaritas pun melemah. Ketika solidaritas melemah, ikatan yang mendasari hidup bersama pun juga melemah. Perpecahan akan sangat mudah terjadi, apalagi jika ada campur tangan asing dengan kepentingan politik dan ekonominya.

Baca Juga:  Uang dan Utang (2): Dollar sebagai Jangkar Sistem Perdagangan Dunia

Empat, ini juga merupakan sebab dari begitu banyaknya orang menderita kesepian dan depresi di dunia sekarang ini. Jumlah manusia terus bertambah. Sementara, jumlah orang yang kesepian dan terabaikan justru semakin banyak. Inilah kiranya yang disebut sebagai kesepian kolektif (collective loneliness) di abad globalisasi ini.

Lima, dalam tekanan kesepian dan terabaikan, orang menjadi tak peduli. Orang hanya memikirkan keselamatan diri dan keluarga dekatnya. Keselamatan bumi, apalagi keselamatan hewan dan tumbuhan, sama sekali tak dipikirkan. Pola pikir sesat inilah yang justru semakin menyebar dewasa ini.

Enam, generasi yang menunduk adalah generasi yang gampang patah. Mereka seolah menunduk di hadapan begitu banyak tantangan kehidupan, mulai dari radikalisme, terorisme sampai dengan pemanasan global. Gerakan sosial pun menjadi berumur pendek, karena tidak didasari motivasi yang kokoh. Pun jika ada, berbagai gerakan sosial hanya menyembunyikan motif ekonomi terselubung, guna mendapatkan uang dan nama besar di masyarakat.

Berhenti Menunduk

Lalu, apakah kita harus melepaskan sama sekali penggunaan telepon pintar tersebut? Apakah kita harus berhenti menunduk? Ada tiga hal yang kiranya perlu dipertimbangkan.

Pertama, penggunaan telepon pintar harus disertai dengan kesadaran penuh. Jangan sampai orang menunduk, tengelam di dalam telepon pintar, semata karena kebiasaan yang bersifat mekanistik. Dalam hal ini, orang melakukan itu secara otomatis, karena ia tidak sadar penuh atas apa yang sedang dilakukannya. Inilah yang disebut Martin Heidegger sebagai gejala ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit) yang menjadi ciri utama peradaban kontemporer.

Dua, untuk bisa sadar di dalam penggunaan telepon pintar, kita kiranya mesti melakukan puasa digital. Satu hari dalam seminggu, kita berhenti menggunakan semua teknologi informasi dan komunikasi yang ada. Sebagai gantinya, kita bisa sekedar membaca buku, atau melakukan kegiatan spiritual bermutu lainnya, seperti meditasi atau yoga. Ini akan membuat kesadaran semakin meningkat di dalam penggunaan teknologi.

Baca Juga:  Bagaimana Seharusnya Aktivis Islam Memperjuangkan Cita-citanya?

Tiga, di dalam menggunakan teknologi, satu prinsip kiranya perlu digunakan, yakni “saya menggunakan teknologi, dan bukan teknologi menggunakan saya”. Manusia harus menjadi tuan atas teknologi. Segala bentuk teknologi digunakan untuk meningkatkan mutu kehidupan sebagai keseluruhan. Jika teknologi mulai menghambat atau bahkan menghancurkan kehidupan, maka kehadirannya perlu ditelaah ulang.

Generasi yang menunduk adalah bagian dari keseharian kita sekarang ini. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah, apakah mereka menunduk untuk melarikan diri dari kenyataan, dan hidup di dunia maya?

Ataukah, mereka menunduk untuk mengembangkan diri mereka melalui berbagai pengetahuan yang ada di dunia maya, dan mengembangkan jaringan ke seluruh dunia demi suatu misi untuk kebaikan bersama?

Semoga yang kedua ini yang terjadi.

***