Sketsa

Rumah Singgah bagi Kawanan Burung

Kandang, Burung, Rumah Singgah, Norwegia, Headline, Kehidupan
Kandang burung (Foto: Pinterest.com)
Betapa senangnya kami ketika tau pasangan burung itu berhasil membangun keluarga di dalam kandang yang kami gantung di teras depan rumah.

A shelter for the birds.

Beberapa waktu lalu saya sempat posting tentang hasil prakarya Fatih di sekolah, yaitu kandang kayu untuk rumah burung.

Sekian lama nggak ada yang tertarik. Paling beberapa burung kecil menclok di atasnya, terus terbang lagi.

Kandang ini sempat dipermak sama Fatih, karena lubangnya terlalu kecil. Maka dia bawa lagi ke sekolah (karena di rumah nggak ada peralatan bertukang).

Nggak lama, mulai ada 1-2 burung tit yang mencoba masuk. Kami berharap suatu saat burung-burung itu akan bertelur dan ada anak-anak burung yang suaranya nyaring dari dalam kandang.

VIDEO

Di akhir musim dingin, ada sepasang burung tit yang rajin bolak-balik ke kandang sambil membawa ranting/rumput kering di mulut mereka. Wah, ada harapan mereka bakal ngendon dan bertelur di dalam. Benarkah?

Sejak musim semi, kami mulai mendengar suara-suara kecil dari dalam kandang. Dan di musim panas ini, sepasang burung tit yang waktu itu sibuk membuat sarang, sekarang selalu membawa cacing, larva, sampai nyamuk di mulut mereka. Sebentar si ibu masuk, dan bapak mengawasi dari atap.

Ketika ibu pergi, giliran bapak yang masuk, dan kemudian pergi lagi. Ketika kedua orangtuanya pergi, suara di dalam kandang semakin gaduh.

“Mak! Pak! Kami lapar!” begitu mungkin kata mereka.

Betapa senangnya kami ketika tau pasangan burung itu berhasil membangun keluarga di dalam kandang yang kami gantung di teras depan rumah.

Apalagi Fatih sang tukang kayu. Bangga sekali dia bisa menghasilkan karya yang bermanfaat buat makhluk lain.

Sayang atap kandang nggak bisa dibuka tutup, sehingga kami nggak bisa melihat langsung kondisi nak-kanak burung di dalamnya. Biar saja demikian. Yang penting mereka betah. Lagipula kalau keseringan kami ganggu, bisa-bisa mereka hengkang dari sana.

Baca Juga:  Harley Davidson, Jalan 150 Untuk Tahun Ke 115

Jadi beginilah. Kami bisa menikmati kicau burung tanpa perlu mengurung mereka dalam sangkar. Mereka bebas datang dan pergi. Meski kebebasan itu sedikit terancam dengan keberadaan para kucing tetangga yang rajin duduk di pinggiran teras, mata mereka mengawasi. Menanti saat yang tepat untuk menyergap burung-burung kecil yang lucu itu.

Pak Suami sempat mengatur ulang perabotan teras supaya nggak “cat friendly”. Alhamdulillah sejauh ini aman. Burung tetap nyaman datang dan pergi.

Para kucing juga masih sering bertandang ke rumah dan jadi sahabat Fatih.

Nyalakan volume ponsel kalian, ya. Biar bisa mendengarkan kehebohan para anak burung yang nggak pernah kenyang karena mereka masih dalam masa pertumbuhan (kata Pak Suami).

***