Sketsa

Ramainya Masjid Kami

Masjid di Norwegia (Foto: Savitry Khairunnisa)
Masjid di Norwegia (Foto: Savitry Khairunnisa)
Di masjid ini, seperti halnya semua masjid di Norwegia, adzan dan khutbah hanya boleh diperdengarkan dengan mikrofon sebatas di dalam ruangan saja.

Kemarin ada yang bertanya tentang masjid di Haugesund.

Nah, ini dia. Namanya Masjid Falah ul-Muslimeen. Masjid ini adalah salah satu dari tiga masjid di kota kami, sekaligus yang terbesar.

Dua masjid lainnya milik komunitas Arab Irak, dan komunitas Bosnia. Siapa saja tentu boleh sholat di masjid manapun. Hanya secara alamiah manusia cenderung untuk berkumpul dengan komunitasnya sendiri, kan. Dan itu sah-sah saja.

Di Falah ul-Muslimeen ini jamaahnya lebih bervariasi, dan semua adalah pendatang alias imigran. Mereka berasal dari Afghanistan, Pakistan, Cina (Uighur), Somalia, Sudan, Palestina, Suriah, Chechnya, Indonesia, Uzbekistan, dan lain sebagainya. Tapi kebanyakan yang beribadah di sini adalah para muslim dari Benua Hitam.

Kalau masuk ke masjid ini kita lupa sejenak kalau sedang berada di Norwegia.

Apakah nggak ada muallaf asli Norwegia? Ada, sih. Tapi di kota kami sangat amat jarang. Pernah ada beberapa muallaf asli Norwegia di sini, tapi kemudian hijrah ke Mesir.

Oya, kalau ada yang bingung dan bertanya mana masjidnya, silakan lihat bangunan bercat biru dengan garis merah. Itu masjid kami. Bentuknya seperti bangunan biasa, tanpa papan nama, tanpa penanda apapun. Lokasinya juga berhimpitan dengan toko kelontong dan apartemen. Di lantai atas masjid ada beberapa jamaah laki-laki yang tinggal.

Imam masjid selalu berganti sesuai kondisi. Pernah imam berasal dari Palestina. Ia tinggal sudah lama sekali di Norwegia bersama keluarganya. Tapi karena satu dan lain hal permohonan suakanya ditolak. Ia terpaksa angkat kaki dari Norwegia. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Semoga ia dan keluarganya baik-baik saja.

Pernah juga ada imam dari Mesir. Ia calon Doktor (S3). Sempat mengisi Jumatan dan Ramadhan di Haugesund, tapi kemudian pindah ke Oslo karena studinya.

Baca Juga:  Sosok Dalu Nuzulul Kirom (2): Musyrik Bisnis, Apa Itu?

Imam terbaru juga berasal dari Mesir. Bacaan sholatnya bagus sekali. Karena ia belum terlalu fasih bahasa Norwegia, maka biasanya sebelum khutbah Jumat dimulai, akan ada anak muda yang membacakan teks khutbah dalam bahasa Norwegia. Setelah itu barulah imam berkhutbah dalam bahasa Arab.

Meski ukurannya kecil dan jumlah muslim di Haugesund nggak banyak, tapi di masjid ini hampir selalu ada orang yang sholat. Apalagi di akhir pekan Ramadhan, sering ada kajian atau sekedar diskusi Islam bagi siapapun yang mau bergabung.

Sayang di masjid ini belum ada program baca Alquran untuk anak (dulu sempat ada sebentar, tapi kemudian tidak ada yang meneruskan). Jadi untuk urusan mengaji Alquran, kami para orangtua yang mengajarkannya sendiri pada anak masing-masing.

Di masjid ini, seperti halnya semua masjid di Norwegia, adzan dan khutbah hanya boleh diperdengarkan dengan mikrofon sebatas di dalam ruangan saja. Nggak boleh sampai terdengar membahana keluar seperti di negeri kita.
Hal yang lumrah di negara yang dasarnya bukan agama alias negara sekuler.

Di Norwegia, keberadaan masjid dianggap sama dengan gereja, pura, atau kuil Buddha. Sama-sama organisasi keagamaan, yang bila punya jamaah dalam jumlah cukup banyak, akan dapat sokongan finansial dari pemerintah daerah.

Bila jamaah mulai berkurang atau nggak ada sama sekali, dana akan dicabut, dan bisa-bisa rumah ibadah tadi ditutup. Hal biasa di Norwegia ketika gereja yang tak lagi didatangi jamaahnya kemudian beralih fungsi jadi bar atau restoran.

Alhamdulillah sejauh ini ketiga masjid di Haugesund masih ramai jamaahnya. In syaa Allah demikian selalu.
Bukan saja untuk dapat dukungan pemerintah, tapi lebih pada semangat memakmurkan masjid.

Baca Juga:  Lolos dari Maut (4): Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

Sebagai minoritas kami sangat bersyukur masih punya masjid, dapat beribadah tanpa rasa waswas, dan bisa punya tempat untuk menjalin persaudaraan dengan sesama muslim.

Alhamdulillaahiladzi bini’mati tatimushaalihat…

***