Wacana

Kerja Seorang Pelayan Menyambut Hari Kemenangan

Mudik, Lebaran, Infrastruktur, Joko Widodo, Oposisi, Headline
Ilustrasi mudik Lebaran (Foto: Tempo.co)
Begitulah seharusnya memang kerja seorang pelayan. Mengubah yang buruk jadi jauh lebih baik, memperbaiki yang menghambat jadi melesat cepat.

Dulu sepekan sebelum lebaran jalanan macet di mana-mana karena arus mudik. Imbas kemacetannya sampai di dalam kota. Kemacetan arus mudik jadi tontonan di semua saluran televisi kita yang berlomba-lomba menyiarkan secara langsung penderitaan rakyat pulang mudik yang dianggap sebagai ujian pamungkas penyempurna ibadah puasa wajib di bulan Ramadan. Tidak sedikit para pemudik yang membatalkan ibadah puasanya gara-gara kena macet saat menuju kampung halaman meski memang diperbolehkan karena status musafir yang menempuh perjalanan lebih dari 180 km.

Tapi kemecatan arus mudik itu kini hampir tidak ada lagi. Seorang teman pada Minggu 10 Juni 2018 kemarin mengabarkan bahwa perjalanan mudik sekarang sungguh menyenangkan. Jalanan lancar. Tak ada macet yang menyiksa lagi. Sampai di tempat tujuan dengan selamat dan makanan yang dibawa dari Jakarta masih tetap hangat. Ia dan keluarganya tak lagi menginap di jalanan karena macet lebih dari duabelas jam yang bikin stress dan bekal makanan yang dibawa dari rumah jadi basi dan mubazir terbuang.

Harus diakui pemerintahan Presiden Jokowi yang mengubah ini semuanya. Pemerintah saat ini mengerti betul fungsinya buat rakyat: bekerja setulus hati menjadi pelayan.

Dengan slogannya, “Kerja, kerja, kerja”, pemerintahan Jokowi secara serius bekerja siang malam 24 jam setiap harinya membangun infrastruktur di seluruh Indonesia, terutama membangun jalan. Dari Aceh sampai Papua jalan-jalan dibangun.

Jalan adalah sarana utama yang memudahkan orang bergerak dan bertemu. Jalan membuka ruang yang sempit jadi luas dan bebas hambatan. Jalan memperpendek jarak dan waktu. Jalan memperlancar aktivitas distribusi dengan segera.

Yang harus kita akui juga adalah kerja pemerintah saat ini dalam membangun infrastuktur dengan perencanaan yang sangat matang. Semua pekerjaan ada deadline, ada batas waktu kapan pekerjaan harus selesai. Maka dari itu Presiden Jokowi mengawasi langsung seluruh pekerjaan infrastuktur ini secara seksama.

Baca Juga:  Perhatikan 8 Hal Filosofis Ini dalam Membina Hubungan di Media Sosial

Jokowi terjun ke lapangan memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai rencana. Sehingga tak ada lagi proyek-proyek yang mangkrak padahal anggaran sudah digunakan (jadi bancakan korupsi) seperti yang terjadi di Hambalang. Ia bukan tipe pemimpin ABS yang cuma mau terima beres.

Alhasil kini arus mudik dari dua pulau utama yang menjadi urat nadi perekonomian Indonesia, Sumatera dan Jawa, berlangsung lancar.

Rakyat senang pulang kampung tanpa kemacetan lagi. Tak ada lagi tontonan di semua saluran televisi yang menyiarkan betapa menderitanya rakyat di perjalanan yang mau bertemu orangtua dan keluarga besarnya di udik, desa tempat mereka berasal-usul.

Cuma dalam tiga tahun Jokowi berhasil mengubah kultur dari “bersusah-susah dan menderita saat mudik lebaran” menjadi “bersenang-senang dan bahagia menyambut Hari Kemenangan”.

Jokowi sebagai seorang pelayan sudah berhasil mengangkat harkat dan martabat rakyat Indonesia sebagai tuan yang punya negara ini. Dalam bahasa religius Jokowi menghindarkan kita dari “sengsara neraka dunia” dan memberikan kepada kita “sepotong surga dunia” menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Begitulah seharusnya memang kerja seorang pelayan. Mengubah yang buruk jadi jauh lebih baik, memperbaiki yang menghambat jadi melesat cepat.

Kita ketahui bersama pada sepuluh tahun pemerintahan sebelumnya ritual mudik ini jadi tontonan pameran penderitaan rakyat yang disiarkan langsung dari lokasi kejadian, berulang-ulang tiap tahun, oleh televisi kita. Membiarkan rakyat menderita di jalan seolah itu sebagai ujian orang berpuasa. Pemerintah lebih mirip seorang juragan dan rakyat adalah beban.

Mengapa Jokowi bekerja sungguh-sungguh mengubah keburukan yang dibiarkan selama ini menjadi kebaikan bersama untuk kita semua?

Karena Jokowi bergaulnya dengan ulama-ulama dan kyai-kyai yang baik. “Karomah” para ulama dan kyai berilmu tinggi ini menular dalam diri Jokowi. Bagi Jokowi bekerja untuk rakyat itu wujud ibadah kepada Tuhan. Bagi Jokowi, seperti diajarkan para ulama dan kyai, bekerja buat rakyat adalah cara mengagungkan nama Tuhan.

Baca Juga:  3 Jenis Media Ini Perlu Digunakan Dalam Kampanye Pilgub DKI Jakarta

Jokowi tahu kepada siapa ia harus berguru dan bergaul untuk kemaslahatan rakyat banyak di bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini.

Berbeda dengan para politisi yang sebagian sudah pada uzur dan waham. Mereka memilih sowan dan bergandengan tangan dengan seorang yang masih dinyatakan sebagai buronan. Hasilnya, di bulan Ramadan ini, bukannya beribadah dengan khusyu malah gaya mereka makin petentengan yang hobi banget ngajakin ribut. Mereka menjadikan agama dan Tuhan sebagai barang dagangan seperti jualan kaos bertagar. Mereka lebih suka berteriak keras yang memekakkan telinga mirip bunyi klakson mobil murahan.

Ketularan akibat gaul dengan buronan, satu dari mereka konon kabarnya terekam video sedang berhubungan gelap dengan backing vocal-nya usai rekaman sebuah lagu bernada sumbang.

***