Sketsa

Toleransi dengan Telur Rebus Khusus buat Pak Gultom

Perbedaan, Masyarakat, Kehidupan, Toleransi, Headline
Telur rebus (Foto: Tribunnews.com)
Kondisi Indonesia yang secara gradual membaik, menjadi negara masuk dalam 16 negara berkekuatan ekonomi besar dari 180 negara di dunia.

Di hari-hari ramadan seperti ini saya selalu ingat kampung di Tebing Tinggi, Sumut. Kampung itu dihuni berbagai suku dan agama. Walau mayoritas Islam dengan suku Jawa, Mandailing, dan Padang. Ada juga beberapa warga Cina dengan kepercayaannya, Suku Batak dengan kekristenannya. Hidup damai, ada beberapa Masjid dan Mushola serta satu Gereja.

Satu di antara warga ada Pak Gultom kami menyapanya, dia punya usaha penggilingan padi/slep. Agamanya Kristen Advent. Penganut ajaran ini tidak makan daging. Yang saya ingat beliau selalu memilih telur rebus untuk santapan kesehariannya. Orang kampung sampai hapal kebiasaan dan larangan agamanya untuk tidak makan daging merah.

Saat saya di khitan beliau datang, tiba-tiba ibu saya lari ke dapur bertanya kepada yang sedang memasak. Apa ada telur untuk direbus, ada Pak Gultom datang. Kondisi itu mengalir puluhan tahun tanpa ada yang merasa terganggu.

Begitu saling menghargai, padahal Pak Gultom hanya satu orang warga dari ratusan warga kampung yang ada, tapi dia dijaga oleh warga, sampai kepada pantangan makanannya. Kampung itu begitu toleran, guyub, tidak ada yang menguasai kebenaran apalagi surga. Kehidupan warganya terjaga dan aman aman saja.

Sekarang, setelah sekian puluh tahun saya merasakan seperti hidup di dunia lain yang buas tak beradab. Kenapa tiba-tiba begitu banyak orang dengan mudah mencaci maki orang lain. Mencemooh keyakinan orang lain, menghakimi dan terus mencari masalah.

Bahkan, idiologi negara dimasalahkan, bentuk negara akan dikhilafahkan. Grand design siapa yang merancangnya. Di depan mata kepala negara dilecehkan, kerja kerja dicerca, hasil pembangunan diabaikan, karena menabrak kepentingan kelompok yang merampok negara puluhan tahun, pura-pura santun tapi jadi penyamun.

Baca Juga:  Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar

Kondisi Indonesia yang secara gradual membaik, menjadi negara masuk dalam 16 negara berkekuatan ekonomi besar dari 180 negara di dunia. Loncatan kesejajaran ini bukan datang dari langit, tapi Tuhan yang di atas langit mengirim manusia langka.

Jokowi arsitek restorasi Indonesia, maka kita harus menjaganya. Kekuatan pribadinya dia abdikan untuk Indonesia. Sementara yang lain celemotan bicara tak bisa kerja, maksa berkuasa, seperti orang gila yang lupa pakai celana, walau dia pakai sepatu dan kaca mata. Dia tetap gila.

Pak Gultom… semoga telur rebus yang disiapkan ibu saya engkau bawa ke surga, dan amal ibadahnya biarkan Tuhan yang mencatatnya.

***