Gaya

“Para Pencari Tuhan” Hilang Karena “Cuma di Sini”

Deddy Mizwar(Foto: Facebook.com)
Deddy Mizwar(Foto: Facebook.com)
Deddy Mizwar sedang bertarung di Pilkada Jabar 2018. Agar ia kembali ke dunia film secara total, ia harus melupakan dunia politik.

Kita tahu, “Para Pencari Tuhan” selalu nongol tiap bulan Ramadan. Tahun lalu sudah sampai seri ke-11. Sebelas tahun sudah, pada tiap Ramadan PPT hadir mengunjungi pandemennya.

Prestasi luar biasa meski biasa saja secara kualitatif, jika dilihat pada standar kualitas dunia industri hiburan di Indonesia. Dan biasa saja jika kemudian watak industri membuatnya mudah puas, dalam perjalanan pendek atas nama mitos dan legenda.

Mungkin karena Deddy Mizwar sudah cukup puas sebagai Bang Jack. Karena PPT (waktu itu sampai PPT seri 7 dan 8), mampu mengantarnya untuk dilirik Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mendampingi Achmad Heryawan dalam Pilkada Jawa Barat (2013 – 2018).

Namun dari sisi industri hiburan, hal ini juga bisa dilihat soal endurance yang selama ini tak mendapat tempat di Indonesia. Sewaktu saya bekerja sebagai script editor di Prima Entertainment (sebelum akhirnya Leo Sutanto pecah kongsi dengan Sunyoto, dan kemudian mendirikan Sinemart), saya paham kenapa soal endurance tak pernah jadi perhatian, lebih karena watak pragmatisme-nya yang akut.

Pilihan Leo Sutanto untuk fokus pada mini-seri dan ftv, adalah cerdas. Hanya dengan cara itulah, Prima masuk dalam keunggulan komparasi. Dari sana, Leo Sutanto mampu menjungkalkan dominasi raja sinetron Raam Pundjabi, yang waktu itu seng ada lawan dengan MVP-nya.

Namun itu tampaknya hanya strategi bisnis Leo Sutanto untuk hadir. Dia tahu strategi dan efektif. Meski tak pernah berguru pada Rendra, yang menulis buku Cara Bermain Drama, khususnya bab teknis hadir.

Ketika muncul “Cuma Di Sini”, sebagai ganti “Para Pencari Tuhan”, memang cuma di sini (mangsudnya di Indonesia) semua itu terjadi. Hijrahnya Deddy Mizwar dari PPT ke CDS, menunjukkan kualitas sejatinya, yang memang cuma di sini (di Indonesia). Pragmatisme, dan oportunity, mantra dunia industri hiburan kita. Persis dunia politik.

Baca Juga:  Pendaftaran Calon Presiden Ditutup, Ada Potensi Calon Tunggal

Watak dan patrap Deddy Mizwar berhenti dari PPT dan ke CDS, menunjukkan itu. Paralel dengan dulu nerima tawaran PKS, kini nerima tawaran Golkar. Maklum politikus freelance. Ya, memang cuma di sini, di Indonesia, politikus tanpa ideologi politik.

Apalagi dalam CDS formulasi Wahyu HS sebagai penulis skenario, tak beranjak jauh dari PPT. Bahkan dibandingkan karya Deddy Mizwar sebelum PPT, seperti “Kiamat Sudah Dekat” atau pun (film) “Alangkah Lucunya Negeri” ini.

Ya, cuma di sini ada ada tipe politikus macam Deddy Mizwar. Apakah ini artinya kiamat sudah dekat? Sehingga alangkah lucunya negeri ini? Entahlah. Mungkin Deddy sedang menghadapi lorong waktu sebagaimana perannya menjadi Haji Husin. Memang, cuma di sini.

Sebaiknya Deddy Mizwar kalah dalam Pilkada Jabar 2018. Agar ia kembali ke dunia film secara total. Itu pun kalau berani bertarung dengan para sineas muda, yang jauh lebih tangkas dan sakti, meski sering kurang kedalaman.

Tapi rasanya, bagi Deddy itu lebih baik, daripada bermain politik praktis, yang kualitasnya pas-pasan seperti Bang Jack!

***