Fakta

Sekali Lagi, Islam Bukan Teroris, ISIS-lah yang Teroris!

Polisi korban penyerangan terduga teroris di Polda Riau. (Foto: Istimewa)
Polisi korban penyerangan terduga teroris di Polda Riau. (Foto: Istimewa)
Selalu ada upaya untuk memojokkan Islam jika terjadi aksi teroris. Padahal, sejarah mencatat, Islam tidak mengajarkan perilaku teror.

Peristiwa teror bom dengan sasaran tiga gereja Katolik di Kota Surabaya, Minggu, 14 Mei 2018, seperti biasa, selalu dikaitkan dengan ajaran Islam. Apalagi, pelakunya diidentifikasi sebagai anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS.

Ya, Islamic State Iraq and Suriah (ISIS) Indonesia pimpinan Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori. Mereka diadili karena dituduh sebagai teroris. Label sebagai teroris pun disandang pelaku bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo itu. Mereka teroris ISIS.

Pemerintah Indonesia diminta waspada, karena setidaknya ada pengikut ISIS dari Indonesia yang jumlahnya sekitar 500 orang akan pulang ke Indonesia dari Suriah. Mereka itu pengikut ISIS. Sayangnya, ISIS sudah dicap sebagai “Negara Islam”, padahal palsu!

Tugas ISIS untuk merusak citra Islam di mata dunia sudah berakhir. ISIS sudah “dikalahkan” oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Bagi rakyat jelata dan awam mungkin belum tahu siapa sebenarnya yang membuat ISIS. Mbah Google bisa menjelaskannya.

Dalam tulisannya, 16 Mei 2018, Darby Jusbar Salim, NKS Consult, mengungkapkan, sebuah  sebuah Lembaga Keuangan dari Inggris, IHC Inc. melakukan penelitian mendalam tentang sumber-sumber keuangan dari ISIS.

Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori (Foto: Tribunnews.com)
Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori (Foto: Tribunnews.com)

Dari hasil penelitian tersebut memang diperoleh hasil bahwa kelompok ini memiliki sumber dana yang besar. Itu sebabnya mereka mampu membeli persenjataan yang modern. Secara garis besar ada tiga sumber pemasukan yang diperoleh ISIS.

Sumber pertama merupakan pemasukan paling besar, sekitar 50% dari penarikan pajak yang sangat tinggi yang dikutip dari penduduk di daerah-daerah yang dikuasainya. Ini merupakan tindak pemaksaan dan pemerasan terhadap penduduk.

Sumber kedua, sekitar 43% bersumber dari penjualan minyak mentah yang diperolehnya dari wilayah sumber minyak yang didudukinya. Ini merupakan barang jarahan. Menjual di pasar gelap. Dan, pembelinya siapa lagi kalau bukan broker dari negara negara adidaya.

Sumber ketiga, dari hasil penjualan narkoba, dengan daerah pemasaran ke Eropa. Ini menjual barang haram, barang pembunuh manusia. Dari mana mereka mendapatkan pasokan senjata yang modern? Dari para broker senjata negara adidaya.

Jelas, bila melihat hal itu, mereka bukan Islam! Islam mengharamkan memeras penduduk di wilayah yang diduduk. Dan, Islam mengharamkan menjarah barang-barang di daerah yang didudukinya. Islam tentu sangat mengharamkan memperdagangkan obat bius yang menjadi biang pembunuhan manusia secara tidak beradab hanya untuk mencari keuntungan.

Bila demikian halnya, menurut Darby Jusbar Salim, jelas ISIS yang katanya menjadi dalang terorisme, mereka bukan Islam. Jadi, bila ada yang mencoba mengait-ngaitkan ISIS dengan Islam, ini merupakan upaya untuk memojokan Islam dan umat Islam.

Boleh saja gerombolan ini menamakan dirinya Islamic State. Tapi, perilakunya bukan Islam. Mereka bukan Islam! Tidak lebih tidak kurang, mereka sebenarnya gerombolan yang sama seperti gerombolan sindikat pedagang obat bius dan narkoba.

 Sejarah Menulis

Pada 1189, pasukan Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina dari penjajahan pasukan sekutu King Richard I. Sesaat sebelum masuk pintu gerbang Yerussalem, ia berpesan kepada pasukannya untuk hanya melakukan perlawanan kepada pasukan militer saja.

Perintahnya jelas, tak boleh ada yang mengganggu rakyat sipil, wanita, anak-anak, para rahib dan pendeta. Tidak boleh pula merusak rumah, tempat ibadah, bahkan tanaman dan hewan peliharaan. Al Quds pun berhasil dibebaskan. Amanah panglima pun ditunaikan.

Tidak ada satu pun yang tidak diperbolehkan dalam syari’at Islam dalam berperang dilanggar. Bahkan, tangan Shalahuddin Al Ayyubi sendiri mengambil salib yang terjatuh dari altar yang ada di sebuah gereja untuk dikembalikan ke posisi semula.

Pada 1453, Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel bersama dengan pasukannya. Ketika Raja Konstantin takluk, Muhammad Al Fatih dan pasukannya berdiri di depan gereja Hagia Sophia. Lalu, ia turun dari kudanya, shalat dua raka’at di depan gereja Hagia Sophia.

Setelah shalat, Muhammad Al Fatih masuk ke dalam gereja. Melihat para pendeta dan rakyat sipil duduk bersimpuh, Muhammad Al Fatih kemudian memeluk salah seorang pendeta untuk diajaknya berdiri.

Ia berkata: “Berdirilah kalian semua. Kalian semua bebas. Kalian boleh melakukan apa saja sebagaimana manusia merdeka. Beribadahlah sesuai dengan keyakinan kalian. Kami tidak akan mengganggunya. Kini, kalian adalah sama-sama warga negara dengan hak yang sama”.

Ketika kaum Nasrani bersepakat menyerahkan gereja Hagia Sophia, Muhammad Al Fatih menolaknya. Ia berkata, “Tetaplah beribadah di dalamnya. Namun, jika kalian merasa kurang nyaman, ijinkan aku membeli Hagia Sophia. Dan akan aku bangunkan gereja-gereja lain di Istanbul untuk ketenangan ibadah kalian”.

Demikianlah, dalam kondisi berperang sekalipun, syari’at Islam tidak membolehkan terjadi teror terhadap rakyat sipil, tempat ibadah, tokoh agama dan penganutnya, hingga tumbuh-tumbuhan. Bahkan dalam kondisi berperang saja, kezhaliman tidak diperbolehkan.

Dengan demikian, dalam Islam, tidak ada yang namanya pengrusakan terhadap tempat ibadah apalagi dengan menyakiti tokoh agama dan para penganutnya. Maka, kejadian teror terhadap tempat ibadah apa pun di belahan bumi ini adalah sebuah hal yang tercela.

Tidak ada dalam syari’at Islam. Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq mengutuk dengan keras aksi teror yang terjadi di Surabaya, dan kota-kota lainnya di belahan dunia yang merusak tatanan hubungan sosial kemasyarakatan yang baik.

Menurutnya, aksi tersebut adalah aksi adu domba yang dicoba dilakukan untuk memperkeruh suasana hubungan yang harmonis antar umat manusia. Semoga aparat keamanan bisa segera mengungkap motif yang sebenarnya dan menangkap para pelakunya.

Yang kemudian diproses hukum seadil-adilnya demi terciptanya keamanan dan kedamaian di bumi Nusantara, Indonesia. Demikian harapan Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq. Jadi, sekali lagi, catatan sejarah membuktikan, dakwah Islam itu damai tanpa kekerasan!

Kalaupun di Indonesia ada organisasi JAD yang berafiliasi ke ISIS, dan melakukan tindakan seperti teroris, jelas itu bukan perilaku Islam, siapapun orangnya. Sebab, dalam Al-Qur’an itu sudah jelas, ada perintah larangan membunuh, sesuai surat Al-Maidah ayat 32.

Larangan membunuh tanpa haq dan perintah menjaga jiwa manusia. “… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”.

“Dan, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan, sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Baca Juga:  Jangan Pakai Agamaku untuk Alasan Membunuh!

Jadi, kalau ada anggapan ISIS itu Islam, tinggal lihat saja perilakunya, apakah sesuai dengan tuntunan Qur’an atau tidak, sesuai dengan Sunnah Rasulullah atau malah menyimpang. Jika tidak sesuai, janganlah menyebut ISIS itu sebagai gerakan Islam.

Termasuk perilaku bom bunuh diri yang menyebabkan orang lain menjadi korban. Apakah jika benar mereka yang menyerang Polrestabes Surabaya dan Polda Riau itu anggota JAD juga, jelas itu menyimpang dari Qur’an, dan bukan ajaran Islam!

Jadi, bagi yang masih sinis dan berusaha membawa-bawa dan mengaitkannya dengan Islam terkait perilaku teroris selama ini, sebaiknya membaca kembali sejarah Islam seperti yang sudah disinggung di atas. Kuncinya, surat Al-Maidah ayat 32 itu!

Silakan aparat Densus 88 memburu teroris yang meresahkan rakyat. Kita tetap mendukung, hanya jangan sampai salah sasaran! Kalau ISIS dan pengikutnya, silakan buru, sebab mereka memang bukan Islam. Bila perlu, buru saja si pembuat ISIS-nya!

***