Wacana

7 Cara Teroris dan Propagandais Melakukan Cuci Otak

Cuci Otak, Filsafat, Psikologi, Terorisme, Radikalisme, Headline,
Ilustrasi cuci otak (Foto: Piah.com)
Cuci otak adalah upaya terencana untuk membuat orang percaya pada paham tertentu melalui cara-cara yang manipulatif, membunuh sikap kritis dan akal sehat.

Bagaimana memaksa orang melakukan hal yang tak ia inginkan? Jalan pertama adalah dengan tekanan senjata. Namun, hal ini amat rapuh dan sementara, karena mereka akan melakukan dengan setengah hati dan terpaksa. Jalan lain yang lebih ampuh adalah dengan cuci otak. Orang saleh bisa berubah menjadi kaum radikal yang siap membawa bom bunuh diri, karena cuci otak.

Cuci otak adalah upaya terencana untuk membuat orang percaya pada paham tertentu melalui cara-cara yang manipulatif. Cuci otak membunuh sikap kritis, akal sehat dan hati nurani. Ia melahirkan kesetiaan buta terhadap seperangkat ajaran ataupun tokoh tertentu. Bisa dibilang, cuci otak adalah cara tercepat menghasilkan seorang teroris.

Cuci otak juga digunakan di dalam kolonialisme baru yang dimulai setelah perang dunia kedua. Ia menggunakan pola hegemoni, yakni menjajah tanpa perlu pasukan. Pihak yang terjajah pun tidak merasa hidup dalam penjajahan. Bahkan, mereka menikmati penjajahan yang terjadi, karena sudah dicuci otak.

Seluk Beluk Cuci Otak

Ada tujuh hal yang menjadi unsur utama cuci otak.

Pertama, cuci otak dimulai dengan mengulang-ulang sebuah ajaran secara terus menerus. Walaupun ajaran tersebut sesat, namun jika diulang secara berkala, maka akan berubah menjadi sesuatu yang wajar, bahkan masuk akal. Ini kiranya seusuai dengan diktum propaganda Nazi Jerman: kebohongan yang terus diulang akan ditangkap sebagai kebenaran.

Dua, cuci otak terkait erat dengan proses propaganda. Secara sederhana, propaganda adalah upaya untuk mengaitkan paham yang salah dengan sesuatu yang dianggap luhur oleh suatu masyarakat. Misalnya, bom bunuh diri dikaitkan dengan perjuangan membela agama. Dua hal yang amat berbeda dikaitkan, sehingga akhirnya tampak luhur, dan bisa diterima oleh masyarakat luas.

Baca Juga:  Tulisan Babo untuk Pak Jusuf Kalla

Tiga, cuci otak dilakukan dengan mengaitkan ajaran dengan figur otoritas tertentu. Figur ini bisa dalam bentuk tokoh yang dianggap terhormat di masyarakat, baik politisi, pemuka agama atau pebisnis kaya. Di abad 21, Tuhan pun dijadikan figur otoritas untuk melakukan cuci otak. Paham yang merusak dan sesat bisa seolah menjadi benar dan luhur, karena dikaitkan dengan figur-figur semacam ini.

Empat, cuci otak juga semakin manjur, jika ada kelompok yang bisa dijadikan musuh bersama. Inilah logika kambing hitam, sebagai dijelaskan oleh Rene Girard, seorang pemikir Prancis. Kelompok kambing hitam ini dianggap sebagai sumber dari semua masalah yang ada, maka layak untuk diserang dan dihancurkan. Mereka biasanya kelompok minoritas di dalam masyarakat.

Lima, cuci otak juga membutuhkan seperangkat aturan bersama. Aturan tersebut haruslah jelas dan sederhana. Aturan ini menciptakan perasaan senasib dan sepenanggungan di dalam satu organisasi. Dengan ini, para korban cuci otak lalu merasa memiliki “keluarga” yang memiliki nilai-nilai yang sama.

Enam, tujuan utama dari proses cuci otak adalah menciptakan manusia-manusia fanatik terhadap satu paham tertentu. Setelah berhasil, hadirnya kelompok fanatik akan menjaga keutuhan organisasi yang melakukan cuci otak, sekaligus memperluas pengaruhnya. Mereka bisa dianggap sebagai penjaga kemurnian dari ajaran sesat yang ada.

Tujuh, upaya cuci otak juga memerlukan ritual-ritual tertentu, seperti parade, atau festival, yang memperkuat paham sesat mereka. Ritual-ritual ini bertujuan untuk memberikan pengalihan sementara, supaya unsur sesat dari paham yang ada tidak terlihat. Kesesatan yang dirayakan secara meriah dapat dengan mudah berubah menjadi “tampak benar”. Semakin meriah ritual yang dilakukan, semakin besar kesesatan yang disembunyikan.

Melampaui Cuci Otak

Cuci otak amat takut pada sikap kritis, akal sehat dan hati nurani. Sikap kritis adalah sikap untuk mempertanyakan apa yang dianggap sebagai benar di dalam masyarakat. Sikap kritis menuntut pendasaran, supaya bisa menemukan kebenaran yang lebih dalam. Sikap kritis berpijak pada akal sehat dan hati nurani, supaya orang tak mudah tertipu oleh propaganda dan cuci otak yang dilakukan oleh beragam kelompok sesat.

Baca Juga:  Jusuf Kalla Dukung Jokowi di Pilpres 2019 sebagai "Politik Mandi Bersih"

Peran negara dengan beragam institusinya juga penting di dalam memerangi segala bentuk cuci otak. Sikap kritis dan metal berpikir ilmiah amat tepat diterapkan sebagai garda depan di dalam memerangi cuci otak. Ketegasan dan koordinasi cepat berbagai lembaga pemerintahan juga amat diperlukan dalam hal ini.

Jika ditemukan sejak dini, beragam bentuk cuci otak, terutama yang mengarah pada radikalisme dan terorisme, bisa dicegah dengan cukup mudah.

***