Wacana

Percayalah, Jempolmu Bisa Menyuburkan Terorisme

Terorisme, Radikalisme, Media Sosial, Headline, Dukungan, Gerakan
Ilustrasi medsos dan teroris (Foto: Weebly.com)
Simpati pada kelompok teroris berarti bencana bagi kita yang tidak setuju terorisme, dukungan publik memiliki arti besar bagi gerakan melawan terorisme.

Masih ada yang ingin mengatakan bahwa peristiwa pengeboman Minggu pagi di sejumlah gereja di Jawa Timur sebagai drama? Fine… silahkan. Sudah mati rasa hatimu. Mungkin kalian baru akan mengakui bahwa peristiwa kerusuhan dan penyanderaan di Rutan Salemba cabang Kelapa Dua, penusukan sejumlah aparat kepolisian di beberapa tempat, dan terakhir pengeboman di Jawa Timur, merupakan peristiwa nyata, bila itu menimpa teman, sahabat, atau saudaramu sendiri.

Sekalipun demikian, dengan ketulusan hati saya mendoakan tak akan ada lagi peristiwa kekerasan keji seperti ini. Jangan juga terjadi pada kalian, juga pada teman dan saudara kalian yang masih tidak percaya.

Teroris ada di depan mata. Di sebelah kita, bahkan mungkin pernah berdekatan, makan bersama-sama dengan kita. Dan itu bukan hanya urusan Pemerintah, Polisi, TNI, BIN, dan aparat lainnya. Itu urusan saya, urusanmu, urusan kita semua. Hentikan memainkan telunjuk, tunjuk hidung sendiri. Apakah kita sudah berbuat sesuatu?

Ada di antara kita yang mencibir fenomena global Al Qaeda, sampai banyak orang mati karena aksi mereka. Begitu juga ketika diumumkan jaringan-jaringan teroris seperti Al-Jamaah Islamiyah di Indonesia, sampai bom Bali dan bom-bom lainnya meledak di berbagai wilayah, memakan saudara-saudara kita sebagai korban.

Belakangan, bendera ISIS berkibar di berbagai kegiatan di Indonesia. Diremehkan, seolah ISIS tidak berbahaya, bukan merupakan jaringan terorisme.

Sebentar lagi Pilkada, kemudian Pemilu untuk memilih anggota legislatif, bersamaan dengan pemilihan Presiden. Peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan bisa menjadi kunyahan renyah sambil minum kopi yang ditambahkan banyak gula untuk menutup rasa pahit.

Hidup tak berhenti sampai pada tegukan terakhir. Dalam kebanyakan peristiwa kekerasan dan aksi terorisme, korban bukan orang-orang yang bisa menikmati kopi dengan cita rasa. Mereka rakyat biasa, yang mungkin untuk menyambung hidup harus menjual kopi panas dengan sepeda.

Maka sebelum memainkan telunjuk dan jempol untuk mencari siapa yang salah, pahamilah bahwa sampai saat ini aparat keamanan masih menghadapi kendala dalam menangani terorisme karena revisi UU Antiterorisme masih tertunda-tunda di DPR. Permintaan untuk membuat daftar organisasi kemasyarakatan yang tidak sesuai dengan dasar negara, Pancasila, sampai saat ini juga belum dilakukan.

Baca Juga:  Gagalnya Islam Politik Dan Kekecewaan Gerakan 212

Padahal, dengan list organisasi radikal yang bergerak di Indonesia, Polri dimudahkan untuk mendeteksi gerakan terorisme. Lalu isu hak asasi manusia, termasuk ketika pengadilan memutuskan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Ketahui juga bahwa memoderasi ideologi radikal tak hanya harus dilakukan oleh pemerintah, Polri, TNI, BIN, ulama, tokoh masyarakat, tetapi juga oleh kita semua. Dan salah satu yang dapat dilakukan adalah menahan mulut, jari, dan jempol untuk tidak mudah mengeluarkan kata dan komentar.

Simpati pada kelompok teroris berarti bencana bagi kita yang tidak setuju pada gerakan terorisme. Sebaliknya dukungan publik memiliki arti sangat besar bagi gerakan melawan terorisme.

Dengan kedukaan yang amat mendalam untuk korban-korban pemboman yang terjadi di Surabaya, Minggu (12/5), sebuah pertanyaan untukkita renungkan bersama. Siapa yang ingin turut menyuburkan terorisme di Indonesia? Saya tidak termasuk di dalamnya.

***