Fakta

Para Teroris Itu Hendak Merampas Masa Depan Anakmu

Teror, Terorisme, Mako Bromob, Kejahatan, Headline, Keluarga
Dua perempuan terduga teroris (Foto: Tribunnews.com)
Mereka ikut menyebarkan isu dan kebohongan yang menyulut kemarahan. Targetnya agar aksi-aksi teroris berkutnya mendapat pemakluman.

Sejak terjadinya insiden di Mako Brimob, kita sudah bisa memperkirakan bakal ada kejadian susulan. Insiden itu semacam pemantik untuk bergeraknya sel-sel teroris melakukan aksinya.

Teroris yang ada di seputaran Jakarta mendekat ke Mako Brimob, seperti hendak membantu rekannya. Polisi memahami kondisi ini, makanya kemarin para teroris itu langsung dipindahkan ke Nusa Kambangan.

Apa yang diperkirakan terbukti. Para teroris itu mendatangi Mako Brimob, mengincar polisi yang ada di sana. Seorang polisi menjadi korban penusukan dengan pisau beracun. Beberapa orang juga ditangkap di seputar Kelapa Dua, Depok, termasuk dua perempuan yang membawa gunting beracun.

Di Tambun, dua orang teroris ditembak mati, dua lagi ditangkap. Begitu juga di Palembang dan Papua. Mereka semua seperti ada dalam satu komando untuk melakukan aksinya.

Kemarin polisi sengaja menyebarkan video perlakuan sangat manusiawi kepada para binatang itu. Para teroris dengan tangan diborgol disuapi makan. Ini adalah usaha polisi agar sel-sel di luar tidak menjadi lebih brutal.

Bukan apa-apa. Binatang-binatang itu tidak akan pandang bulu. Doktrin mereka adalah menciptakan ladang jihad dan bagi mereka jihad adalah perang dan pertumpahan darah. Jadi mereka memang akan selalu berusaha membuat kekacauan agar tercipta ladang jihad dan dengan itulah mereka merasa bisa menjalankan ‘ibadahnya’.

Di lapangan para eksekutor teroris telah bersiap. Di udara, mereka memelintir isu agar umat Islam lain terbakar. Macam-macam isu yang disebarkan. Ada yang bilang polisi melecehkan para tahanan wanita atau istri-istri yang hendak membesuk hingga tahanan teroris itu marah.

Ada yang sebar hoax polisi melecehkan kitab suci. Ada yang bicara polisi menelanjangi para pembesuk. Ini semua untuk membangkitkan kemarahan umat Islam dan seperti menjadi legitimasi para barbar itu bertindak lebih jauh.

Apa target dari isu-isu itu? Ini sebagai persiapan untuk meledakkan kerusuhan yang lebih besar lagi. Emosi publik diaduk-aduk dengan berbagai isu bohong lalu para eksekutor lapangan siap beraksi.

Lihat saja teman-temanmu, siapa yang ikut-ikutan menjadi pemandu sorak para teroris itu. Atau perhatikan komentar politisi, siapa yang mau memanfaatkan situasi untuk mengeruk keuntungan politis. Mereka ikut menyebarkan isu dan kebohongan yang menyulut kemarahan. Targetnya agar aksi-aksi teroris berkutnya mendapat pemakluman.

Baca Juga:  Hati-hati, Pelaku Teror Bom Bunuh Diri Sudah Libatkan Keluarga!

Ada beberapa kemungkinan, Pertama mereka memang bagian dari kaki tangan teroris. Kedua, mereka tidak berkait langsung dengan jaringan teroris tetapi secara ideologi sangat dekat. Biasanya para penganut Wahabi dan fariannya.

Ketiga, itu disebabkan karena kebodohan belaka. Keempat, ada yang sok berdiri di tengah dan menganalisa agar dianggap pejuang HAM.

Kelima, ini yang paling memuakkan, para politisi tanpa prestasi yang selalu ereksi mau merebut kekuasaan. Seharusnya mereka ikut bertanggungjawab terhadap keamanan bangsa ini. Tapi, lihat saja komen mereka, seolah malah membela aksi-aksi itu.

Di tangan mereka revisi UU antiteroris terganjal. Ini salah satu persoalan yang membuat pihak keamanan tidak bisa melakukan tindakan preventif. Akibatnya yang jadi korban adalah rakyat. Sebab tindakan baru bisa diambil setelah terjadi peristiwa. Setelah nyawa berjatuhan. Setelah darah memuncrat.

Politisi sejenis ini adalah burung bangkai yang menikmati sajian di atas jenazah para korban terorisme.

Kesemuanya ini memang memuakkan. Sebab langsung atau tidak langsung, merekalah yang ikut memuluskan niat para barbar itu membuat kekacauan lagi.

Terbukti, Surabaya dirundung duka. Ledakan demi ledakan terjadi.

Targetnya untuk menjadikan Indonesia seperti Suriah atau Libya.

Untuk kondisi ini, kita tidak bisa lagi berdiri di tengah. Kita harus mengambil sikap dan menentukan posisi kita. Cuma ada dua jenis manusia di Indonesia sekarang: para pembenci teroris atau para simpatisan dan pendukungnya.

Jika Anda mengaku bagian dari NKRI tidak ada jalan lain kecuali bergandengan tangan dan bersama-sama menghadapi para bigot barbar itu. Bukan hanya para eksekutor lapangannya, tapi juga pemandu soraknya yang berkeliaran di media sosial.

Demi masa depan kita. Demi masa depan anak-anak kita. Aktiflah menghalau semua kegilaan mereka.

Jangan jadikan kesabaranmu sebagai alasan untuk bersikap pengecut. Musuh kita jelas, para teroris di lapangan dan para pemandu soraknya di media sosial.

Mereka adalah perampas masa depan anak-anakmu!

***