Sketsa

Tentang Jaran Goyang dengan Nella Kharisma yang Fenomenal Itu

Jaran Goyang, Dangdut Koplo, Nella Kharisma, Youtube, Kebudayaan, Headline, Seni
Nella Kharisma (Foto: Okezone.com)
Jaran lebih dekat pada seni tradisional Jaranan yang berasal dari Nganjuk dan asal mula para pendukung pemain musik pendukung Nella Kharisma.

Saya terlambat nulis dua hari, karena tepat 26 April lalu tepat setahun dirilisnya sebuah video clip fenomenal di Youtube. Sedemikian fenomenal karena, sejak direlease setahun lalu, clip tersebut telah ditonton sebanyak 163 juta dan terus bertambah setiap hari. Juta, bukan lagi ribu!

Seingat saya, bahkan di Asia sekalipun tak ada lagu sefenomenal ini. Saya gak akan ikut-ikutan berhitung berapa duit yang diberikan Youtube, sebagai cara baru cari duit di hari gini. Tapi lebih mengapresiasinya sebagai sebuah fenomena sosial-budaya, karena tampaknya tak akan ada lagi sementara ini, ada videoclip yang pernah ditonton sebanyak itu.

Lagu ini memang “absurd” seabsurd reaksi publik, yang kadang berlebihan. Sebenarnya, kalau kita runut ke belakang lirik lagu dangdut koplo, memang banyak yang nyleneh, tapi Jaran Goyang sekalipun juga bersifat anti-tesis sebenarnya hanya lagu lucu-lucuan. Lagu yang diciptakan Andi Mbendol, jelas ini nama yang juga sangat main-main dan sembrono. Karena nama aslinya adalah Rizky Andi Putra, anak Jogja yang sebelumnya tergabung dalam kelompok hiphop Jawa bernama Repstamasta.

Ini merupakan gelombang besar hihhop lokal, yang melanya tergabung dalam gerakan Jogja Hiphop Foundation yang diinisisasi Marzuki Muhammad. Daripadanya kemudian, berkembang dalam hip hop dangdut yang sebenarnya nyaris sama sekali beda dengan dangdut koplo.

Dangdut koplo sendiri sebenarnya penyederhanaan istilah (namun malah pengembangan seni-seni kendangan tradisional yang banyak terdapat di daerah). Ia tidak sekedar berirama dang dan dut saja, tapi telah berkembang dalam irama yang makin dipercanggih. Ini hal yang selalu lepas dari amatan para penggemar. Apa juga pentingnya buat mereka, toh yang penting goyang!

Dalam konteks ini pulalah, video clip itu bisa sangat berhasil. Kenapa? Sang penyanyi Nella Kharisma dengan celana hot pants dan kaos Yukense berumbai (mungkin aslinya: You Can See). Walau dengan goyangan yang sangat minimalis, ia bisa membuat lautan manusia ikut sakauw bergerak berirama mengikuti alunan kendang. Clip yang diambil secara live ini, juga selalu lebih berhasil menarik minat penggemar dangdut yang rata-rata kalau bila bikin video clip beneran malah jatuh jadi super norak!

Nella Kharisma sependek ingatan saya, justru baru pada tampilan video kali ini tampak terlalu “terbuka”, biasanya ia sangat casual dan feminim dengan baju-rok yang sangat sopan. Mungkin hal ini juga kejelian si produsen, yang jitu memaknai kata goyang-nya daripada jaran-nya. Dua kata yang sebenarnya perkawinan dua kata yang tidak nyambung.

Jaran sendiri sebenarnya, lebih dekat pada seni tradisional Jaranan yang berasal dari Nganjuk dan asal mula para pendukung pemain musik pendukung Nella Kharisma. Seni Jaranan sejatinya sama saja dengan Kuda Lumping, Jaran Kepang, Jathilan, yang di berbagai daerah di Jawa memiliki bentuk yang berbeda-beda namun dengan muara yang sama: pemujaan atau penghormatan terhadap makhluk yang bernama kuda.

Kuda dalam khazanah tradisi Jawa memang hewan yang paling banyak memiliki nama berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Orang Jawa masa lalu, akan sangat hapal dengan karakter kuda berdasarkan ciri kepala, leher, dada, ekor, kaki, dan seterusnya untuk merujuk mana kuda yang paling cocok untuk dirinya. Ia dihormati sebagai binatang yang paling setia, dan salah satu lambang kesempurnaan laki-laki Jawa. Karena itu kuda dalam khazanah budaya Jawa sering diberi nama-nama yang indah seperti Bramakandali, Bandana, Daramangunta, Kalakapipit, dan sebagainya.

Bagian paling sering salah dipahami dari lagu Jaran Goyang adalah ia dianggap sebagai salah satu jenis ajian pengasihan. Satu cara mistis untuk menaklukan lawan jenis!

Sedemikian sensitifnya publik, terutama kalangan agamawan sehingga membuat lagu kontra-lirik dengan nama yang sama tapi mengajak shalawatan. Padahal mau dicari sampai ke ujung dunia manapun, tak ada yang namanya ajian jaran goyang, yang dikenal luas adalah Ajian Jaran Penoleh. Ini memang salah satu jenis cara mistis yang berasal dari daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di sana ada petilasan punden berupa makam kuda.

Setelah terjadi kesepakatan tri-partit dengan si setan dan sang makelar juru kunci, biasanya si pencari kekayaan, pada malam-malam tertentu untuk memperoleh kekayaannya, ia akan masuk ke kamar khusus. Biasanya di Malam Jumat Kliwon. Ia akan semalaman bertingkat seperti kuda, ia akan semalaman kerasukan “setan kuda”. Ia akan meringkik-ringkik, menjejak-jejakkan kakinya, melompat-lompat, hingga kelelahan sampai pagi harinya.

Ketika terbangun, konon ia akan mendapatkan upah kekayaan di hadapannya. Hal ini akan secara rutin dilakukannya, sampai ia tidak kuat lagi bersikap sebagai kuda. Ia akan mati dengan kepala menoleh ke belakang, seperti saat seekor kuda sedang giras, sedang galak tak bersahabat menuntut dijinakkan.

Artinya judul Jaran Goyang sama sekali hanya ungkapan lucu-lucuan, si jaran itu ya si artis yang asyik menggoyang-goyangkan bokongnya itu!

Baca Juga:  Fenomena Penyanyi Nella Kharisma dan Via Vallen

Lagu lengkap dengan video-clip-nya Jaran Goyang adalah sebuah penanda zaman. Bisa saja, pusat kekuasaan itu memproduksi isu politik, sosial, agama, atau apapun. Tapi kita harus segera sadar bahwa di daerah-lah, selera dan jiwa sejati masyarakat sesungguhnya dibentuk.

Hal ini juga berkaitan dengan pemimpin negara, boleh saja Jakarta mempertontonkan para pemimpin-pemimpin yang dipoles dengan berbagai kosmetik populis. Tapi sebenarnyalah, dari daerah-lah mereka akan terus menerus muncul, pun demikian pula pikiran baik, gagasan besar, teladan-teladan mulia.

Mangkanya jangan suka gumunan (heran), kagetan, atau dumeh (mentang-mentang) terhadap segala hal yang berbau Pusat atau Ibukota!

****