Sketsa

Relawan Progo Khofifah-Emil Gebrak Budaya Ponorogo

Harun dan Sugiri mewakili Khofifah dalam Wayangan di Ponorogo (Foto: Mochamad Toha).
Harun dan Sugiri mewakili Khofifah dalam Wayangan di Ponorogo (Foto: Mochamad Toha).
Khofifah menunjukkan kepeduliannya terhadap budaya. Buktinya, walaupun tidak hadir langsung, wayangan tetap berlangsung di situs Bantarangin, Ponorogo.

Kawasan Mataraman seperti Ponogoro mendapat hiburan kembali dari Relawan Progo yang diketuai Harun Al Rasyid dan dimotori Sugiri Sancoko. Untuk kesekian kalinya masyarakat Mataraman disapa dan dihibur paslon Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto.

Meski tak hadir secara langsung disebabkan banyaknya titik kegiatan yang harus dikunjungi, Khofifah menunjukkan kepeduliannya pada pelestarian dan pengembangan budaya kesenian yang tumbuh di Mataraman.

Pada Sabtu malam, 5 Mei 2018, warga yang tinggal di seputaran situs Bantarangin dihibur dengan wayangan. Menurut Harun Al Rasyid, Bantar Angin menjadi venue pilihan karena sebagai situs Kerajaan Ponorogo dan sekaligus cikal bakal kesenian Reog Ponorogo.

Khofifah menunjukkan kepeduliannya terhadap budaya. Menurut Sugiri Sancoko yang juga tokoh Ponorogo, ini adalah bukti Khofifah mbudayani. “Tidak sekedar slogan dan angan saja. Walaupun secara fisik tidak hadir tapi kecintaannya hadir,” lanjutnya, Minggu (6/5/2018).

Ia mengatakan, Bantarangin menjadi venue pilihan. Karena di Bantarangin diyakini situs Kerajaan Ponorogo. DDi Bantarangin ini lah Reog semakin mendunia. Reog lahir juga di Bantarangin. Dan Khofifah paham tentang itu,” katanya.

Harun Al Rasyid menambahkan, Khofifah sangat paham hal ini, makanya sebagai bukti rasa cinta kasihnya kepada masyarakat Ponorogo, ia menempatkan kegiatan di tempat yang tepat dan sangat bersejarah ini.

“Ibu Khofifah titip salam pada masyarakat Bantarangin, tidak bisa hadir langsung karena banyaknya titik kunjungan yang harus dihadiri, di Pasuruan dan Surabaya, yaitu pembukaan posko dan menghadiri undangan Konsulat Maroko sampai tengah malam.

“Salam penuh kasih sayang dititipkan oleh Bu Khofifah. Semoga masyarakat bersukacita menikmati tontonan ini,” pungkas Harun Al Rasyid.

Sejarah Reog Ponorogo

Dalam sejarahnya, Ponorogo pernah dipimpin oleh Raja Bantar Angin yang bergelar Prabu Kelana Sewandana. Ia jatuh cinta kepada putri dari Kerajaan Kediri yang bernama Dyah Ayu Dewi Songgolangit.

Karena api cinta yang tidak bisa dipadamkan, Prabu Kelana Sewandana kemudian mengutus Patihnya, Pujonggo Anom atau yang lebih dikenal dengan Bujang Ganong, untuk melamar Dyah Ayu Dewi Songgolangit.

Baca Juga:  Cara Cerdik Anies Nikmati "Me Time" Saat Sambut Jokowi

Dalam perjalanan menuju ke Kerajaan Kediri, Bujang Ganong dihadang oleh Singo Barong (seorang raja dari segala harimau yang menjaga tapal batas Kerajaan Kediri). Singo Barong, orang yang berbadan manusia tetapi berkepala harimau.

Prabu Singo Barong mendapat perintah dari Raja Kediri untuk memeriksa atau melarang siapapun tanpa seijin sang Raja masuk ke wilayah Kerajaan Kediri. Saat perjalanan Bujang Ganong terpaksa berhenti di perbatasan Kerajaan Kediri karena dihadang Singo Barong.

Perang mulut antara keduanya sulit dihindari sehingga memuncak menjadi perang fisik. Karena kesaktian dan keperkasaan Singo Barong, Patih Bujang Ganong bisa dikalahkan dan bertekuk lutut di kaki Singo Barong.

Kemudian Singo Barong menyuruh Bujang Ganong pulang ke Kerajaan Bantar Angin dan melaporkan kekalahannya. Sesampainya di kerajaan Bantar Angin, Bujang Ganong langsung menghadap Prabu Kelana Sewandana.

Mendengar kekalahan dan ketidak berhasilan utusannya, Prabu Kelana Sewandana langsung marah dan memerintahkan Bujang Ganong untuk segera mengerahkan segala kekuatan bala tentaranya untuk menyerang Singo Barong dan Kerajaan Kediri.

Prabu Kelana Sewandana akan menghancurkan Kediri apabila Dyah Ayu Dewi Songgolangit menolak lamarannya. Dalam perjalanan, Prabu Kelana Sewandana diiringi suara bendedan Gong yang riuh sekali dengan maksud untuk memberi semangat kepada prajuritnya.

Seperti perjalanan sebelumnya, setelah sampai di tapal batas Kerajaan Kediri, pasukan Bantar Angin dihadang oleh Singo Barong dan bala tentaranya. Akhirnya peranngpun terjadi dengan dahsyatnya.

Ternyata kekuatan dan kesaktian bala tentara Singo Barong sangat sulit dikalahkan prajurit Bantar Angin, sehingga Prabu Kelana Sewandana harus turun tangan sendiri. Adu kesaktian antara Prabu Kelana Sewandana dan Singo Barong berlangsung seru dan mengagumkan.

Keduanya sangat sakti mandraguna dan saling serang. Prabu Kelana Sewandana sangat terpaksa mengeluarkan pusaka andalannya, yaitu Cemethi Samandiman. Dengan sekali cambuk Singo Barong langsung lumpuh kehilangan kekuatannya.

Baca Juga:  Drama Penyelamatan Remaja yang Terperangkap dalam Gua Mematikan

Singo Barong menyatakan dan mengakui kekalahannya dan takhluk kepada Prabu Kelana Sewandana. Prabu Kelana Sewandana tidak keberatan menerima takhlukan Singo Barong asalkan mau menunjukkan jalan menuju ke Kerajaan Kediri dan membantu mewujudkan cita-cita Prabu Kelana Sewandana.

Dua pasukan itu bergabung di bawah pimpinan Singo barong dan Bujang Ganong menuju kerajaan Kediri. Tanpa perlawanan yang berarti, pasukan Kerajaan Kediri bisa dikalahkan oleh Pasukan Prabu Kelana Sewandana.

Akhirnya Prabu Kelana Sewandana berhasil mempersunting Putri Kediri Dyah Ayu Dewi Songgolangit. Untuk memperingati perjalanan dan kemenangan Prabu Kelana Sewandana ini diciptakanlah suatu kesenian yang dikenal dengan REOG

Mengutip tulisan Fauzi Andi Finzaqi berjudul “Sejarah Tari Reog Ponorogo Versi Bantar”, leegenda kesenian reog ini merupakan sindiran atau satire sekaligus mempunyai makna simbolis yang timbul pada masa Raja Bre Kertabumi, yaitu raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Hal ini berawal dari menyingkirnya penasehat kerajaan yang bernama Ki Ageng Ketut Suryo Alam dari Istana Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menganggap Prabu Bre Kertabumi telah menyimpang dari tatanan moral kerajaan.

Penyimpangan moral inilah yang dinilai awal dari kehancuran Majapahit, di mana kebijakan politik Majapahit waktu itu banyak dipengaruhi oleh permaisuri sehingga banyak kebijakan, peraturan Raja yang tidak benar.

Ki Ageng Ketut Suryo Alam menyingkir ke suatu daerah di selatan, yang bernama Kutu, desa kecil yang masuk wilayah Wengker. Kemudian Ki Ageng Ketut Alam mendirikan sebuah padepokan yang mengajarkan sikap seorang prajurit dan kesatria yang gagah dan perkasa.

Seorang prajurit harus taat kepada kerajaan dan sakti. Untuk menempuh tujuan tersebut Ki Ageng Ketut Suryo Alam atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Ki Demang Kutu melarang muridnya berhubungan dengan wanita (wadat).

Menurut kepercayaanya, barang siapa melanggar ajaran tersebut, kekuatan atau kesaktinnya akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Untuk itulah murid-muridnya harus tinggal di padepokannya.

Baca Juga:  Unsur Pendidikan Jatim Harus Netral dalam Hadapi Pilkada Jatim 2018

Kepemimpinan dan padepokan Ki Ageng Kutu cepat menyebar dan popular ke beberapa daerah lainnya. Di dalam padepokan tersebut, Ki Ageng Kutu merenung dan berpikir, bagaimana strategi untuk melawan Majapahit yang dianggapnya meyimpang.

Dalam perenungannya muncul pendapat bahwa peperangan bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, sehingga diciptakanlah sebuah perlawanan secara psikologis dengan membuat kritikan lewat media kesenian.

Sebuah drama tari yang menggambarkan keadaan kerajaan Majapahit, dan oleh Ki Ageng Kutu disebut REOG. Ki Ageng Kutu sebagai tokoh warok yang dikelilingi para muridnya menggambarkan fungsi dan peranan sesepuh masih tetap diperlukan dan harus diperhatikan.

Pelaku dalam Drama tari tersebut adalah Singo Barong yang mengenakan bulu merak di atas kepalanya menunjukkan kecongkakan atau kesombongan sang Raja, yang selalu diganggu kecantikan permaisurinya dalam menentukan kebijakan kerajaan.

Penari kuda atau Jathilan yang diperankan oleh seorang laki-laki yang lemah gemulai dan berdandan seperti wanita menggambarkan hilangnya sifat keprajuritan Kerajaan Majapahit.

Tarian penunggang kuda yang aneh tersebut menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan, ketidak-disiplinan prajurit terhadap rajanya, namun raja berusaha mengembalikan kewibawaannya kepada rakyat yang digambarkan dengan penari kuda (Jathilan) berputar-putarnya mengelilingi Sang Raja.

Seorang pujangga kerajaan digambarkan oleh Bujang Ganong yang memili wajah berwarna merah, mata melotot dan berhidung panjang menggambarkan orang bijaksana, bernalar panjang tetapi tidak digubris oleh Raja sehingga harus menyingkir dari kerajaan.

Setelah Ki Ageng Kutu meninggal, kesenian ini diteruskan oleh Ki Ageng Mirah pada masa Bathoro Katong (Bupati pertama Ponorogo) hingga sekarang. Oleh Ki Ageng Mirah cerita yang berlatar belakang sindiran tersebut digantikan dengan cerita Panji.

Kemudian dimasukkan pula tokoh-tokoh panji seperti Prabu Kelana Sewandana dan Dewi Songgolangit yang menggambarkan peperangan antara Kerajaan Kediri dan Bantar Angin. Dan, kali ini Relawan Progo Khofifah – Emil mengingatkan kembali sejarah tersebut.

***