Fakta

Gus Ipul Masih Didukung Kyai, Ulama, dan Habib se-Malang Raya

Kyai, Dukungan, Saufullah Yusuf, Puti Guntur, Pilgub Jatim 2018, Headline, Pilkada, Politik
Gus Ipul bersama pemuka agama di Malang (Foto: Beritalima.com)
Pasangan calon Gubernur Jatim Gus Ipul – Puti Guntur bisa menang di Malang Raya jika parpol pengusung dan pendukung keduanya masih tetap solid.

Kabar dari Malang Raya menyebutkan, para Kiai, Ulama, dan Habib kompak mendukung dan akan memenangkan paslon Gubernur – Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno pada Pilkada Jatim 2018 nanti.

Malang Raya meliputi Kota-Kabupaten Malang dan Kota Batu. Mengutip Beritalima.com, dukungan ini mereka sampaikan di sela-sela “Milad ke-51 dan Temu Alumni Haul KH Mohammad Said” di pesantren Darunnajah, Ngijo, Karangploso, Malang.

“Saya mendukung 100 persen, Gus Ipul ini dicalonkan Kiai, orangnya baik jadi para santri dan alumni monggo mendukung Gus Ipul,” kata Habib Agil Baagil. Selain para santri dan alumni, ia juga minta seluruh warga Malang Raya mendukung dan memenangkan Gus Ipul.

Hal yang sama diungkapkan Habib Jakfar Bin Utsman Al Jufri. Pemilik majelis Sholawat JMC ini mengatakan, jika ingin Jawa Timur makmur maka Gus Ipul harus jadi gubernur. “Gus Ipul calon nomer dua, kabeh Sedulur, kabeh makmur,” kata Habib Jakfar.

Pada kesempatan ini hadir pula KH Achmad Muchtar Ghozali, pengasuh pesantren Darunnajah, Karangploso; KH Agus Ali Masyhuri, pengasuh pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo; KH Idris Hamid, pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan.

Hadir juga sejumlah Kiai dan Habaib lainnya. Acara yang digelar di pelataran pesantren Darunnajah, Ngijo, Karangploso, Malang ini setidaknya dihadiri ribuan santri, alumni dan masyarakat sekitar.

Mengacu pada perolehan suara hasil Pemilu 2014 Provinsi Jatim suaranya bisa dilihat data berikut: 1. PKB dengan 3.730.357 (19,10 %) suara; 2. PDIP 3.695. 393 (18,92 %) suara; 3. Gerindra 2.475.730 (12,68 %) suara; 4. Demokrat 2.354.205 (12,06 %) suara;

5. Golkar 1.826.575 (9,35 %) suara; 6. PAN 1.211.194 (6,20 %) suara; 7. PPP 1.208.275 (6,19 %) suara; 8. PKS 992.640 (5,08 %) suara; 9. NasDem 975.707 (5,00 %) suara; 10. Hanura 730.765 (3,74 %) suara; 11. PBB 221.951 (1,14 %) suara; 12. PKPI 105.017 (0,54%) suara.

Sebaran pemenangnya, PKB di 16 kabupaten-kota: Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, Trenggalek, Jombang, Kabupaten Madiun, Bojonegoro, Tuban, Gresik, Lamongan, Pamekasan, dan Sumenep.

Baca Juga:  Trumpkim Summit, Pertemuan Bersejarah AS-Korut

PDIP urutan kedua menang di 16 kabupaten-kota: Surabaya, Kota Probolinggo, Banyuwangi, Lumajang, Kota Malang, Kabupaten Malang, Batu, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Tulungagung, Magetan, Ngawi, Kota Madiun, Kota-Kabupaten Mojokerto.

Melihat realita politik tersebut, jelas sekali, perolehan dukungan untuk paslon Gus Ipul – Puti Guntur pada Pilkada Jatim 2018 di Malang Raya sangat bergantung pada PDIP yang menang di Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu.

Pemungutan suara Pileg 2014 mencatatkan, warga pemilih di Kota Malang yang sempat dua kali pemilu sebelumnya hijrah ke Demokrat, kembali ke kandang banteng, PDIP. Perolehan suaranya berhasil mengantarkan 12 caleg PDIP ke kursi dewan.

Di posisi kedua PKB dengan 6 kursi, Golkar dan Demokrat masing-masing 5 kursi, PAN dan Gerindra masing-masing 4 kursi. Tiga partai meraih 3 kursi masing-masing PPP, Hanura) dan PKS. Sedangkan NasDem meraih 1 kursi. Dua partai tak meraih, PKPI dan PBB.

Dari 12 kursi PDIP yang diperoleh, 6 diantaranya ditempati incumbent (petahana). Sementara jumlah wakil rakyat dari PDIP pada periode sebelumnya, hanya 9 orang. Sementara itu PKB juga memperoleh dukungan lebih baik dibanding Pileg 2009.

Hal itu lebih karena sebagai lanjutan kepercayaan masyarakat Kota Malang atas keterpilihan  Mochamad Anton sebagai Walikota Malang 2013-2018. Apalagi, setelah Anton pindan dari Gerindra dan terpilih sebagai Ketua DPC PKB Kota Malang 2014-2019.

Terpilihnya Anton dengan mantan Ketua DPC PKB Kota Malang Setiaji sebagai Walikota dan Wakil Walikota, mendongkrak perolehan suara PKB. Namun, sejak Anton ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, tentunya juga bisa berpengaruh nantinya.

PDIP saat itu secara nasional sedang naik daun dan dimanjakan media massa, apalagi pasca Joko Widodo alias Jokowi sudah disetujui Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri  untuk diusung jadi bakal calon presiden 2014.

Namun, banyak yang memprediksi hal itu tidak akan berpengaruh karena sudah banyak yang tahu bahwa Jokowi moncer lebih karena iklan media dan blusukan yang secara substansi itu bukanlah prestasi, dan di Kota Malang basis setia Pro-Mega dan Projo.

Tapi, saat itu dalam konteks Kota, PDIP sudah dalam kondisi kacau sejak Pemecatan Ketua DPC PDIP (Peni Suparto). Delapan kader yang paling potensial PDIP Kota Malang bersama ribuan massanya ikut di barisan Peni dan kelihatannya akan jadi sandungan bagi PDIP kota.

Baca Juga:  Lirik Lagu Iwan Fals yang Bertenaga, Semoga Kau Tak Tuli, Tuhan...

Bila selama 10 tahun PDIP kota memiliki sel gerakan yang kuat dan didukung dana yang besar dari kadernya yang Walikota Batu Edy Rumpoko (Ketua DPC sementara saat itu) tak mungkin all out membesarkan PDIP Kota Malang.

Karena Edy akan lebih sibuk di Batu sebagai Walikota dan cukup sudah ikut “babak-belur” dalam Pilkada kala itu. Apalagi, seperti halnya Anton, Edy juga dicomot KPK terkait kasus korupsi saat menjadi Walikota Batu.

Tentunya, hal itu juga akan berpengaruh pada perolehan suara pendukung PDIP di Kota Batu pada Pilkada Jatim 2018 nanti. Karena, baik Anton maupun Edy tentunya akan lebih fokus pada kasus korupsi yang membelitnya.

Kalau pada Pileg 2014 Anton bisa menyokong dana besar dan menggerakkan semua SKPD dan 57 Lurah se-Kota Malang untuk memenangkan partainya (PKB), hal ini akan sulit Anton lakukan dalam Pilkada Jatim 2018 nanti.

Kekuasaan di manapun cenderung demikian. Dan birokrasi umumnya yang suka carimuka akan sangat senang hati memberikan sumbangan atribut dan tenaga untuk mendukung Anton yang mewakili parpol penguasa (PKB).

Malang Raya, termasuk kawasan dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Terdiri dari Kota Batu – Malang Kota – Malang Kabupaten total jumlah penduduknya lebih dari 3,5   juta jiwa.

Penduduk Malang Raya menyamai bahkan melampaui jumlah populasi satu Provinsi tertentu. Dalam Pileg 2014 Malang Raya (Dapil Jatim V) terdapat 8 Kursi DPR-RI yang diperebutkan, 9 kursi DPRD Provinsi.

Ada baiknya juga membandingkan perolehan hasil Pileg sebelumnya (2009-2004) DPRD II di Malang Raya. Kabupaten Malang (dengan penduduk -+ 2,4juta jiwa – 50 Kursi Legislatif)
Pileg 2009 Kabupaten Malang tetap dirajai oleh PDIP (13 Kursi).

Disusul oleh Demokrat, PKB, dan Golkar masing-masing 8 kursi. Kemudian, PKS-Hanura masing-masing 4 kursi, Gerindra 3 kursi, dan PPP dan PKNU masing-masing 1 kursi. Dua periode Demokrat sangat menguasai namun tidak juga mampu menggeser dominasi PDIP.

Baca Juga:  Surat Terbuka Kepada Bapak KH Said Aqil Siradj

Kota Malang (jumlah Kursi Legislatif 45). Pada Pileg 2009-2014, Kota Malang dimenangkan oleh Demokrat 12 kursi, diikuti oleh PDIP 9 kursi, PKB-Golkar-PKS masing-masing 5 kursi, PAN 4 Kursi, Gerindra 2 kursi, sementara Hanura-PKPB-PDS masing-masing 1 Kursi.

Kota Batu (penduduk -+210 ribu jiwa kursi DPRD 25). Pada Pileg Batu, PDIP meraih kursi terbanyak yaitu 5 kursi, disusul Golkar-PAN-Hanura-Demokrat masing-masing 3 kursi, PIB 2 kursi dan PNI Marhaenisme-BARNAS-PKS-PKNU-Patriot-PKPB masing – masing 1 kursi.

Peta tersebut memberikan kesan betapa masyarakat Batu tidak fanatik pada kekuatan tertentu, stabil dan cenderung cuek. Kemenangan parpol/caleg pada Pileg 2014 di Malang Raya sangat ditentukan: elektabilitas parpol secara nasional, pengaruh tokoh lokal, kekuatan dana, strategi caleg, dan infrastruktur parpol.

Jika semua itu bisa dipenuhi oleh parpol pengusung dan pendukung Gus Ipul – Puti Guntur , niscaya bisa mengalahkan paslon Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto pada Pilkada Jatim 2018 mendatang untuk Malang Raya.

Gus Ipul – Puti Guntur tak boleh hanya mengandalkan kekuatan para kiai, ulama, dan habib yang kompak mendukung mereka di Malang Raya. Sebab, Malang Raya saat Pileg 2014 lalu masih dikuasai parpol berbasis nasionalis (PDIP).

Pertarungan yang agak berat nanti tentu saja di Kabupaten Malang. Sebab ada Bupati Malang Rendra Kresna yang sebelumnya menjabat Ketua DPD Golkar Kabupaten Malang sejak 2004 hingga 2016.

Selama di Golkar, Rendra pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang sejak 1997. Dan pada 2005-2010 menjadi Wakil Bupati Malang. Setelah itu, pada 2010-2015 terpilih menjadi bupati Malang untuk periode pertama.

Rendra Kresna terpilih lagi menjadi Bupati Malang untuk periode kedua (2016-2021) dengan Wakilnya Sanusi. Saat Pilkada Serentak 2015, Rendra mendapatkan dukungan dari 9 parpol, yaitu Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PKB, PPP, PKS, NasDem, dan Hanura.

Sejak 14 Agustus 2016, Rendra resmi hengkang dari Golkar ke NasDem dan dilantik menjadi Ketua DPW NasDem Jatim oleh Ketua Umum DPP NasDem Surya Paloh. Melihat jejak dari Rendra, Gus Ipul – Puti Guntur harus berjuang lebih keras di Kabupaten Malang.

***