Gaya

Berbagi Ilmu Menulis (4): “Storytelling” yang Terus Menggelinding

Pelatihan, Menulis, Storytelling, Papua, Freeport Indonesia, Headline, Teknik Penulisan
Saya dan Hendrik Wakum (Foto: Istimewa)
Menulis dengan gaya bertutur bukan barang baru, di Eropa dan AS bahkan harian pun biasa menggunakan model bercerita ini. Media sosial memicu Storytelling.

Seorang lelaki Papua datang menghampiri. Perawakannya besar, tetapi tidak terlalu tinggi. Mengulurkan tangan mengajak salaman. “Saya Hendrik,” katanya. Saya menerima uluran tangannya, menyalaminya juga. “Boleh saya ngobrol sebentar?”

“Tentu saja,” jawab saya. Tidak mengajaknya duduk, tetapi tetap berdiri. Hendrik yang saya lihat putera asli Papua ini kemudian bercerita bahwa ia pernah menelusur Trans Siberia menggunakan kereta api di udara yang beku. Dia menunjukkan album foto-foto yang tampak menarik. “Sudahkah Pak Hendrik tulis perjalanan ke Siberia itu dalam sebuah catatan?”

“Itulah,” jawabnya, “Saya ndak tahu harus mulai dari mana!?”

Percakapan di atas adalah khas, situasi yang kerap saya hadapi seusai berbagi pengetahuan dan pengalaman menulis kepada peserta, termasuk pelatihan menulis untuk karyawan Freeport Indonesia di Papua beberapa waktu lalu. Rata-rata pertanyaannya hampir sama; “Dari mana memulainya?”, “Bagaimana memulainya?” “Bagaimana harus memulainya?” atau “Apa yang harus saya ceritakan?”

Saya mengajak Hendrik untuk ke luar ruangan tempat pelatihan dilakukan, di sebuah ruangan di Hotel Rimba Papua, biar agak tenang.

“Bisakah Pak Hendrik menceritakan perjalan ke Trans Siberia kepada saya melalui foto-foto itu?” Saya menunjuk album berisi foto-foto perjalannya.

“Tentu,” sambarnya. “Tapi, maksudnya apa ini?”

“Menulislah sebagaimana Pak Hendrik bercerita kepada saya!”

Hendrik terdiam. Beberapa saat kemudian dia tertawa lebar. “Oh, jadi itu prinsip ‘Storytelling’ yang tadi Kang Pepih sampaikan itu?”

Saya mengangguk, “Ya, prinsipnya seperti itu. Sesederhana itu. Tetapi tentu saja ada sejumlah teknik lanjutan bagaimana menulis ‘storytelling’ yang menonjolkan dramatisasi. Belum bisa saya lanjutkan hari ini, perlu waktu yang tidak sedikit.”

Storytelling sedang naik daun. Gaya bercerita ini dipicu oleh merebaknya media sosial yang menampung tulisan warga. Blessing, warga yang tidak paham ilmu menulis -apalagi ilmu jurnalistik- menuliskan pikiran dan perasaannya dengan gaya sendiri; bercerita. Status-status penuh cerita heroisme, dramatis, klimaks, resolusi, dan seterusnya, yang semua itu menjadi unsur penting dari sebuah “storytelling”.

Baca Juga:  Ahokers Dipaksa "Move On", Anies-Sandiaga Malah "Step Back"

Jika kemudian media arus utama (mainstream) tidak mengikuti arus besar gaya penulisan bertutur ini, itu namanya kebangetan, merendahkan “creative writing” seperti gaya penulisan novel.

Alhasil, saya selalu mengompori peserta pelatihan menulis; ikutilah tren!

Tren yang bagaimana dulu? Tentu tren yang baik; baik buat kita, bermanfaat buat orang lain. Dalam dunia kepenulisan dan tetek-bengek teknik menulis, “Storytelling” memang sedang naik daun, sedang menemukan momentumnya, meski di dunia barat koran keren semacam The Asia Wall Street Journal dan majalah Le Figaro yang selalu menjadi rujukan saya, menggunakan gaya bercerita ini, bahkan untuk berita faktual.

Apa momentumnya itu? Sekali lagi saya katakan; media sosial!

Ya, di mana-mana orang tersambung ke media sosial. Anda mau menyebut Facebook, Instagram, Twitter atau bahkan WA, tidak ada yang keliru, itulah media kolaboratif bernama media sosial.

Ah ya sampai lupa menjelaskan, apa itu “Storytelling”? Tidak usah buka kamus dan menghapalkan definisinya. “Storytelling” itu ya “bercerita”, peristiwa atau kisah yang diceritakan sebagaimana orang bertutur kata, bercerita di depan khalayak, atau bahkan bercerita kepada seseorang.

“Storytelling” bukan barang baru. Dulu orangtua sering bercerita kepada anak-anaknya mengenai kisah para nabi, dongeng, fabel, dan kisah perjalanan hidup si orangtua sendiri atau leluhurnya yang hebat-hebat. Ketika orangtua itu bercerita, dia adalah “Storyteller”, sedang kisah yang dituturkannya itu bernama “Storytelling”.

Kapan “Storytelling” lahir dalam konteks penulisan? Jawaban saya sederhana, selagi cerita pendek atau novel sudah mulai dikenal, ditulis dan dibaca orang, sejak saat itulah “Storyrelling” lahir. Kalau mau merujuk ke kisah masa lalu, kalau Nabi Adam dan Siti Hawa bercerita kepada anak-cucu-cicitnya, setua itulah “Storyteller” ada.

Baca Juga:  Indepreneur Pintar Memanfaatkan Internet, Indipreneur Tidak Selalu

Apakah gaya “Storytelling” itu bisa untuk menulis berita? Pasti akan saya jawab, “Bisa!!!”

Sewaktu masih bekerja di Harian Kompas dan kemudian melahirkan Kompasiana, saya sudah punya pikiran nakal yang tidak biasa, “out of the box” orang bilang, anti mainstream, atau apalah istilahnya. Misalnya saya pernah mengusulkan dalam rapat, “Bisakah berita utama (Headline) Kompas ditulis dengan gaya storytelling?”

Tahu sendirlah, usulan nakal saya tidak mungkin akan diadopsi, apalagi diimplementasikan, jangan-jangan malah menjadi bahan tertawaan. Ya, iyalah, masak iya berita tajuk utama di halaman muka berisi kisah peristiwa yang disampaikan para jurnalis dengan menggunakan teknik bercerita “orang pertama”, bukan “orang ketiga” sebagaimana lazimnya sebuah berita.

Yang saya maksud dengan “orang pertama” itu si penutur dalam hal ini si penulis, menggunakan kata “saya”, “aku”, atau paling moderat “kami” (mengatasnamakan lembaga) dalam menulis berita. Saya pikir mengapa tidak!? Bukankah dengan cara ini membuat berita tidak kering, garing dan malas untuk dibaca?

Kenapa? Sebab pembacanya seolah-olah mendengar cerita atas sebuah peristiwa yang dituturkan si wartawannya! Nah, ada keintiman di situ, ada kedekatan yang hangat antara penulis/pelapor dan pembaca.

Juga jangan salah. “The Asia Wall Street Journal”, “Le Fifaro” dan “Newsweek” saya dulu wajib saya baca, menggunakan teknik “Storytelling”. Majalah “Pantau” yang kini sudah tiada, juga menggunakan penulisan gaya bertutur kata ini.

Ini pengalaman saja, ketika berita yang sifatnya “straight news” tabu dimasuki (atau diracuni), saya putar otak menggunakan “Storytelling” ini saat saya membuat sosok atau “Feature” news yang lebih longgar. Saya menempatkan diri sebagai pelapor yang menceritakan kisah, orang atau peristiwa yang saya laporkan. Dan lolos!

Tetapi itu tadi, pikiran saya selalu “out of the box”, mengapa hal itu tidak bisa diaplikasikan dalam penulisan berita-berita “straight news”? Bukankah tidak ada aturan yang dilanggar dalam hal ini?

Baca Juga:  Gubernur Rasa Presiden

Okay, ketika sebuah ide nyeleneh tidak diterima, itu biasa dalam pergaulan dan organisasi, jangan diambil hati. Yang jelas, jika orang tidak mau makan ide kita, ya kita makan sendiri saja ide itu. Itu sebabnya saya mengaplikasikan gaya “Storytelling” di media baru yang sedang saya bangun sebagai sebuah eksperimen, yaitu artikel, opini, bahkan berita menggunakan teknik “Storytelling”.

Karena ternyata “Storytelling” juga sedang menjadi tren sebagaimana dilakukan Dahlan Iskan dalam setiap tulisan-tulisannya, saya tidak perlu berterori-teori lagi, karena “Storytelling” sudah menjadi keseharian saya dalam menulis.

Kalaupun saya harus berbagi ilmu (sharing) tentang teknik menulis “Storytelling” sebagaimana yang saya sampaikan kepada anak-anak muda pesantran penggiat media Nahdlatul Ulama beberapa hari lalu di Puncak, Bogor (lihat foto piagam penghargaan), saya tetap menyiapkan diri dan meng-update materi yang akan saya sampaikan, khususnya dengan contoh-contoh mutakhir dan kekinian.

Demikian juga untuk pelatihan menulis “Storytelling” bagi para wartawan lingkup PWI (bekerjasama dengan Pertamina) di Bali dan Pekanbaru pekan-pekan mendatang, saya sudah menyiapkan amunisi untuk keperluan itu.

“Write it Right!”

(Bersambung)

***

Berbagi Ilmu Menulis (3): Aliecia dan Karya Tulis Dramatisnya