Gaya

Berbagi Ilmu Menulis (3): Aliecia dan Karya Tulis Dramatisnya

Mengajar, Menulis, Papua, Storutelling, Freeport Indonesia, Novita Aliecia Mandibondibo
Saya dan Aliecia (Foto: Karel Luntungan)
Pada dasarnya semua orang bisa menulis, tetapi tidak tahu apa yang harus mereka tulis. Ketika sudah menulis, mereka kurang paham bagaimana cara memulainya.

“Saya Aliecia. Bisakah Pak Pepih membaca ini, sekilas saja!”

Seorang perempuan berbusana motif bunga-bunga menyodorkan secarik kertas. Bukan perempuan biasa. Maksudnya, bukan seperti perempuan kebanyakan Indonesia. Wajahnya Eropa banget. Bule blas dengan rambut yang rapet, menempel lekat di kepala. Aksen bicaranya mirip Cinta Laura di tivi-tivi hiburan, sedikit menyihir saya. Di atas secarik kertas itu tertulis sebuah karangan hasil karyanya berupa tulisan tangan, karangan wajib yang saya minta sebagai tugas penulisan.

Agak mengutuki usia yang terus merambat senja tatkala harus mencari-cari “John Lennon” saya di dalam saku tas. Rupanya kacamata customize berbentuk dua jengkol bulat yang saya pesan khusus dari optik “Cahaya” di Jalan Palmerah itu bersembunyi di dasar saku Zara. Beberaoa detik kemudian kacamata +2 (baca: plus dua) yang membedakannya dengan kacamata jengkolnya Lennon yang hitam itu sudah mencangklong di atas hidung. Dunia di depan saya mendadak terang-benderang. Saya mulai membacanya. Aliecia tentu maklum dengan usia saya. Sialan!

Saya mulai membacanya santai dalam hati, sementara Aliecia menunggu dengan harap-harap cemas seperti peserta American Idols menunggu keputusan Simon Cowell. Ah, saya tidak pandai memuji tulisan orang. Sebaliknya, sangat mahir mencela karya orang. Demi kebaikan. Juga saya tidak mau mengambil hati Aliecia dengan memuji tulisannya. Aliecia boleh jadi tahu betapa bengisnya saya. Bengis sebagai pengajar menulis, lebih bengis dari Cowell saat mencela penyanyi.

“Seharusnya kamu memulai tulisanmu dengan peristiwa paling dramatis yang kamu alami, baru nanti kamu gunakan ‘flashback’ dengan menelusur peristiwa ke belakang,” kata saya tetap memegang tulisannya yang menggunakan potlot itu, sementara tatapan beralah ke Aliecia. Pipinya jadi seperti kepiting goreng. Dia tersenyum, tapi kelihatan malah senang mendengar “vonis” saya.

Ah ya, sebenanarnya apa sih yang diceritakan Aliecia lewat tulisan tangan berdasarkan pengalaman dramatisnya itu, tulisan dengan pembatasan waktu cuma 10 menit itu?

Baca Juga:  Jilbab di Antara Agama dan Budaya

Baiklah, demi “fairness”, saya sedikit menceritakan tulisan apa yang Aliecia hasilkan dalam waktu 10 menit yang saya berikan kepada semua peserta pelatihan menulis yang diikuti 25-30 karyawan PT Freeport Indonesia di Hotel Rimba Papua, Timika, beberapa waktu lalu itu.

Aliecia membuka tulisan dengan salah satu dari “9 teknik membuka tulisan” yang sebelumnya saya sampaikan, yaitu membuka tulisan dengan “percakapan”. Bukan percakapan biasa, tetapi percakapan yang hidup, vivid conversation, saya istilahkan sendiri seperti itu. Percakapan ini diharapkan bisa membentot perhatian pembaca, sebuah teknik yang lumrah dalam penulisan creative writing, khususnya cerita pendek.

Percakapan terjadi antara Aliecia, yang mendapuk dirinya sebagai “orang pertama” (yang berarti dirinya terlibat dalam cerita) dengan seorang temannya yang mengingatkannya, “Aliecia, sebaiknya kamu jangan pergi sendirian melewati daerah berbahaya itu, meski kamu mengendarai mobilmu.” Aliecia masih menimpali peringatan temannya itu dan ia menjamin dirinya bisa selamat sampai tempat yang dituju, tanpa gangguan gerembolan pengacau. “Percayalah, saya bisa mengatasinya,” demikian kira-kira jawaban Aliecia.

Tentu saja konteks cerita berdasarkan pengalamannya itu tidak jauh-jauh dari tempat kerjanya di Tembagapura yang masih rawan penyergapan dan penyanderaan kelompok separatis. Menjadi menarik dan tentu saja penuh drama jika Aliecia menaruh drama paling mencekam yang merupakan adegan paling menarik dari pengalaman yang ditulisnya itu saat mobilnya dihentikan paksa oleh orang-orang bersenjata. Seharusnya adegan yang dinaikkan ke atas.

Suasana mencekam antara-hidup dan mati itulah yang saya minta untuk dinaikkan ke atas sebagai pembuka tulisan, yaitu membuka tulisan menggunakan Aksi alias “Action”, yang membutuhkan pertimbangan pikiran jernih atau nekat. Cuma dua pilihan itu saja.

Berpikir jernih, berarti ia akan mati konyol jika menyerah begitu saja. Harta, nyawa, dan badannya yang maaf, semok itu, hanya akan menjadi pesta pora kaum penyergap yang teridentifikasi sebagai gerembolan yang dulu bernama OPM, yang masih beroperasi di Temabagapura. Nekat, tentu saja ia harus mempertimbangkan hal terburuk yang mungkin ia alami; mati!

Baca Juga:  Terkait Ketua DPR Yang Baru, Ini Kata Fahri Hamzah

Dan tahu apa keputusannya? Aliecia menginjak gas mobilnya dalam-dalam setelah beberapa gerombolan mengitarinya dengan senjata teracung, tidak peduli apakah ada salah seorang gerombolan terserempet atau lemparan senjata tajam menghujam ke arah mobilnya yang melaju kencang. Kejernihan berpikirnya mengajarkan, ia mengerahkan keberanian untuk menyelamatkan satu-satunya nyawa yang ia miliki dengan cara melarikan diri.

Dan… “Simon Cowell” pun mulai beraksi. Saya langsung menghamburkan kata-kata tajam, tanpa basa-basi. “Sebaiknya kamu membuka tulisan dengan hal yang paling dramatis yang boleh jadi membuatmu hampir mati, itu akan menyihir pembaca saat pertama kali membaca tulisanmu. Untuk tulisan sependek ini, jangan kamu gunakan kronologis seperti proses adanya manusia; lahir, hidup, lalu mati. Kelamaan. Tonjok saja kesadaran pembaca dengan cerita paling dramatis yang kamu punya, paham!?”

Pipi Aliecia tidak semerah kepiting goreng lagi. Ia serius sekali mendengar ceramah saya. Memangnya cuma Ustad Abdul Somad dan Aa Gym saja yang bica ceramah. Ia sadar tulisannya kurang berkenan buat saya. “Jujur, ini tulisan pertama tentang pengalaman pribadi yang aku buat,” katanya serius, ada nada membela diri. Saya langsung menimpali, “It’s not bad, teruskan saja kamu menulis. Apa saja bisa kamu tulis, termasuk pengalamanmu yang paling berkesan, bahkan mengerikan!”

Aliecia puas. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badannya saat bersamalan. Kelihatannya dia tidak tersinggung karyanya saya kritik habis.

Belakangan, hasil investigasi kecil-kecialan yang saya lakukan, saya tahu perempuan itu bernama lengkap Novita Aliecia Mandibondibo. Lahir di Biak, Papua, dari seorang perempuan asing dan ayah lokal. Ia menghabiskan masa remajanya di Bandung. Pada tahun 2008 kembali ke Papua dan mulai bekerja di PT Freeport Indonesia sebagai admin di Divisi Produksi.

Baca Juga:  Neraka 40 jam di Tengah Laut, Detik-detik Tenggelamnya Tampomas II

Pada kesempatan makan malam sehabis presentasi sharing teknik penulisan “Storytelling” itu, Aliecia hadir menemani tim. Suasana sudah mulai akrab dan cair. Bahkan secara tidak terduga ia mulai menyebut saya “Kang Pepih”, yang berarti dia memposisikan diri sebagai orang yang pernah lama tinggal di Bandung atau tahu saya kalau saya juga sama-sama orang Barat seperti Aliecia, tapi Jawa Barat, sehingga sapaan akrab “Kang” sudah mulai terdengar.

“Kurang ajar”-nya, bahkan beberapa kali Aliecia memaksa –bukan meminta lagi– saya bernyanyi dengan iringan organ tunggal di sebuah Restoran ternama di Timika itu. “Saya ga bisa nyanyi, Aliecia,” tampik saya, “Penonton pada lari kalau saya nyanyi.” Dia masih ngotot, “Ah, tapi suara Kang Pepih bagus kok!”

Wahhhh…. bahaya juga kalau saya berlama-lama di Papua ini!

Saya kemudian mengatakan kepadanya kalau saya mau menulis cerita tentang pengalaman mengajar menulis di Papua, termasuk membahas tentang karya karyawanya dalam menulis. Dan Aliecia mulai berwajah tegang dan serius. “Kalau sampai kisah saya ditulis dan dimuat, itu akan membunuhku,” katanya dalam Inggris. Serius.

Saya paham, bagi Aliecia apa yang diceritakannya tidak untuk dipublikasikan, meskipun PT Freeport Indonesia mendorong karyawannya bisa bercerita mengenai lingkungan kerjanya di media sosial. Mengungkapkan pengalaman mengerikan disergap gerombolan akan berati mengabarkan kepada dunia bahwa Papua masih genting, lebih-lebih diceritakan langsung oleh pelaku yang tidak lain karyawan PT Freeport sendiri. Dalam konteks “code of condutc”, ia berarti sudah membocorkan “rahasia perusahaan”. Saya paham itu.

“Tapi Aliecia, saya diundang ke sini (Papua) jauh-jauh dari Jakarta bukan mengajari kamu untuk TIDAK MENULIS, justru saya hadir di sini untuk mengajari kamu dan karyawan PT Freeport lainnya MENULIS,” kata saya.

Aliecia terdiam.

Dan, itulah perjumpaan terakhir saya dengannya. Dengan Aliecia.

(Bersambung)

***

Berbagi Ilmu Menulis (2): Mengajar Teknik Penulisan di Atap Papua