Gaya

Berbagi Ilmu Menulis (2): Mengajar Teknik Penulisan di Atap Papua

Self Potrait
Self Potrait
Setelah pensiun dari Harian Kompas semula ingin saya gunakan sebagai "the art of doing nothing" di kampung, tetapi undangan mengajar menulis terus mengalir.

Kebiasaan saya membuat presentasi teknik menulis, khususnya mengenai media, jurnalistik, jurnalisme warga, media sosial, “creative writing” dan “storytelling”, meski tidak diminta siapapun ternyata sangat berguna di kemudian hari di kala saya sudah pensiun dari pekerjaan sebagai wartawan Harian Kompas.

Pengalaman yang saya dapatkan di lapangan saat meliput dan referensi yang saya baca dari berbagai buku, saya “ringkas” dalam bentuk “slide” minimal power point polos biar tidak lupa, lalu saya masukkan ke dalam satu file. Ini mengulang kebiasaan lama semasa kuliah di mana usai membaca satu buku, saya mencatat resume-nya dalam sebuah catatan harian, bahkan tatkala saya membaca sebuah novel. Bedanya, sekarang saya mencatatnya dalam bentuk power point.

Jika ada waktu luang, saya menambahkan gambar yang mendukung teks dan jika saya membaca buku baru dengan tema yang sama tetapi sifatnya memperkaya, saya masukkan ke dalam file yang sama.

Alhasil, catatan pribadi dalam bentuk power point yang saya tabung sedikit demi sedikit itu menjadi semacam buku referensi dalam bentuk padat dan ringkas. Inilah “kekayaan” saya yang ternyata sangat bermanfaat setelah saya memutuskan pensiun dari sebuah harian terkemuka di Indonesia, Kompas.

Materi itulah yang saya sampaikan di berbagai tempat dengan pengayaan sesuai khalayak dari korporasi yang saya hadapi, tentu dengan contoh mutakhir yang disesuaikan dengan peristiwa kekinian. Pernah suatu waktu ada beberapa rekan yang secara instan ingin mengkopi materi power point yang saya punya, saya tidak menolaknya, tetapi saya katakan, “Ga enaklah membagi catatan harian yang sifatnya pribadi karena masih sangat mentah, masih berupa catatan dan oret-oretan.”

Sebenarnya saya cuma ingin mengatakan, “menjadi” itu tidak bisa dilakukan secara instan, butuh proses, waktu dan jam terbang. Butuh ketangguhan dan percaya diri tinggi bahwa apa yang kelak diberikan bisa dipertanggungjawabkan baik secara sosial bahkan secara moral. Modal sosial penting, tetapi apa yang saya lakukan ini lebih menyerupai “modal personal” di mana saya sudah melakukannya justru saat kedudukan dan pendapatan yang baik saat bekerja di Harian Kompas sebagai jurnalis masih dalam genggaman.

Bahwa pikiran dan pengalaman saya tentang jurnalisme dan menulis memang saya tuangkan ke dalam 5 buku yang saya tulis, itu benar. Tetapi, materi yang saya cicil dalam berbagai bentuk tampilan itu ternyata jauh lebih banyak dan menjadi semacam deposito yang sangat berharga. Temanya tidak jauh-jauh dari dunia jurnalisme dengan teknik menulis di dalamnya. Sesekali bacaan filsafat juga saya bikinkan dalam bentuk power point-nya.

Cakupannya sangat luas, mulai dari teknik membuka dan memulai tulisan, melahirkan ide, menulis berita (news story), menulis cerita (short story), menulis feature news (story telling), menulis pers rilis untuk humas korporasi, menulis materi iklan (copy writing), menyunting (editing), sampai menerbitkan buku (publishing).

Baca Juga:  Tentang "Rock Balancing" Yang oleh Segelintir Umat Dianggap Syirik Itu

Semua tersedia dalam deposit dan menjadi “kekayaan” saya sekarang ini, yang sangat bermanfaat bahkan untuk eksistensi diri saya terkait “personal branding” yang melekat dalam diri saya. Soalnya, keahlian saya juga sering dimanfaatkan untuk penjurian lomba penulisan sampai menjadi pembicara dalam berbagai Forum Discussion Group (FGD) berbagai korporasi dan kementrian.

Pepih Nugraha di depan Mi-171
Pepih Nugraha di depan Mi-171

Satu yang tidak terbayangkan, tatkala memutuskan untuk pensiun dini setelah 26 tahun bekerja di harian ternama itu adalah seringnya saya diundang berbagai institusi dan korporasi untuk mengajar semua hal terkait media dan bagaimana cara mengisi media itu dengan konten yang bermanfaat buat pembaca, tidak peduli apakah itu untuk blog, media baru seperti media sosial, maupun media arus utama. Padahal, seusai pensiun saya diniatkan untuk mengurus PepNews saja, sebuah media alternatif yang saya urus sepenuh hati dengan penuh minat, cinta dan passion.

Bagaimana dengan Selasar di mana saya juga menjadi co-founder di sana. Tentu saja masih menjadi milik saya juga, meski dalam bentuk saham sekitar 15 persen lagi dan CEO kini beralih ke tangan Ahmad Zaky, boss Bukalapak, setelah Miftah Sabri menyatakan akan menggeluti dunia politik dalam arti sesungguhnya. Saya sendiri meminta izin untuk mengelola PepNews. Bukan berarti Selasar bubar. Saya yakin di tangan CEO bertangan dingin, Selasar akan semakin melesat.

Kembali ke Papua. Ketika berada di Bandara Mozes Kilangin untuk menunggu kedatangan helikopter Mi-171 yang akan membawa saya terbang dari Timika ke Tembagapura, saya sudah siapkan materi yang akan saya sampaikan, bahkan saya sampaikan sebelumnya kepada panitia agar materi itu bisa dibagikan kepada peserta sebagai pedoman nantinya. Ini semacam tanggung jawab sosial saya di mana mereka bisa menggunakan materi itu sebagai panduan menulis sekaligus menggugah terus-menerus bagaimana mereka memulai menulis.

Melanjutkan catatan perjalanan saya ke Timika lanjut ke Tembagapura, saya beruntung berkesempatan menikmati perjalanan udara menggunakan helikopter Mi-171. Penerbangan menggunakan heli buatan Rusia berkapasitas 24 penumpang plus pilot dan co-pilot itu hanya memakan waktu 30 menit, tetapi ketakutannya sebelum, saat mengudara dan setelah mendarat, masih belum hilang.

Tidak bisa dipungkiri, semakin merayapnya usia mendekati senja ketakutan dalam diri tumbuh semakin besar. Dulu asyik-asyik saja naik heli, sekarang ada kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu, misalnya bagaimana kalau capung besi raksasa ini tiba-tiba mati mesin, patah baling-baling, atau disergap cuaca buruk yang datang tiba-tiba.

Sebenarnya bukan yang pertama kali saya naik helikoter, ini yang keempat atau kelima di mana pengalaman pertama saat mengunjungi Sanggau Ledo yang dilanda konflik horisontal tahun 1997. Saat itu saya menaiki heli kecil yang hanya berpenumpang empat orang. Juga saat saya mengunjungi Devil’s Island di Kourou tahun 2005, pulau jajahan Perancis yang menempel dengan Brasil dan terakhir terbang dengan Super Puma buatan Perancis saat tsunami Aceh 2006 lalu. Duabelas tahun kemudian saya menaiki heli lagi.

Baca Juga:  Kuburan Bisu yang Bercerita Banyak [Pulau Galang 4]

Terbang dengan heli itu sungguh sangat tergantung cuaca. Karyawan Freeport Indonesia yang akan mengunjungi tempat kerja di Tembagapura dari Timika akan lekas sampai tujuan jika udara bagus. Helikopter yang dikemudikan pilot asing itu harus bolak-balik bahkan sampai 7 rit. Tetapi kalau cuaca tidak bersahabat, maka perjalanan menggunakan bus tahan peluru bercat oranye khusus pegunungan terjal tidak dapat dihindarkan. Bedanya waktu tempuh kurang lebih 3 jam sampai tujuan.

“Berdoa saja biar cuaca bagus,” kata Meliana Mitapo, staf corporate communication Freeport. Maksudnya biar saya dan rombongan dapat menggunakan heli. Ternyata cuaca sangat cerah dan saya bisa menggunakan “chopper” di rit yang kedua pada pagi yang sangat cerah, ketika matahari muncul dari balik pegunungan. Dalam hati, ada bangganya juga mengajar menulis sampai menggunakan fasilitas helikopter segala, asyiiikkk….!!!

Dari ketinggian, saya ingin segera menyentuh landasan helipad bertuliskan “H” yang sudah terlihat dari angkasa, tetapi pilot masih saja bermanuver. “H” bukan berarti “Hayo turun” loh ya, tetapi itu memang landasan untuk heli. Setelah heli mendarat dengan sempurna, barulah saya tahu “Heliport” di ketinggian 2.000 dpl Tembagapura itu bernama Aing Bugin.

Saya merasa berada di sebuah kawasan yang “bukan Indonesia”, terkait dengan banyaknya tenaga kerja asing, khususnya Amerika yang mondar-mandir di Tembagapura, juga kendaraan yang tidak saya lihat keberadaannya di Jakarta atau Pulau Jawa. Saya harus menunggu mobil 4WD yang akan membawa saya tempat di mana saya akan mengajar menulis bagi 30-an karyawan Freeport yang berbasis di Tembagapura ini.

Akhirnya saya sampai ke Guest House di mana hari pertama saya mengajar menulis dilakukan. Kepada mereka, saya sudah siap berbagi pengalaman mengenai “basic instinct” yang harus dimiliki siapa saja yang berkhidmat dan berniat untuk menulis, sebuah kemampuan dasar jurnalis untuk membedakan sebuah peristiwa bernilai berita atau tidak (news value), trik mengatasi hambatan menulis, melahirkan ide kreatif, sampai cara menuliskannya dengan berbagai teknik, salah satunya “storytelling”.

Sedangkan untuk teknik “storytelling” dasar, saya sudah siapkan modul bagaimana mereka menggunakan “orang pertama” dan menggunakan “orang ketiga” sebagai tokoh yang keduanya biasa digunakan dalam “creative writing” seperti menulis cerita pendek atau novel, sedangkan “orang ketiga” khusus digunakan untuk membuat berita “straight” saja. Sedikit saya sampaikan bahwa “storytelling” yang di Amerika sana bernama “Literary Journalism” diadopsi di Indonesia dengan nama “Jurnalisme Sastrawi”.

Baca Juga:  Mendadak Filsafat, dari Sutan Takdir Alisjahbana ke Rocky Gerung

Saya merasa bekal untuk mereka, dalam hal ini karyawan Freeport, yang saya siapkan sampai 60-an slide itu cukuplah, yang penting adalah penjelasan yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari mereka sebagai pekerja tambang dapat mereka cerna. Sebagai contoh, salah satu peserta adalah seorang dokter bernama Ummu. Tentu saja dia bekerja di semacam Puskesmas untuk melayani baik karyawan Freeport maupun penduduk lokal.

Dengan menggali pengalaman dr. Ummu selama menjalankan pekerjaannya saja saya mendapatkan banyak hal untuk bisa ditulis. Misalnya bagaimana penduduk lokal yang berobat tidak bisa membedakan huruf “t” dengan “s”. Jadi kata “sakit” mereka ucapkan “takis”. Juga konsep seminggu dalam benak mereka adalah “tiga hari” dan seterusnya. “Saya bingung apa yang harus saya tulis?” tanyanya dan dengen enteng saya jawab, “Ya tulislah pengalaman Ibu Dokter selama berinteraksi dengan pasien khususnya penduduk lokal.”

Selfi di kabin heli menuju Tembagapura (Foto: Pepih Nugraha)
Selfi di kabin heli menuju Tembagapura (Foto: Pepih Nugraha)

Lalu saya perkenalkan bagaimana seorang penulis harus memiliki konsep “beginer’s mind” dan “outsider sense” yang kalau saya jelaskan di sini terlalu berpanjang-lebar nantinya. Tetapi intinya dr. Ummu paham, termasuk saat dia menceritakan bahwa yang ia tangani kebanyakan penyakit “ATM”, yaitu Aids, Tubercolose, Malaria”. Saya bilang, “Bu, ATM di sini beda ya dengan ATM di Jakarta di mana orang bisa menyedot uang.”

Dr. Ummu menanggapinya dengan tertawa, mungkin dia baru menyadarinya. Apakah saya harus menulis tentang pekerjaan sehari-hari itu, apa menariknya?” tanyanya lagi. Saya langsung jawab, “Itulah gunanya ibu memiliki cara pandang ‘beginers mind’ dan ‘outsider sense’ dan berpikirlah selalu bahwa tulisan itu bermanfaat buat orang lain.”

Begitulah cara saya menyampaikan materi yang seuai dengan pengalaman mereka, tidak lain menggali pekerjaan mereka sehari-hari, lalu bagaimana mereka manangkap ide dan menuliskannya.

Riza Pratama, Vice President Cotporate Communication PT Freeport dan Achmad Aridanto, Ecxecutie Vice President HRD, memperkaya penyampaian “proximity” saat menjelaskan “Alifbata” Freeport sebagai perusahaan ternama dan berbagai persoalan serta peluang di dalamnya. Sambutan kedua pejabat di perusahaan tambang ini saya simak baik-baik agar saya memperoleh “scope” tentang Freeport dan Papua saat menyampaikan materi, juga paparan seorang rekan dari MediaWave mengenai media sosial dan vlogger Fahmi.

Kenapa harus saya bela-belain mendengarkan paparan semua pembicara, toh mereka bukan atasan saya dan saya juga bukan karyawan Freeport yang berkepentingan mendengarkannya?

Selain untuk memperoleh “scope” tadi, saya akan mengambil semua contoh berdasarkan “proximity” atau kedekatan dengan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, dalam kehidupan dan terutama dalam pekerjaan.

(Bersambung)

***

Berbagi Ilmu Menulis (1): Mati Gaya Cara Papua Akibat Telkomsel Sekarat