Wacana

Sebokek-bokeknya Prabowo, Tetaplah Ia Punya Kekuatan Logistik

Prabowo Subianto, Logistik, Dana, Pilpres 2018, Calon Presiden, Headline
Hashim Djojohadikusumo (Foto: Forbes.com)
Seorang pengusaha besar kalau ingin mendukung salah satu presiden tentu yang berpeluang menang, bukan calon yang punya potensi besar kalah.

La Nyalla Mattaliti dulu pernah marah-marah kepada Prabowo Subianto karena sebagai kader partai tidak kunjung mendapat mandat atau restu dari partai untuk menjadi calon gubernur dalam pilkada di Jawa Timur. Malah dimintai mahar kalau ingin menjadi calon gubernur dan tidak tanggung-tanggung jumlahnya puluhan milyar.

Dan Deddy Mizwar yang juga pernah digadang-gadang jadi calon gubernur dari Gerindra waktu itu juga pernah mengatakan, “Prabowo lagi bokek.”

Bagaimana sebenarnya kondisi kekuatan Prabowo Subianto, baik kekuatan atau kesehatan fisik, kekuatan atau kesehatan kantong atau logistik dan kekuatan jaringan dalam menuju Pilpres 2019 sebagai calon presiden?

Kalau dari segi kesehatan fisik,mungkin Prabowo masih sehat dan layak menjadi calon presiden, buktinya dalam Rakornas Gerindra malam-malam Prabowo bertelanjang dada sebagai bukti bahwa ia masih sehat dan bugar, tidak terkena stroke, seperti rumor yang sempat  mencuat.

Bahkan kesehatan Prabowo seperti presiden Putin yang sempat juga bertelanjang dada. Fadli Zon pernah menantang kepada Presiden Joko Widodo untuk bertelanjang dada seperti Prabowo Subianto. Entah apa korelasi atau hubungan bertelanjang dada dengan kesehatan atau maskulin. Tetapi yang jelas Pak Jokowi menolak tantangan itu karena dia hanya mau bertelanjang dada khusus di depan Ibu Iriana saja.

Kalau dari kesehatan kantong dan logistik, Prabowo Subianto tidak seperti pada Pilpres 2014, di mana kekuatan atau kesehatan keuangan dan logistik berlimpah dan mengalir. Buktinya Prabowo jauh-jauh hari sebelum Pilpres 2014 sudah mengiklankan dirinya di media televisi yang sehari bisa sepuluh kali tampil di beberapa iklan televisi.

Selama hampir setahun lebih Prabowo mengiklankan dirinya dengan jargon Rajawali terbang tinggi dan Harimau sebagai simbol untuk mengembalikan kekuatan Indonesia supaya disegani oleh negara luar.

Praktis sampai detik ini belum ada satupun iklan dari Prabowo sekedar untuk menyapa masyarakat lewat media televisi atau media masa. Bahkan di hari-hari keagamaan juga tidak ada iklan untuk sekedar mengucapkan. Kalau dulu setiap ada hari besar keagamaan selalu ada wajah Prabowo.

Bahkan menurut Kivlan Zen yang dulu pernah menjadi tim di kubu Prabowo tetapi sekarang menjadi tim Gatot Nurmantyo mengungkapkan, Prabowo dari sumber logistik tidak sekuat dulu lagi.

“Kalau dia (Prabowo) mau melawan Jokowi, saya perkirakan sekarang dia kalah. Karena jaringannya tidak sehebat waktu Jokowi belum jadi presiden. Setelah Jokowi jadi presiden, jaringan dia hebat; jaringan pembiayaan, jaringan mekanisme pengawasan. Semua sudah dia kendalikan,” kata Kivlan Zen.

Dan menurut Kivlan Zen pula, Prabowo sudah tidak pegang kekuasaan, nggak juga pegang jaringan keuangan. Jaringan-jaringan lainnya seperti jaringan pendukung juga sudah pada pergi, ingin calon yang fresh. Dan dari penjelasan Kivlan Zen, bahwa Prabowo tidak punya modal lagi, dia (Prabowo) punya bisnis dari adiknya (Hashim Djojohadikusumo), sudah dipotong, sudah diambil. Bisnis minyak sudah dipotong sama grupnya Jokowi.

“Siapa pegang kekuasaan, dia pegang uang. Siapa pegang kekuasaan, dia pegang ekonomi. Di mana-mana begitu permainan dunia,” begitu beber Kivlan Zen terkait modal logistik dan jaringan Prabowo.

Dari penjelasan Kivlan Zen, kita bisa sedikit mengetahui kalau sumber-sumber keuangan Prabowo mulai seret, apalagi bisnis adiknya Hashim tidak sehebat dan semujur dulu, di mana bisnis jaringan seperti “Petral” sudah dibubarkan dan diobrak-abrik oleh anak buah Presiden Jokowi yang waktu itu menjabat sebagai menteri ESDM, yaitu Sudirman Said, yang sekarang malah jadi kubu Prabowo.

Bahkan dalam pilpres 2014, Rizal Chalid lewat rekaman kasus “papa minta saham” pernah menggelontorkan dana ke kubu Prabowo sebesar 500 milyar dan ia merasa menyesal kenapa uang sebesar itu tidak dibagi dua saja, maksudnya ke kubu Jokowi juga.

Dan seorang pengusaha besar kalau ingin mendukung salah satu presiden tentu yang berpeluang menang, bukan calon yang punya potensi besar kalah. Dan mungkin para pengusaha-pengusaha tidak lagi mendukung Prabowo dikarenakan sudah tidak menarik lagi dan tidak akan menang, kalaupun menyumbang hanya ala kadarnya untuk sekedar berpartisipasi saja dan menjaga persahabatan.

Hashim juga pernah mengatakan bahwa Prabowo mempertimbangkan faktor logistik dan kesehatan untuk maju sebagai calon presiden dan akan melihat hasil pilkada dulu.

Tetapi terkait faktor logistik ini langsung dibantah oleh Fadli Zon yang mengatakan tidak ada persoalan logistik untuk mencalonkan Prabowo sebagai calon presiden. “Logistik enggak ada masalah,” kata Fadli Zon di Kompleks parlemen, Senayan, Senin 16 April 2018.

Fadli Zon beralasan pelaksanaan pilpres dan pileg 2019 berlangsung serentak sehingga tidak memakan biaya kampanye yang besar.

Baca Juga:  Jika Jadi "Kingmaker", Prabowo Subianto Akan Memilih Dua Sosok Ini

Fadli Zon memang kader Gerindra yang sangat loyal kepada Prabowo karena jauh sebelum Prabowo menjadi ketua Gerindra, Fadli Zon sudah  menjadi juru bicara Prabowo dan akan menjawab semua isu-isu terkait Prabowo.

Ini mirip dengan Pak Harto dulu punya menteri yang sangat loyal awalnya, yaitu Harmoko, yang mengatakan bahwa rakyat masih menghendaki Pak Harto menjadi presiden, tetapi setelah menjadi presiden, selang beberapa bulan Pak Harto jatuh.

Sama dengan Prabowo di mana seluruh DPP, DPD dan DPC mendukung dirinya menjadi calon presiden tetapi fakta-fakta di lapangan popularitas atau pamor Prabowo mulai meredup seiring bertambah usianya. Gigi-gigi dan taring-taring Prabowo tidak sekuat dahulu. Dan ini bisa dilihat dari elektabilias Prabowo yang masih dibawah 30%.

Jangan sampai Prabowo dijerunuskan yang hanya akan membawa ia frustasi dan akan mengatakan semua elit bohong dan maling. Jangan-jangan malah elit dari partainya yang banyak membohongi Prabowo dengan memasok informasi yang tidak benar hingga Prabowo masih percaya diri menjadi calon presiden.

Wallahualam…

***

Editor: Pepih Nugraha