Wacana

Ini Cerita Romahurmuziy dan Sohibul Iman tentang Duet Jokowi-Prabowo

Joko Widodo, Prabowo Subianto, Calon Presiden, Cawapres, Pilpres 2019, Headline, Romahurmuziy, Sohobul Iman
Prabowo dam Jokowi (Foto: Zonadamai.com)
Pendekatan untuk menyatukan Jokowi dan Prabowo dalam satu paket Capres-Cawapres bukan hanya isapan jempol belaka, setidaknya dua politisi ini berbicara.

Dalam politik tidak ada yang tidak mungkin, hari ini bermusuhan, esok hari sudah berangkulan. Dan politik juga dinamis karena dalam politik perlu kompromi-kompromi dan mencari titik temu atau kesepakatan. Dalam politik juga berbagi kekuasaan, kami dapat apa dan anda mendapat apa? Politik adalah cair bukan beku.

Serangan kepada Presiden Joko Widodo semenjak ia menjabat sampai sekarang tiada henti, mulai dari Koalisi Merah Putih di parlemen sampai serangan yang bernuansa SARA, dari tuduhan PKI, sampai isu adanya gerakan KUDETA yang menunggangi demo pada Basuki Tjahaja Purnama.

Keadaan ini menjadikan Presiden Joko Widodo harus berkunjung ke setiap kesatuan angkatan, baik AU, AL dan AD. Semua itu dilakukan untuk memastikan masih loyal kepada pemerintahan Joko Widodo dan tidak ada perpecahan di antara kesatuan.

Seakan perang uraf saraf terus dilakukan untuk membuat presiden Joko Widodo putus asa atau merasa lelah, bahkan perang di media sosial terus gencar dilakukan.

Keadaan ini menjadikan Presiden Joko Widodo terkesan bingung atau bimbang dengan keadaan politik yang semakin panas.

Akhirnya untuk menghindari perpecahan atau situasi yang semakin panas di antara masyarakat dan tokoh-tokoh politik, Presiden Joko Widodo melakukan penjajakan dan penawaran kepada Prabowo Subianto untuk menjadi calon cawapres pada pilpres 21019. Itu dilakukan dengan alasan untuk menjaga NKRI dari perpecahan atau mendinginkan tensi politik dari dua kubu.

Dan pada bulan November 2017 diadakan dua kali pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo membahas posisi calon wakil presiden untuk pilpres 2019.

Seperti yang diungkapkan oleh ketum partai PPP Romahurmuziy, Joko Widodo pernah dua kali melakukan pertemuan atau penjajakan dengan Prabowo Subianto.

“Bulan November Pak Jokowi dan Pak Prabowo dua kali bertemu tahun 2017. Dan di situ ada semacam keinginan kalau melihat kalimatnya, bisa jadi Pak Jokowi yang berinisiatif. Kenapa saya tahu (Romi)? Karena waktu itu pak Jokowi menanyakan kepada saya,” kata Romi di Semarang, 13¬†April 2018.

Bahkan Joko Widodo sempat menanyakan kepada Romahurmuziy bagaimana pendapatnya kalau dirinya (Jokowi) menggandeng Prabowo sebagai calon cawapres pada 2019. Tanpa banyak memberikan penjelasan Romi langsung menjawab “setuju” dengan gagasan Presiden Joko Widodo.

Menurut Romahurmuziy, Prabowo mengapresiasi tawaran Presiden Joko Widodo dan merasa terhormat karena mendapat tawaran dari presiden Joko Widodo untuk menjadi cawapres.

Bahkan masih menurut Romahirmuziy dua minggu lalu Probowo mengirim utusan khusus kepada Joko Widodo untuk menanyakan kelanjutan cawapres. Dan utusan khusus tersebut bukan kader Gerindra atau jajaran DPP tetapi orang kepercayaan Prabowo di luar jajaran DPP Gerindra.

Dan menurut Romi, Presiden Joko Widodo belum bisa menjawab karena masih dikomunikasikan dengan partai pendukung. Dan menurut Romi pula Prabowo menginginkan jawaban segera.

Bahkan sebelum Rakornas Gerindra, ada pertemuan khusus antara Prabowo denga Luhut di hotel Grand Hyatt juga membahas soal posisi Probowo sebagai cawapres.

Malah dari media asing, Asian Times dalam pertemuan tersebut, Probowo Subianto meminta posisi 7 menteri dan meminta posisi menteri Pertahanan dari kadernya.

Tentu informasi yang disampaikan oleh Romi dan pertemuan di Hotel Grand Hyatt dibantah oleh jajaran DPP Gerindra.

Menurut versi Presiden PKS, Sohibul Iman membeberkan upaya lobi Joko Widodo melalui Luhut Pandjaitan agar Prabowo mau menjadi cawapres Joko Widodo. Dan Prabowo di hadapan Luhut menolak tawaran posisi cawapres.

Kepada Luhut, Prabowo menyampaikan tak mungkin ia menjadi cawapres Jokowi.

“Dalam bahasa candaan pak Prabowo, “Bang, apa abang enggak kasihan sama saya. Saya sudah berjuang seperti ini masa ujung-ujungnya cuma jadi cawapres Jokowi,” kata Sohibul Imam.

Dan menurut Sohibul, setiap ada pertemuan dengan utusan Joko Widodo, hasil pembicaraannya pasti akan diceritakan kepada dirinya.

Tetapi setelah Rakornas Gerindra dan memberi mandat kepada Prabowo sebagai calon presiden, sepertinya akan sulit untuk menyatukan Joko Widodo dan Prabowo sebagai pasangan presiden dan wakil presiden.

Baca Juga:  Jika Jadi "Kingmaker", Prabowo Subianto Akan Memilih Dua Sosok Ini

Baik Joko Widodo dan Prabowo mempunyai pendukung yang sangat loyal dan militan, seperti magnet yang bertolak belakang yang tidak bisa menempel atau disatukan. Malah bisa menjadikan pendukung atau relawan balik kanan bubar jalan alias menjadi abstain dalam pilpres.

Dua kubu ini punya sebutan di media sosial “Kecebong” untuk sebutan pendukung Jokowi dan “Kampret” untuk pendukung Prabowo.

Bahkan kader-kader Gerindra di jajaran DPP juga tidak mau Prabowo menjadi cawapres Joko Widodo.

Dua kubu ini bagaikan minyak dan air yang selalu terpisah satu sama lain.

Apakah Joko Widodo sudah lelah dan putus asa,hingga menawari posisi cawapres kepada Prabowo?

Prabowo adalah seorang militer yang bisa perang dengan waktu yang lama, perang urat saraf salah satu strategi yang diterapkan. Sedangkan Joko Widodo seorang sipil yang tidak biasa menghadapi “teror politik” yang sifatnya soft tetapi mempunyai dampak psikologis.

***

Editor: Pepih Nugraha