Wacana

Wajarlah Jokowi Marah

Joko Widodo, Presiden, Prabowo Subianto, Kaos, #2019GantiPresiden, Kemeja, Headline, Politik
Presiden Joko Widodo (Foto: Tribunnews.com)
Resep keberhasilan Jokowi dalam perhelatan politik, Pilgub 2012, Pilpres 2014 adalah artikulasi penyatuan aspirasi via pakaian, yaitu kemeja kotak-kotak.

Beberapa media melaporkan pidato Jokowi di depan relawannya baru-baru ini sebagai pidato angry (marah), bukan pidato yang fiery (berapi-api), sebagaimana penggambaran kalau Prabowo berpidato.

Ya, dalam pandangan saya setelah menyaksikan rekamannya, Jokowi memang “marah”. Tapi saya maklumi “kemarahan” Jokowi ini. Mengapa? Karena panik.

Jelas, yang pertama┬ápanik karena hastag #2019GantiPresiden yang aplikasinya, salah satunya, pada kaos. Ini jelas bikin panik, karena salah satu “resep” keberhasilan Jokowi dalam perhelatan politik (Pilgub DKI 2012 dan Pilpres 2014) adalah artikulasi penyatuan aspirasi via pakaian, dalam hal ini kemeja kotak-kotak. Kemeja yang di pasaran mudah ditemukan dan harganya terjangkau sekaligus sebagai transformer “kesederhanaan”.

Lha, ini yang dia hadapi sekarang kaos (!). Jauh lebih terjangkau dibanding harga kemeja, dan ini barang bertulis pesan-langsung: Ganti Presiden melalui proses resmi-konstitusional Pemilu (ditandai dengan pelekatan angka 2019 yang merupakan tahun pemilu).

Yang kedua, ini agaknya jauh lebih bikin panik, Prabowo yang sudah jelas akan maju lagi mulai bisa tampil “nakal”. Ya, ini adalah “cara” yang Jokowi sendiri, entah dia sengaja atau dia malah tidak paham bahwa itu “nakal”, sering lakukan. Cara-cara “nakal” tersebut kalau dicarikan alat hukum untuk menghukumnya boleh dikata “tidak ada”, karena adanya “celah” pada hukum (yang dimanfaatkan) atau belum ada hukum yang digariskan untuk hal yang di”nakali” tersebut.

Artinya, hanya perasaan norma dan etika saja yang bisa “menghukumnya” (itu pun hanya bagi yang menempatkan norma dan etika sebagai koridor yang harus ditaati).

Contoh. Di awal masa berkuasa Jokowi terkesan membiarkan adanya dualisme parlemen Negara. Masih ingat ketika kubu pendukung Jokowi menggagas DPR-tandingan? Ini namanya “nakal”. Contoh berikut: rangkap jabatan Ketum Parpol – Menteri Kabinet yang terjadi di era Jokowi. Ini juga “nakal”. Contoh lain: pemanfaatan Istana untuk pertemuan Jokowi dengan “aktivis-aktivis” medsos pendukungnya.

Ini “nakal”. Tapi, sekali lagi, hanya norma dan etika yang bisa “menghukum”nya.

Baca Juga:  Apakah Tagar 2019 Ganti Presiden Paralel dengan Jokowi Dua Periode?

Ke”nakal”an dalam kaitan langsung dengan Prabowo, nah ini yang bikin geleng-geleng kepala (bagi saya, mungkin juga bagi semua kita yang berbudaya “timur”), Jokowi itu pernah, sekali lagi PERNAH, suatu waktu menyambangi Prabowo ke rumahnya Prabowo untuk mencari “jalan ke luar” bagi masalah yang harus dia hadapi sebagai kepala pemerintahan. Jokowi bahkan diberi kehormatan, tanda penghargaan setinggi-tingginya dalam konteks tuan rumah yang disambangi: dikasih naik kuda kesayangan tuan rumah.

Toh, dalam beberapa kesempatan pada jauh hari setelah “naik kuda” itu, Jokowi nyerempet-nyerempet Prabowo. Ini namanya “nakal”.

Nah sekarang, saya rasa di luar kalkulasi Jokowi, Prabowo mulai tampil “nakal”. Ini jelas bikin panik. Mengapa? Kesantunan Prabowo selama ini itulah “kelemahan”nya. Dan Jokowi “taking benefit” alias mengambil manfaat dari “kelemahan” ini.

Akal sehat saya mengatakan: dengan didikan disiplin a la Eropa yang dialami Prabowo pada masa kecilnya, plus sentuhan langsung ibundanya yang sangat berpendidikan untuk ukuran dunia pada masa itu, telah membentuk pribadi seorang Prabowo yang selalu ber”positive-thinking” dan menempatkan asas “fairness” dalam berkompetisi.

Sementara, atmosfer yang dimasukinya, yaitu atmosfer perpolitikan, punya asas “cadangan” yang justru seringkali dijadikan asas utama: il principe. Apa ini barang? Tanya Niccolo Machiavelli!

Oya… Apa sih ke”nakal”an Prabowo?

Dalam sebuah rekaman pemaparan di depan pendukung, saya mendengar satu ucapan yang singkat yang sudah sangat cukup bikin Jokowi panik (untuk langsung menyadari bahwa sumber “benefit”nya telah hilang):

“Ndas-mu!”

***