Wacana

Pilih Partai Malam Minggu Saja, Yuk!

Partai Politik, Partai Setan, Partai Tuhan, Amien Rais, Headline
Ilustrasi (Foto: Riauonline.co.id)
Makna 'partai' di tengah publik awam tahun 2018 sudah menyempit, bukan lagi diartikan sebagai 'golongan' dalam kriteria moral, melainkan "partai politik".

Sebagaimana fiksi tidak bisa diperlawankan dengan fakta, Allah pun tidak bisa diperlawankan dengan setan.

Ha, wong Tuhan kok mau disaingkan sama ciptaan-Nya, lho. Lawannya setan itu bukan Tuhan, melainkan manusia dan kemanusiaan. Makanya kalau manusia kehilangan kemanusiaan, ia disebut kesetanan.

Jadi kalau mau bikin goro-goro yang pura-puranya lebih tertib ontologis dan pas dengan sosiologi perpolitikan Endonesa, jangan bikin isu Partai Allah vs Partai Setan. Yang lebih cucuk ya Partai Manusia vs Partai Setan. Atau Partai Setan vs Partai Anak Setan.

Ha, wong asline partai-partaian juga lebih sering memberikan jarak bagi kita dari kemanusiaan.

Tur ya lagi-lagi, itu semua cuma ngomyang buat panas-panasan. Dan panas itu fitrahnya api, sedangkan api adalah bahan baku penciptaan seeee…..???

Konsep Hizbullah dan Hizbussyaithon dalam Quran memang ada. Namun saya rasa penerjemahan hizb sebagai ‘partai’ membawa potensi masalah di zaman ini.

Saya tidak bilang itu salah, tetapi membawa potensi masalah. Kenapa?

Sebab makna kata ‘partai’ sekarang (di tengah publik awam penutur bahasa Indonesia pada tahun 2018) sudah menyempit, bukan lagi diartikan sebagai ‘golongan’ dalam kriteria moral, melainkan sesederhana “partai politik”.

Jadi masalahnya adalah pernyataan soal Partai Allah vs Partai Setan itu serta-merta dilekatkan pada konsep partai politik dalam dunia politik elektoral (konkretnya ketika beliau langsung menunjuk PKS). Padahal dalam Quran ya mustahil konsepnya semata mengacu ke dimensi tersebut.

Di sini istilah “partai” jadi lari ke sana ke mari. Apa yang sejatinya di dalam Quran merujuk kepada kategori moral, dalam pemahaman publik jadi terdistorsi dan ter-kompres ke wujud kelompok kepentingan.

***

Editor: Pepih Nugraha

Baca Juga:  Kepemimpinan Primitif di Abad 21