Wacana

Nasib Calon Presiden Gerindra Sangat Bergantung pada PKS

Partai Politik, Partai Setan, Partai Tuhan, Amien Rais, Gerindra, PKS, PAN, Prabowo Subianto, Calon Presiden, Pilpres 2018, Headline
Prabowo dan PKS (Foto: Liputan6.com)
Harapan Amien Rais tentu saja terwujudnya gabungan "Partai Allah", yaitu Gerindra-PKS-PAN, bukan menjadi "Partai Setan" yang menciptakan huru-hara Pilpres.

Apa pun yang direncanakan Gerindra tidak terlepas dari posisi tawar PKS dan PAN, itu pun kalau benar-benar terjadi koalisi ketiga partai tersebut. Yang menjadi persoalan adalah, apakah Gerindra mau menerima tawaran Cawapres dari PKS atau PAN? Seberapa besar pengaruhnya Cawapres yang ditawarkan PKS atau PAN terhadap elektabilitas Prabowo Subianto sebagai calon presiden?

Gerindra ada dalam posisi yang sangat dilematis, seandainya Prabowo hanya sebagai Kingmaker dan akan mengajukan Gatot Nurmantyo atau Anies Baswedan sebagai capres, bisa tidaknya maju tetap saja kuncinya ada pada partai yang akan berkoalisi dengan Gerindra. Karena, tanpa adanya koalisi maka Gerindra tidak memenuhi persyaratan ambang batas pencalonan Presiden, ketentuan syarat pencalonan sebesar 20 persen dari jumlah kursi di parlemen atau 25 persen dari suara sah nasional pada pemilu legislatif.

Berdasarkan hasil Pemilu 2014, tak ada partai yang bisa mencalonkan pasangan presiden-wakil presiden tanpa berkoalisi dengan partai lain. Sebab, tidak ada partai politik yang memperoleh kursi parlemen atau suara sah nasional mencapai batas minimal yang disyaratkan.

Baca Juga:  Gerindra Usung Prabowo, PKS Tak Mau Kalah soal Cawapres dengan PAN

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang merupakan partai paling besar dalam Pemilu 2014, hanya meraih 18,95 persen suara. Adapun Partai Golkar juga hanya mendapat 14,75 persen dan Partai Gerindra 11,81 persen. Transaksi politik rawan terjadi saat penentuan siapa calon yang akan diusung.

Lagi-lagi Gerindra dihadapkan pada pilihan yang sulit, diterima tawaran cawapres dari PKS, tentunya PAN akan berhitung untung ruginya berkoalisi dengan Gerindra. Begitu juga menerima tawaran cawapres dari PAN, maka PKS pun akan berhitung secara politis. Kalau saja kader yang ditawarkan PKS dan PAN sangat berpengaruh terhadap elektabilitas Capres Gerindra, maka tidak Akan sulit Gerindra mengambil keputusan.

PKS sebagai pemegang kunci bisa tidaknya Gerindra memajukan capresnya dalam Pilpres 2019 sangatlah di atas angin, karena kemungkinan terbesar partai yang akan bergabung dengan Gerindra hanyalah PKS.

PAN seperti biasanya akan bermain Politik Dua Kaki, dan sangat tergantung ke mana arah angin berhembus, maka di sanalah PAN akan berlabuh.

Sementara Gerindra berpikir menerima tawarancCawapres yang diajukan PKS sama saja dengan bunuh diri, karena dari sekian kandidat cawapres yang diajukan PKS tidak satupun yang memenuhi kualifikasi sosok Wakil Presiden di mata Partai Gerindra. Gerindra tidak punya pilihan, lain soal Gerindra yakin bisa memenangkan kontestasi Presiden, maka tawaran posisi cawapres bisa ditukar dengan beberapa posisi strategis di Kabinet.

Bagi PDIP yang berkoalisi dengan Golkar, Nasdem, PPP dan Hanura sudah sangat memenuhi persyaratan ambang batas pencalonan Presiden. Jokowi yang diajukan oleh Koalisi Indonesia Baru (KIB) sudah tidak Ada masalah lagi dengan persyaratan tersebut, karena sudah melebihi target yang disyaratkan.

Mari sama-sama kita lihat bagaimana Gerindra bisa mengatasi persoalan dilematis yang dihadapi partainya menjelang Pilpres 2019 nanti, apakah benar Gabungan Partai Allah yang diidam-idamkan Amien Rais Akan terwujud, yang merupakan koalisi Gerindra, PKS Dan PAN, atau malah sebaliknya ketiga partai ini hanya menjadi Partai Setan yang menciptakan huru-hara selama Kontestasi Pilpres 2019 berlangsung.

***

Editor: Pepih Nugraha