Wacana

Bisakah Pangkat Militer Dilupakan di Jabatan Sipil?

Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Sipil, Militer, Pilpres 2019, Politik, Headline
Agus Harimurti dan gatot Nurmantyo (Foto: Suratkabar.id)
Tak ada yang tak mungkin dalam politik, sebab politik adalah seni segala kemungkinan, termasuk bersandingnya Agus Harimurti dan Gatot Nurmantyo.

Bisakah pangkat di militer dilupakan kalau sudah menjadi sipil?

Jawaban normatif tentu bilang bisa. Secara normatif mereka kembali jadi rakyat biasa. Ya, itu secara normatif, kata-kata mutiara. Tapi untuk masyarakat kita yang masih feodalis, untuk masyarakat kita yang sejak dari perang kemerdekaan kepangkatan di tentara itu jadi simbol sosial.

Buktinya, para mantan Jenderal masih merasa perlu menempelkan Letnan Jenderal ( purn) di deratan namanya. Eeee… kok sersan purnawirawan tidak menulis pada kartu namanya Sersan (purn ) Mukidi, umpamanya.

Tulisan ini muncul karena banyak meliter sekarang mau beralih profesi jadi politikus. Semua tingkat jabatan mau ikut berebut dengan kalangan sipil. Mulai dari RI-1 sampai lurah.

Dahulu di zaman Pak Harto berkuasa, memang ada jatah untuk segala level, kecuali RI-1. Dan jatah itu sudah ada pembagiannya, umpama kalau Mayjen untuk Gubernur, Kolonel untuk Bupati, Sersan Mayor untuk Lurah, dan seterusnya.

Sekarang di “jaman now”, pertandingan free for all, bisa-bisa Mayor jadi Presiden, Jenderal jadi wakilnya.┬áSah-sah saja karena semua toh sudah jadi sipil.

Apa tata krama masyarakat kita bisa menerima? Kok rasanya sulit.

Mari kita lihat didunia luar!

JF Kennedy ke luar dari US Navy dengan pangkat Letnan, dan terjun ke politik. Lima belas tahun kemudian jadi Presiden. Begitu juga George Bush (senior), Letnan penerbang pesawat tempur Navy jadi presiden, George Bush (junior ) pilot penjaga pantai, pada umur yang sangat muda, jadi Presiden juga.

Negara tetangga kita, Lee Hsien Loong karir militernya hanya sampai Brigjen, terjun ke politik dan jadi PM Singapura, membawahi komandannya yang berpangkat Jenderal. Sampai saat ini dia biasa dipanggil Brigjen Lee.

Bagi masyarakat negara maju hal ini tidak aneh. Mereka biasa menerima, di kantor jadi bos di luar teman . Hari ini jadi manager besok jadi sopir taxi, itu biasa bagi mereka.

Pertandingan antara jenderal yang kawakan dengan anak muda sipil sudah pernah terjadi. Anak muda menang telak.
Sejak itu kelihatan beberapa jenderal agak ragu mau terjun kepolitik.

Baca Juga:  Serius, Indonesia Perlu Pemimpin yang Visioner dan Karismatik

Sekarang ramai lagi, jenderal ikut pilkada. Beberapa lembaga survey mengatakan ada jenderal yang mungkin menang, ada pula yang cuma dapat dua atau tiga persen saja.

Di lembaga swasta, apalagi asing sudah banyak contoh, di mana metokrasi lebih utama dari senioritas.

Ingat dahulu ibu Rini Soemarno umur 30 tahun sudah jadi Vice President City Bank, kemudian berturut-turut jadi Presdir BCA dan Astra.

Untuk militer dan birokrasi pemerintah kelihatan masih lama. Masih urut kacang istilahnya. Tunggu si boss pensiun dahulu baru bisa naik pangkat.

Inti dari tulisan ini sebetulnya ingin melihat, apa mungkin Gatot Nurmantyo jadi wapresnya Agus Harimurti Yudhoyono. Toh dua-dua nya sudah sipil.

AHY punya kualifikasi akademis mungkin lebih dari GN dan punya partai pendukung yang kuat, sedang GN hanya kaya pengalaman di militer.

***

Editor: Pepih Nugraha