Wacana

Jokowi yang Jadi Bulan-bulanan Kesombongan Yusril dan Elite Politik

Yusril Ihza Mahendra, Joko Widodo, Elite Politik, Headline,
Jokowi dan Yusril (Foto: harianindo.com)
Merendahkan orang lain itu tidak akan meninggikan diri sendiri, karena meninggikan dan merendahkan derajat manusia itu hak prerogatif Allah.

Kalau ditanya lebih respect kepada siapa secara pribadi antara Yusril Ihza Mahendra dan Joko Widodo alias Jokowi, jelas saya Akan lebih respect pada Jokowi, karena Jokowi tidak memiliki kesombongan dan keangkuhan yang dimiliki Yusril. Entah ukuran apa yang dipakai Yusril untuk mengukur kecerdasan, sehingga dia menganggap Jokowi sebagai Presiden yang bodoh, bahkan maaf, Presiden yang “goblok”. Kalau Yusril mengukur Jokowi dari kacamata Ilmu ketatanegaraan, jelas Yusril lebih pintar dari Jokowi.

Yang benar aja, seseorang yang sudah mencapai karir tertinggi di Republik ini dianggap bodoh oleh Yusril dengan segala kesombongan dan keangkuhannya, tidak mudah fase yang sudah dilalui Jokowi, mulai dari jadi Walikota selama 2 Periode, jadi Gubernur dan sekarang jabatan tertinggi di pemerintahan ada ditangannya, kalau seandainya Pilpres 2019 ini dia kembali memenangkan Kontestasi Pilpres, apakah Yusril masih mau anggap Jokowi bodoh?

Sementara Yusril jabatan tertinggi yang pernah diembannya hanya selevel menteri, Memsesneg dan Menkumham, sebagai Ketua Umum Partai Yusril tidak berhasil membawa partainya masuk dalam 5 besar Partai Politik yang paling berpengaruh di Republik ini. Ada baiknya Yusril mengubah pola berpolitik juga pola berinteraksinya dalam perpolitikan nasional, style dan gesture yang angkuh penuh kesombongan akan menjatuhkan dia dari simpatisan.

Apa lagi Yusril dengan kendaraan politik yang berbasis Islam, keangkuhan dan kesombongan itu sangat jauh dengan akhlak seorang Muslim, prilaku angkuh dan sombong itu adalah kebiasaan para iblis, sementara akhlak seorang Muslim itu tawadu’ dan penuh istiqomah, orang-orang yang tawaduk Dan istiqomah itu cenderung rendah hati, bukanlah angkuh dan sombong.

Adakah Yusril menonton kembali pidato-pidatonya yang angkuh dan sombong tersebut sebagai bahan untuk introspeksi?

Merendahkan orang lain itu tidak akan meninggikan diri sendiri, karena meninggikan dan merendahkan derajat manusia itu hak prerogatif Allah. Tidak perlu mempermalukan orang lain untuk memuliakan diri sendiri, seorang negarawan sejati dia akan sangat menjaga lisannya.

Baca Juga:  Sebagian Kepala Daerah Jatim Terciduk KPK, GusTi Terdampak?

Manusia tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah, bisa jadi Jokowi terlihat bodoh di mata Yusril, tapi tidak di mata Allah, dia bisa mencapai karirnya di posisi tertinggi di negara ini tidak terlepas dari campur tangan Allah azza Wajalla. Bukan cuma sebab tingginya tingkat keterpilihannya, Allah mengamanahkan jabatan Presiden bagi Jokowi itu adalah ujian bagi rakyat Indonesia.

Juga para elit Indonesia yang katanya pintar-pintar, berhentilah berpolitik dengan cara-cara tidak beretika Dan bermoral itu. Indonesia ini harus kita bangun bersama, bukan cuma oleh satu orang pintar seperti Yusril.

***

Editor: Pepih Nugraha