Gaya

Phantom Thread: Penaklukan Gadis Desa terhadap Desainer Ternama

Resensi, Film, Phantom Thread, Daniel Day Lewis, Reynold Woodcock, Cyrill Woodcoock, Cinta, Desainer, Asmara, Headline
Phantom Thread (Foto: Facebook.com)
Jadi pelajaran penting bagi siapa pun bahwa cinta yang kuat bukan berasal dari perjalanan mulus, ia jatuh bangun, tarik menarik melelahkan dan bikin sebal.

Zaman dulu kala, hingga sekitar sebelum Orde Baru berdiri, mungkin sezaman dengan film ini terdapat tradisi yang sebenarnya tabu, “saru” dibicarakan di lingkungan kraton Mataram, baik di Jogja dan Solo, di mana para raja, pangeran, dan kaum bangsawan suka berburu gadis perawan desa ke daerah tandus. Umumnya kalau tidak ke Gunung Kidul ya Wonogiri.

Pertanyaan tersebut terjawab dalam film ini. Bukan saja karena aura kecantikan mereka yang beda, namun terutama karakter keras mereka, yang walau sering terasa aneh (justru) karena sifat kesederhanaannya. Mereka memiliki sifat-sifat (gadis) penakluk yang mungkin bagi kalangan atas, merupakan suatu gairah yang beda dan tantangan tersendiri. Mereka ini, sudah bosan dengan gadis kota yang walau tampak “modern dan gaul”, tapi mudah jatuh kolokan dan membosankan.

Dalam film ini, tokoh utamanya adalah seorang desainer yang super tekun, teliti dan perfect juga menemukan figur wanita yang di mata luar biasa menarik di sebuah desa yang sempat disinggahinya. Sebagai seorang desainer kelas atas, tiba-tiba tertarik kepada seorang pramusaji, yang sebenarnya sama sekali tidak menarik dan fashionable, kaku, keras kepala dan menyebalkan.

Namun pelan tapi pasti, ia mampu mengubahnya menjadi “pantas”; pantas didandani, pantas perilakunya, bahkan pantas menjadi kekasihnya. Sesederhana itukah? Sama sekali tidak!

Di sinilah letak daya tarik film ini, dimana kisah cinta yang dibikin tidak mudah, tidak biasa, dan tentu saja tidak norak.

Menurut pendapat saya, film inilah yang mestinya menang Academy Awards 2018 baru lalu. Sebuah film roman cinta yang mungkin saya lebay: luar biasa detil, menyentuh sekaligus mengerikan!

Sedemikian menyentuh, sehingga membuat kita gampang marah dan misuh-misuh sepanjang menontonnya. Sebuah film yang wajib ditonton orang yang di tubuhnya mengalir darah seni, apapun bentuknya. Bahwa seniman yang kokoh adalah mereka yang serius yang tidak pringas-pringis dan ledha-ledhe. Pada diri merekalah terletak figur yang paling pantas ditaklukkan (cieee…).

Film bersetting suasana tahun 1950 di Inggris ini merupakan peran panggung terakhir Daniel Day Lewis sebelum memasuki masa pensiunnya. Semestinya untuk menghormati perannya yang dahsyat itu, film ini layak didaku sebagai yang terbaik. Film ini terfokus pada adu akting antara Reynold Woodcock sang desainer dengan Alma, dengan di sana-sini diselingi oleh peran protagonis Cyrill Woodcoock sang adik.

Baca Juga:  "Yowis Ben", Film Box Office Berbahasa Jawa Pertama di Indonesia

Reynolds digambarkan sebagai lebih dari sekedar desainer fesyen, sebagai seorang seniman yang terlalu serius. Ritme hidupnya sangat monoton penuh kedisiplinan cenderung egois tak mau diganggu. Dan jika ada orang yang mengajaknya bicara, atau ada orang yang mengunyah terlalu ‘berisik’, dia membentak orang tersebut.

Demikian pula soal apapun ia menuntut ketepatan yang sesuai standar dirinya. Figur begini yang dihadapi Alma, dalam satu scene digambarkan Alma membawakan teh ke ruangan Reynolds, yang serta merta disambut dengan bentakan: “Tehmu memang udah keluar, interupsimu yang terus masuk di dalam mengganggu!”

Dalam situasi demikianlah, Alma melakukan “proses penaklukan” terhadap Reynold, bagaimana ia mengubah super-egonya, menyembunyikan kebutuhannya akan orang lain dan tanpa disadarinya memperlakukan semua orang layaknya bidak catur, yang bisa ia gunakan kapan dia suka, dengan cara yang ia inginkan.

Film ini terpapar deskripsi dengan sangat detail nyaris dalam segala aspeknya, terukur dalam setiap tarikan nafas dan gerak perilaku para pemerannya.

Bagaimana atap-atap langit yang rembes pada masa awal karier si desainer, hingga berubah menjadi sangat terjaga kerapihannya saat karirnya mulai mapan. Bagaimana takaran racun dari jamur dbedakan hanya sekedar sakit semalam, hingga sakit bermalam-malam. Bagaimana Alma bisa menjadi seorang yang memegang kendali, dari sebelumnya sekedar “perangkat pelengkap”. Bagaimana ia bercerita menyerahkan setiap detail tubuhnya, walau tak pernah ada sekalipun scene film yang menunjukkan adanya adegan vulgar.

Baca Juga:  Film Da'wah Menurut Motinggo Boosje

Film ini adalah pameran seni modern klasik yang diobral menjadi pemandangan indah sepanjang tontonan. Film ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun bahwa cinta yang kuat, bukanlah berasal dari perjalanan yang mulus. Ia jatuh bangun, ia tarik menarik yang melelahkan dan bikin sebal. Bagaimana sebuah penolakan yang sangat serius sesungguhnya adalah penerimaan yang tanpa batas. Dalam pergumulan itulah, film ini berkisar dalam sinematografi yang sangat dewasa dan menggoda.

Bila (setelah) menonton film ini, mustinya tak ada kata2 cengeng dan klise lagi, seperti ketidakcocokan akibat perbedaan pendapat yang sering terjadi, egoisme salah satu pasangan dan beberapa sifat lainnya yang tidak bisa diterima pasangan. Yang intinya perbedaan yang tak bisa dipertemukan atau dipersatukan lagi. Ihhhh masak, mbok dipikir lagi! Film ini cocok buat siapa saja, bukan saja pada yang mulai ragu pada hubungan mereka, bahkan bagi yang baik2 saja mustinya juga tergugah. Apalagi buat para jomblo, ini start-up yang tepat. Tak ada kata terlambat berburu cinta sejati!Phan