Wacana

Pameran Ujaran Kebencian atas Kasus Arteria Dahlan

Ujaran Kebencian, Hate Speech, Politik, Makna, Kata, Headline, Kritik, Arteria Dahlan, Kementrian Agama
Arteria Dahlan (Foto: Republika.co.id)
Makna "menghina" dan Mengeritik" jadi beda tipis, tergantung dari perspektif mana melihatnya. Arti ini akan berbeda bagi yang pro dan kontra pemerintah.

Bagi yang mau menghina Anies Baswedan sudah diwakili oleh Metro TV. Dalam acara bedah editorial Metro TV menyebut Anies “Gubernur Ribet.”

Beda dengan rakyat, pers punya UU Pers. Ujaran sebenci apa pun, yang kena semprot ujaran kebencian nggak boleh marah, nggak boleh ngadu ke polisi, pers punya senjata ampuh yang namanya hak jawab. Kalau dimaki-maki gimana jawabnya? Ya, barangkali balas memaki disaksikan oleh dewan pers.

Menteri agama mestinya menteri yang paling mulia diantara anggota kabinet, tapi faktanya di media sosial paling banyak mendapat cemoohan. Bahkan ketika mendapat musibah kena ikan pari, masih juga diolok-olok. Tentu saja hanya sebatas olok-olok. Lebih dari itu kena jerat ujaran kebencian. Rakyat nggak punya ilmu kebal.

Beda dengan anggota DPR, mereka boleh menghina dengan alasan mengeritik. Atau bahkan tanpa alasan, karena mereka dilindungi oleh hak imunitas.

Artieria Dahlan, politisi PDIP sebagai wakil rakyat telah mewakili rakyat yang mau memaki menteri agama. Kementerian agama disebutnya, “bangsat!”

Tapi rakyat jangan ikut-ikutan. Rakyat nggak punya hak perlindungan. Kalau mau memaki menteri agama harus lengkap, “Kementrian agama bangsat, kata Arteria Dahlan.”

Inilah gambaran tipisnya antara kritik dan menghina. UU MD3 digugat rakyat karena dianggap menutup sikap kritis rakyat. DPR bilang, boleh ngeritik, yang ngggak boleh menghina. Apa yang diucapkan oleh Arteria Dahlan itu mengeritik atau menghina? Arteria menyebutnya kritik.

Baca Juga:  Yakinilah, Arteria Dahlan Itu Anggota DPR Terhormat, Bukan Bangsat

Amien Rais bilang pemerintah ngibul. Amien dan pendukungnya bilang itu kritik, tapi pemerintah dan pendukungnya bilang itu menghina. Lebih sopan mana, ngibul atau bangsat?

Rakyat seperti Asma Dewi bilang menteri yang nggak berdaya menurunkan harga disebutnya “edun” dan “koplak.” Asma Dewi dihukum sekian bulan penjara potong masa tahanan. Lebih sopan mana dengan anggota DPR yang bilang menteri bangsat!

Sudahlah, rakyat selalu salah, selalu kalah. Rakyat cuma bisa menjadi penonton pameran ujaran kebencian.

***