Aksara

Mengapa Kita Kadang Perlu Malu terhadap Tulisan Sendiri?

Menulis, JK Rowling, Etika,
JK Rowling (Foto: Popsugar.com)
Bertanggung jawab atas kebenaran yang sudah ditulis memang perlu, namun akan lebih mengesankan lagi apabila dibarengi dengan kehidupan nyata.

Sebelumnya, menulis adalah hal yang sama sekali tidak terencanakan oleh anak alay seperti saya ini. Sebab sejauh ini, tidak banyak buku yang sudah saya baca dan hanya segelintir pengetahuan yang baru saya pahami.

Selebihnya jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang hobinya menghabiskan waktu di perpustakaan atau membaca buku di tempat-tempat umum jelas saya tertinggal jauh dari mereka. Namun jika dibandingkan dengan saya dalam hal menulis, tentu sebagian dari merekalah yang tertinggal jauh dari saya, Wew wkwkkk.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang ditelan masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer).

Berhubung tidak banyak ilmu yang saya ketahui, maka tulisan yang mampu saya buat ya hanya sebatas tulisan sederhana dari pengalaman pribadi saja. Kadang saya juga ragu barang ada satu atau dua orang dapat memetik manfaat dari tulisan saya, atau malah tidak ada sama sekali orang yang memetik manfaat dari tulisan saya.

Apakah tulisan saya sudah baik atau belum adalah hal yang sering saya pikirkan berkali-kali selepas saya mempostingnya di internet. Namun beberapa waktu lalu, salah satu teman saya secara mengejutkan mencoba membandingkan tulisan-tulisan saya yang sudah ia baca dengan diri saya pribadi.

Membandingkan sebuah tulisan dengan sosok asli penulisnya memang hal yang wajar. Apalagi tulisan tersebut dihiasi dengan kata-kata bijak dan bumbu pemanis agar terlihat lebih indah, hal seperti ini pasti akan memberikan sedikit rasa penasaran terhadap sosok di balik tulisan tersebut.

Ya, seperti apa sih kehidupan asli si penulis tersebut? Apakah sesuai dengan apa yang ia tulis? Karena beberapa pendapat mengatakan bahwa gambaran tentang seseorang dapat terlihat dalam tulisan yang ia buat sendiri.

“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.” (J.K. Rowling).

Sepanjang yang saya pikirkan tentang asas manfaat untuk orang lain pada tulisan yang sudah saya buat tiba-tiba berbelok arah menjadi “Sudah sesuaikah tulisan yang saya buat dengan diri saya sendiri?”

Baca Juga:  Andrea Hirata, Novelis Kebanggaan Indonesia

Saya tidak marah ketika teman saya membandingkan tulisan saya dengan kehidupan nyata saya. Toh saya pun menyadari bahwa masih banyak yang perlu dibenahi dari kehidupan saya yang acak-acakan ini. Saya lebih banyak membuat tulisan berdasarkan pengalaman, kemudian diolah menjadi pembelajaran hidup.

Dan dari kejadian itu, saya paham betul kalau teman saya ini mencoba memberikan teguran bahwa saya mampu membuat tulisan yang banyak memberikan pelajaran dari kejadian sederhana, namun diri saya sendiri masih sering lupa untuk belajar dari pengalaman yang sudah ditulis.

Terkadang, kita memang perlu malu terhadap tulisan sendiri. Ketika seseorang mengatakan “Tidak pada korupsi” dan ternyata dia sendirilah yang melakukan perbuatan tersebut, dan ketika seseorang mengatakan “Jauhi Narkoba” namun musibah yang menimpanya adalah menyangkut sesuatu yang ia hindari.

Rasanya memang lucu, sama seperti diri saya terhadap tulisan saya sendiri. Saya hafal betul semua alur tulisan yang saya tulis, tapi saya sering lupa untuk belajar dari tulisan saya sendiri.

Dosen Filsafat saya pernah mengatakan bahwa manusia adalah unik. Ya, manusia memang unik, segala sesuatu yang dilakukan manusia tidak mampu ditebak dengan mudah. Hari ini mengatakan A, besok bisa jadi mengatakan B. Hari ini menghindari A, besok terang-terangan mendekati si A, alurnya persis seperti hingar bingar dunia politik.

Bertanggung jawab atas kebenaran yang sudah ditulis memang perlu, namun akan lebih mengesankan lagi apabila rasa tanggung jawab tersebut dibarengi dengan kehidupan nyata yang sesuai berdasarkan apa yang telah kita tulis, terlebih tulisan yang dibuat adalah tulisan yang menawarkan sejuta pola hidup baik.

Dari teguran teman saya ini, akhirnya saya sadar apabila memikirkan bagus atau tidaknya tulisan yang sudah saya buat hanyalah meninggalkan kesan egois saja, tanpa memikirkan manfaat yang telah saya petik dari tulisan saya sendiri.

Baca Juga:  Akrobat Maut Rocky, Amien dan Cak Imin

Ya, setidaknya diri sendirilah yang mampu merasakan manfaat baik dari apa yang sudah ditulis. Dan ternyata menulis memang mudah, mempertanggungjawabkannya lah yang sulit.