Wacana

Jokowi sebagai Seorang Demokrat

Politik, Susilo Bambang Yudhoyono, AHY, Rapimnas, Partai Demokrat, Headline
Joko Widodo bersama Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Tribunnews.com)
Sinyal melalui komunikasi politik Presiden Joko Widodo di Rapimnas Partai Demokrat belum bisa dikatakan bakal merapatnya partai pimpinan SBY itu ke dirinya.

Sebagai sesama trah Mataram (bukan terlalu jauh jadi trah Majapahit), bagi saya tentu tidak terlalu sulit membaca gerak-gerik tubuh, maupun berbagai manuver politik Jokowi sejak perama kali muncul. Tentu saja, sebagai orang Jogja, terkadang juga muncul rasa geli sekaligus risi (tentu sekaligus meri) melihat bagaimana Jokowi secara luar biasa mengejawantahkan berbagai karakter ke-Solo-annya dengan leluasa dan nyaris tanpa resistensi berarti.

Walau resisistensi selalu terjadi, namun tentu saja berakhir dengan “kekalahan” para rivalnya yang “bodohnya” melakukan pendekatan yang berbeda, yang saya anggap cara-cara kasar. Cara-cara sarkas ini hanya bisa tampak menang di atas kertas, sementara, namun sebenarnya argumentasinya sangat rapuh.

Ilmu dasar Jokowi adalah apa yang disebut “yen dipangku mati, yen dipepet urip“. Ia seolah memberikan “angin perasaan menang pada lawan” atau sebaliknya “anggapan kalah pada dirinya”. Padahal lepas dari menang dan kalah, ia sedang “membunuh” lawannya secara perlahan-lahan. Halus, samar, sabar, dan perlahan sekali.

Apa yang dikatakan Ahok sebagai membunuh katak dengan cara merebusnya perlahan-lahan, tentu si katak tidak pernah merasa sedang direbus, karena ia akan mengalami ekstase awal rasa hangat yang nyaman, hingga ia sadar kulitnya mulai melepuh, tak bisa bergerak, dan tepar untuk selamanya.

Kerisian saya saat ini salah satunya ketika Jokowi tampak mesra dengan Partai Demokrat. Bagi saya, sebagai orang yang sedang meriset tentang SBY, nyaris selama 10 tahun terakhir. Untuk mempersiapkan buku “Orde Los Stang: 10 Tahun Kesia-siaan di Bawah SBY“, tentu kedekatan ini sangat mengkhawatirkan.

Bagi saya secara moral bahkan PKS sekalipun bisa jauh lebih pantas dipercaya dibanding Demokrat. Bahkan Prabowo jadi tampak “sedikit baikan” dibanding SBY. Justru karena ke-ngoyo-an dan ke-ndableg-an mereka.

Kita boleh berdebat sampai urat leher putus, tentang hitam putih SBY. Tapi bagi saya SBY tetaplah seorang yang tidak jujur bahkan terkait sejarah masa lalu dirinya sendiri. Terlalu banyak ketidakjujuran, penggelapan, dan kamuflase sejarah yang dia pertahankan.

Baca Juga:  Lord Valdermot dan Kotak Pandora SBY

Sejujurnya walau saya bisa (dan sangat ingin) menuliskannya, tapi saya akan tetap menyimpannya untuk suatu saat dibuka sebagai kenyataan sejarah pahit negeri ini. Saat ini saya akan lebih fokus mencatat hal-hal kecil, yang mungkin luput dari amatan masyarakat. Terutama yang menyangkut “cara membaca” yang tidak selalu sama. Bahkan terbalik-balik. Termasuk dalam kasus Jokowi saat membuka Rapimnas Partai Demokrat beberapa hari lalu. Saat secara wagu bin lucu (bagi saya sih lebih sebagai suatu kenyinyiran yang dahsyat), Jokowi mengatakan bahwa antara dirinya dan SBY cuma beda tipis: Jokowi seorang Demokrat, SBY Ketua Partai Demokrat!

Inilah gaya lawakan khas Srimulat-an, gaya Mentaraman, yang hanya bisa dipahami secara “masyuk” oleh pemilik kultur ini sendiri. Gojekan khas Asmuni, ketika ia menyebut hal yang mustahil sebagai hil yang mustahal. Atau saat Gepeng menyebut “untung ada saya”, di mana sesungguhnya karena ada dia semuanya justru jadi tidak beruntung. Suatu gaya bahasa yang disebut contradictio interminis.

Ketika Jokowi menyebut dirinya seorang demokrat, mungkin penalarannya ia memang berasal dari Partai PDIP yang jelas secara kesejarahan lebih tua (walau juga sebenarnya gak demokratis-demokratis amat). Atau dalam berperilaku, ia jauh lebih demokratis, tidak suka membalas dendam, bahkan terhadap berabagai hoaks dan fitnah yang nyaris tanpa henti menimpa dirinya.

Yang luput dari amatan publik, ketika ia mengejek SBY adalah Ketua Partai Demokrat.

Sebenarnya Jokowi mau bilang, walau ia seorang ketua partai ia sama sekali bukanlah seorang demokrat sejati. Bagaimana ia merangkap jabatan dari sejak Ketua Umum, Ketua Dewan Pembina, Ketua ini itu dalam internal partai yang entah apalagi. Bahkan memasukkan anak-anak, istri, saudara, dan kerabatnya dalam struktur kepemimpinan partai.

Bahkan secara tanpa malu menjadikan anak-anaknya sebagai pewaris partai dan tampuk kekuasaannya. Apakah itu salah? Juga tidak, namun tentu saja jangan pakai nama singkat Demokrat. Itu akan jadi “elok dan halal” bila ia pakai nama Partai Cikeas Bersatu, atau Partai Demokrat Trah Majapahit atau apalah.

Baca Juga:  Kandidat Sudah Terlihat, "No More Convention" bagi Demokrat

SBY (juga lingkaran trah Cendana) ini lupa belajar dari peta politik kontemporer Amerika Serikat yang sialnya justru menjadi acuan platform-nya. Bagaimana Hillary Clinton, seorang yang “luar biasa” demokratis-nya. Bagaimana ia memaafkan Bill Clinton, suaminya yang Presiden AS┬ádua kali masa jabatan yang cemerlang, tapi terjebak isu perselingkungan. Bagaimana ia rela bersabar magang kepada Barack Obama sebagai Menteri Luar Negeri.

Ia tidak sekedar intelektual-pemikir, tetapi juga pengambil keputusan yang jeli. Seorang istri yang setia, seorang ibu yang baik dan politikus yang sabar meniti karier dari bawah.

Namun lihat apa yang terjadi saat ia harus berhadapan dengan Donald Trump, seorang pengusaha yang tidak sekedar beraroma politik kasar, tetapi juga figur mata keranjang dan pengusaha serakah. Mustinya Hilary menang mutlak, tapi nyatanya ia yang justru kalah telak.

Ini isyarat bahwa publik zaman now juga sangat membenci “politik dinasti”, Gaya politik dan suksesi paling purba yang di era milineal ini harusnya sudah usang, dibuang dan bukan pilihan lagi.

***

Editor: Pepih Nugraha