Sketsa

Di Norwegia, “Camp School” untuk Siswa SD Dilakukan di Sebuah Pulau

Camp School, Norwegia, Pulau, Siswa, Sekolah Dasar, Fatih, Headline
Camp School di Rovar (Foto: Rovar.no)
Orang Norwegia sahabat alam. Selain memancing hingga ke tengah laut, anak-anak diajak menjaga kebersihan pantai dan hutan, respek pada makhluk hidup lain.

Awal minggu kemarin bisa dibilang sebuah milestone untuk keluarga kecil kami. Untuk pertama kalinya, Fatih berpisah sementara dengan orangtuanya, karena harus mengikuti camp school selama 4 hari.

Program ini adalah bagian kurikulum SD di Norwegia. Ketika anak duduk di kelas 6 atau 7, mereka diwajibkan ikut kegiatan yang biasanya diadakan di suatu pulau tak jauh dari kota tempat tinggal.

Untuk SD di Haugesund, camp school bertempat di Røvær, sebuah pulau berpenduduk 100 orang, 30 menit dengan kapal dari Haugesund. Camp school ini diselenggarakan di minggu pertama bulan Maret. Tapi sejak awal tahun ajaran, walikelas sudah mulai woro-woro soal ini. Maksudnya mungkin agar baik anak maupun orangtuanya sama-sama bersiap, terutama siap mental berjauhan sementara selama beberapa hari.

Semua anak sangat antusias dan menantikan program ini.

Sebulan sebelum acara, pihak camp school (“Leirskolen” dalam bahasa Norwegia) mengundang para orangtua/wali untuk memberi berbagai informasi terkait program. Dari pemaparannya tampak jelas dan menarik sekali. Intinya para murid akan diajak bertualang di alam terbuka. Menyiapkan jala, memancing, mendayung perahu dan kano, melaut (termasuk mencoba mengemudikan kapal mesin), eksplorasi ke bukit, pantai, dan hutan, sampai bagaimana bekerja sama dalam berbagai situasi.

**

Sampai menjelang hari H, kami serumah sibuk membantu Fatih packing. Rasanya aneh karena biasanya kalau packing artinya kami sekeluarga akan liburan. Tapi kali ini anak semata wayang saja yang berangkat. Hiks. Ada rasa sedih, cemas, sekaligus waswas karena ini pengalaman pertamanya jauh dari kami.

Apakah nanti dia bisa bangun subuh sendiri? Bagaimana mandinya? Apakah dia bisa sekamar beramai-ramai dengan temannya? Apakah dia akan kuat menahan dingin mengingat dia juga alergi dingin?

Baca Juga:  Apa Muhammadiyah Sudah Salah Arah atau Cuma Dahnil Saja?

Bismillah. Semoga semua lancar.

Melepas Fatih naik kapal dengan beberapa guru dan teman-temannya ada rasa terharu juga. In syaa Allah mereka semua baik-baik saja dan dalam perlindungan-Nya. Lagipula semua gurunya sudah sangat berpengalaman menjalankan program ini selama bertahun-tahun.

Hari pertama berjalan lambat. Apalagi Fatih nggak ada telepon sama sekali. Mungkin dia lupa (oh no…), atau mungkin ada kegiatan lain di malam itu. Memang hanya anak yang boleh telepon orangtua, bukan sebaliknya. Kalau tak ada kabar apapun dari anak, berarti dia baik-baik saja.

Kerinduan terobati karena tiap malam walikelas Fatih mengirimkan foto-foto kegiatan mereka seharian. Alhamdulillah semua tampak gembira dan sehat. Mohon maaf saya nggak bisa membagikan foto-fotonya di sini, karena saya menghormati privasi semua. Dan kami sudah sepakat bahwa semua foto yang dikirim di grup Facebook itu hanya boleh diunduh dan disimpan untuk keperluan pribadi saja.

Intinya kegiatannya memang seru. Kami jadi tahu kehidupan asli kaum Viking yang tak bisa jauh dari laut. Bahkan dari cerita Fatih kemudian saya tahu bahwa di pulau Røvær itu ada pasangan burung camar bernama Emil dan Ida yang sudah dianggap sebagai “sesepuh” pulau dan termasuk jinak pada penduduk setempat. Dari cerita Fatih juga saya tahu bahwa suara burung camar di pagi harilah yang menjadi alarm bagi Fatih untuk bangun dan salat subuh. Maa syaa Allah.

Soal salat ini memang saya wanti-wanti betul agar selalu dia jaga dalam situasi apapun. Saya juga sampaikan hal ini pada guru camp school, bahwa Fatih perlu waktu untuk menjalankan salat 5 waktu setiap hari. Syukurlah banyak waktu bebas yang memungkinkan Fatih mendirikan salat di sela-sela kegiatannya.

Baca Juga:  Borobudur yang Malang, Kini Dianggap Simbol Kebengisan Myanmar

Soal makanan halal juga saya sampaikan di awal. Untunglah mereka respek dan bisa memenuhinya. Selain Fatih juga ada Amar, teman sekelasnya asal Bosnia. Tiap hari mereka makan ikan atau kepiting hasil tangkapan sendiri. Walau pernah juga sekali mereka “terlupakan” ketika ada pesta pizza di malam terakhir. Untung gurunya baik, dan segera memesan pizza vegetarian.

Yang paling menggelitik bagi saya adalah aturan mandinya. Ternyata selama di sana anak-anak tidak boleh (tepatnya tidak memungkinkan untuk) mandi tiap pagi, karena pasokan air panas di tempat penginapan itu terbatas.

Tidak cukup stok air panas untuk mandi bagi 20-30 orang dalam satu waktu. Solusinya, mereka cukup sikat gigi dan cuci muka sebelum beraktivitas pagi. Hal biasa sebetulnya, karena orang Norwegia memang nggak terlalu hobi mandi pagi. Apalagi di musim dingin begini, yang kalau sering-sering mandi bisa membuat kulit jadi kering (karena kelembaban udara yang sangat rendah).

Di antara semua temannya, hanya Fatih yang mandi tipis-tipis dengan menggunakan waslap untuk menyeka badan, ketiak, muka, dan rambutnya.

“Aku jadi kayak anak bayi, Bunda. Cuma lap-lap aja nggak bisa mandi”.

Soal ritual tidur juga jadi cerita sendiri. Hanya Fatih yang tidur dengan baju piyama lengkap. Sementara sebagian besar temannya biasa tidur hanya dengan singlet dan celana dalam. Bahkan ada satu temannya yang hanya bisa tidur tanpa pakaian selembarpun.

“Untung aku nggak sekamar sama dia, Bunda. Kalau nggak, aku terpaksa tutup mata terus supaya nggak lihat dia bugil”.

**

Selebihnya cerita seru mengalir. Fatih menelepon kami di hari-hari selanjutnya. Alhamdulillah bisa mengobati kerinduan di hati ayah bundanya.

Meksi rumah terasa sepi karena sang “chatterbox” nggak ada, tapi saya dan suami sama-sama bersyukur dengan adanya program camp school ini. Sarana yang baik untuk melatih keberanian, kepercayaan diri, empati, toleransi, dan dan tentunya kemandirian.

Baca Juga:  Demi Pilgub DKI, Benarkah Ahok Lecehkan Kitab Suci?

Bagaimana dari program ini kami melihat bahwa memang orang Norwegia adalah sahabat alam. Selain memancing hingga ke tengah laut, anak-anak ini juga diajak untuk menjaga kebersihan pantai dan hutan, respek pada makhluk hidup lain dengan cara tidak mengganggu mereka, hingga belajar disiplin pada aturan. Setiap anak wajib pakai jam tangan agar selalu tahu dan menghargai waktu ketika mereka berada di alam terbuka.

Yang juga patut diacungi jempol adalah selama beberapa hari program berlangsung, anak sama sekali tak tersentuh TV, ponsel, dan gadget dalam bentuk apapun. Di situ memang tantangannya. Bagaimana agar anak bisa mengalihkan perhatian dan energinya ke kegiatan yang bermanfaat selain gadget. Dan ternyata mereka bisa. Walaupun diam-diam mereka juga kangen pada gadget dan omelan orangtua di rumah.

**

Alhamdulillah hari Kamis kemarin mereka semua kembali ke haribaan orangtua masing-masing dengan selamat dan sehat. Sewaktu kapal yang membawa mereka mulai merapat ke pelabuhan, saya kok merasa seperti sedang menjemput jamaah haji zaman baheula, ya. Apalagi ketika anak-anak itu melambai dan tersenyum bahagia dari dalam kapal yang membawa mereka pulang.

Pemandangan ketika anak-anak itu turun sambil memanggul tas, alat pancing, dan ikan hasil melaut, sungguh menghangatkan hati, meski saat itu Haugesund dibasahi gerimis dan tiupan angin laut membuat suhu udara semakin dingin menggigit.

Empat hari yang membawa pengalaman baru bagi kami. Juga segudang cerita seru yang tak habis meski sudah disampaikan berhari-hari.

***