Fakta

Bagaimanapun Pengakuan Kelirunya Sandiaga Uno Patut Diapresiasi

Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Pemprov DKI, Kebijakan, Tanah Abang, Pedagang Kaki Lima, Headline
Sandiaga Uno (Foto: tribunnews.com)
Dengan pernyataan Sandiaga jelas bahwa kebijakan penutupan jalan Tanah Abang akibat dorongan dari masyarakat dan Netizen, karenanya terkesan terburu-buru.

Sejak dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, mereka berdua langsung tancap gas. Mereka saling bahu-membahu membagi tugas dan wewenang masing-masing, sekalipun di lapangan wakil gubernur Sandiaga Uno lebih dominan dalam bersosialisasi dengan masyarakat Jakarta.

Mereka berdua gubernur dan wakil gubernur ini, ingin memenuhi janji-janji selama masa kampanye, salah satunya yaitu soal Pasar Tanah Abang. Untuk memenuhi janji para pedagang, maka ditutuplah sebagian lajur di jalan Tanah Abang, sebagaimana “berita lama” beberapa bulan lalu. Pedagang-pegadang kecil dibuatkan semacam tenda khusus untuk berdagang dan tidak boleh lagi berjualan di trotoar jalan.

Akibat kebijakan ini, tentu ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Bagi pedagang yang boleh berjualan di jalan, kebijakan ini sangat menguntungkan karena penghasilan mereka meningkat dan tidak main kucing-kucingan dengan Satpol PP. Tetapi bagi pedagang resmi yang mengkontrak ruko atau kios, kebijakan ini sangat merugikan karena penghasilan mereka menurun, pembeli lebih suka berbelanja di pinggir jalan karena murah dan tidak harus masuk ke dalam.

Dan ada juga supir-supir angkot yang merasa dirugikan dengan kebijakan ditutupnya lajur jalan di Tanah Abang karena mereka tidak bisa mengambil atau mengantar para penumpang langsung lewat di depan Pasar Tanah Abang.

Baca Juga:  Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Rasa Gubernur

Akhirnya beberapa sopir-sopir angkot melakukan protes dengan demo dan minta dialog dengan Pemprov supaya ada solusi dengan pendapatan para sopir yang semakin berkurang. Dialog dan solusipun dicari dengan pertemuan para sopir dengan wakil gubernur Sandiaga Uno, tetapi solusi sepertinya tidak memuaskan para sopir angkot yang tetap pengin melewati jalan di Tanah Abang di buka kembali seperti sedia kala.

Dan ada juga masyarakat yang melaporkan ke pihak kepolisian atas kebijakan ditutupnya jalan di Tanah Abang, bahkan sampai sekarang masih dalam tahap pemanggilan kepada pelapor dan pihak Pemprov atas kebijakan tersebut.

Dan pihak pemerintah DKI Jakarta keukeuh pada penderiannya bahwa penutupan jalan di Tanah Abang sudah dilakukan kajian yang komprehensif dan sangat matang, semata-mata demi pedagang kecil warga Jakarta.

Baru-baru ini wakil gubernur Sandiaga Uno mengakui kekeliruannya atas kebijakan penutupan jalan di Pasar Tanah Abang dan mengaku kebijakan penutupan jalan itu terlalu berburu-buru. Dan ia juga akan mengambil pelajaran dari kasus ini.

“Belajar dari tahap pertama, kami tidak ingin buru-buru. Kami didorong-dorong ‘kan sama kalian. Didorong-dorong sama Netizen, akhirnya terburu-buru,” kata Sandiaga Uno di Union Space V Office,Jakarta, Jumat 9┬áMaret 2018.

Jadi kebijakan penutupan jalan Tanah Abang akibat dorongan dari masyarakat atau Netizen dan karena terkesan terburu-buru. Artinya kajiannya tidak matang dan terkesan memenuhi janji-janji kampanye. Makane ojo kesusu alias jangan terburu-buru karena akibat kebijakan ini hanya memindahkan kemacetan di tempat lain.

Bahkan Sandiaga Uno juga menjelaskan kenapa penataan kawasan pasar Tanah Abang ini menimbulkan banyak masalah dan tidak beres sampai sekarang dan malah menimbulkan masalah baru.

Sandiaga Uno juga menjelaskan bahwa penutupan jalan Jati Baru Raya pada bulan Desember tahun 2017, Pemprov DKI belum berkoordinnasi atau komunikasi dengan Direktur Lalu Lintas

Baca Juga:  Pesan Politik di Balik Kacak Pinggangnya Anies di Depan Jokowi

Kepolisian atau Polda Metro Jaya, Ombudsman Nasional, pejalan kaki dan instansi terkait.

Tentu pengakuan wakil gubernur ini juga patut “diapresiasi” mengakui terus terang bahwa kebijakan yang mereka lakukan karena faktor terburu-buru.

Mudah-mudahan kedepanya lebih hati-hati dalam membuat kebijakan, jangan sampai gara-gara ingin memenuhi janji kampanye,h arus melanggar atau menabrak banyak aturan atau tidak sosialisasi dengan pihak lain.

Memang tidak mudah mengatur ibu kota Jakarta, mudah-mudahan di bawah gubernur Anies Baswedan dan wakil gubernur Sandiaga Uno Jakarta sebagai ibu kota lebih baik dan masyarakat Jakarta juga merasakan pembangunannya.

Maju Wakil Gubernurnya, Bahagia Gubernurnya!

***