Fakta

Golkar All Out untuk Khofifah, 2 Anggota Pemenangan Gus Ipul Mundur

Partai Golkar, Gerindra, Saifullah Yusuf, Khofidah Indar Parawansa, Tim Pemenangan, Pilgub Jatim 2018, Headline, Politik
Mesin politik Golkar sudah hidup di Pilgub Jatim (Foto: Monitor.co.id)
Pasangan Khofifah-Emil dianggap "Underdog" di Pigub Jatim, tetapi mesin Golkar sudah bekerja. Sebailknya, 2 tim pemenangan Gus Ipul mengundurkan diri.

Sebagai salah satu partai politik pengusung pasangan calon Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto, Partai Golkar mulai menyalakan mesin partainya. Pada Kamis, 8 Maret 2018, dua menteri dari Golkar mengadakan konsolidasi di DPD Golkar Jatim.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Menteri Sosial Idrus Marham bertemu dengan para pengurus Golkar Jatim untuk melakukan konsolidasi pemenangan paslon Khofifah – Emil dalam kontestasi Pilkada Jatim pada 27 Juni 2018 mendatang.

Konsolidasi tersebut dihadiri oleh Khofifah – Emil. Khofifah menyebutkan, konsolidasi ini menjadi bagian dari kekuatan menjelang Pilkada mendatang. Dukungan penuh dari Golkar dan semua sayap partisannya akan memperkuat dukungan di masyarakat Jatim.

Mantan Mensos ini menyebut organisasi dan elemen Golkar para muda-mudi yang seiring usia Emil. “Generasi muda ini seusia Mas Emil, semoga menjadi bagian dari proses adaptasi dan langkah kerja yang cepat untuk mendatang,” ujar Khofifah.

Ia menyinggung elemen perempuan dan teman-teman di kalangan perempuan. “Perempuan itu tak mudah pindah ke lain hati. Kita lihat di sekeliling Jatim hari ini sudah panen raya, padi telah menguning. Sudah berisi sebagaimana visinya (Golkar),” lanjutnya.

“Semoga panen ini menetes juga bagi petani Jatim,” ujar Khofifah. Menurutnya, sebagaimana Nawa Bhakti Satya, Golkar pun memiliki Panca Bhakti yang artinya sejalan, keduanya juga memiliki kesamaan visi dan misi yang kita akan baktikan untuk negeri ini, Indonesia.

Khofifah dan Emil mengucapkam terima kasih untuk kepercayaannya terutama dukungan Golkar dan semua jajaran pengurus partai ini yang sudah sama-sama berikhtiar membawa Jatim dengan seluruh elemennya untuk kesejahteraan rakyat yang kuat dan merata.

Menurut Airlangga, selain ketua partai termasuk Golkar, PPP, Demokrat, Nasdem, Ketua Tim Pemenangan juga Koordinator Antar Partai Martono, telah siap bahu-membahu dan memperjuangkan pemenangan ini.

“Mesin partai Golkar kini sudah utuh, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak sudah menjadi bagian dari Partai Golkar juga. Karena itu sudah menjadi kewajiban untuk kita menangkan. Mesin partai Golkar harus sudah dijalankan,” katanya.

“Partai Golkar itu demokratis, sekalipun sebelum keputusan ada beda pendapat, namun bila sudah dilaksanakan maka mari kita laksanakan. Siap pilih Khofifah Indar Parawansa, siap pilih Emil Dardak,” teriaknya lantang kepada seluruh kader dan elemen partisan partai ini.

Ketua Umum DPP Golkar itu menegaskan dan memerintahkan bahwa kemenangan Khofifah – Emil adalah harga mati bagi Golkar Jatim. Bahkan, ia menegaskan akan mengevaluasi kader dan fungsionaris Golkar jika mereka gagal memenangkan Khofifah – Emil.

Baca Juga:  Ketar-ketir Plt Gubernur dari Polri

“Seluruh kader dan fungsionaris Partai Golkar harus menciptakan prestasi. Dan prestasi itu adalah kemenangan bagi Khofifah – Emil. Saya akan lakukan evaluasi bagi pengurus partai. Dan Juni jadi evaluasi pertama untuk fungsionaris yang akan maju Pileg 2019,” ujarnya.

“Dapil mana saja yang menang. Saya akan minta laporan dari Plt Ketua,” lanjut Airlangga pada Rakor Pemilukada di Kantor DPD Golkar Jatim, Kamis 8 Maret 2108. Ia pun langsung menanyakan kesanggupan para Ketua DPD Golkar untuk menangkan Khofifah – Emil.

“Apakah Anda sanggup memenangkan Khofifah – Emil? “ tanya pria yang menjabat menteri dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo ini. Spontan saja seluruh Ketua DPD II Golkar se-Jatim menjawab kesanggupannya atas tantangan Ketumnya itu.

Airlangga menambahkan saat ini kekuatan mesin partai Golkar untuk menangkan Khofifah – Emil sudah mencapai 100 %. ”Kemarin memang mesin partai bergerak masih 48%. Namun, setelah Hasta Karya dan elemen Golkar menyatakan ikrar dukungan yang tadi dibacakan oleh Yusuf Husni, kini sekarang jadi 100%,” tegasnya.

Dalam arahannya Airlangga juga meminta sayap Golkar yang mewadahi anak-anak muda Golkar berkantor di posko pemenangan Kofifah – Emil, merencanakan ikut turun ke mana mendampingi Khofifah.

“Saya gak mau Bu Khofifah jalan sendiri , tanpa ada kader Golkar yang mendampinginya,” ungkap Airlangga. Bagi Golkar, Khofifah sudah bekerja bersama Jokowi, dengan baik dan sukses menurunkan angka kemiskinan.

Apalagi, lanjut Airlangga, Khofifah sudah melancarkan jalan Idrus Marham menjadi Mensos. “Sekarang waktunya Golkar melapangkan jalan Bu Khofifah menjadi gubernur Jatim,” tegas Airlangga disambut tepuk gemuruh peserta rakor.

Mengundurkan diri

Rakor serupa dilakukan parpol pengusung Saifullah Yusuf – Puti Guruh Soekarno di Hotel Singgasana Surabaya, Sabtu 10 Maret 2018. Rakor Tim Kampanye Gus Ipul – Puti Guntur se-Kabupaten – Kota Jawa Timur ini diikuti masing-masing 4 orang pengurus parpol.

Seperti diketahui, paslon Gus Ipul – Puti Guntur ini diusung dan didukung PKB, PDIP, PKS, dan Gerindra. PKS beralasan, dukungannya diberikan kepada Gus Ipul karena kedekatannya dengan mantan Wakil Gubernur Jatim selama ini.

Begitu halnya dengan Gerindra. Apalagi, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang dipastikan menjadi juru kampanye untuk pasangan Gus Ipul – Puti Guntur. Kedekatan Gus Ipul dengan Prabowo terlihat saat Pilpres 2014.

“Gerindra all out untuk memenangkan Gus Ipul – Puti Guntur. Yang jelas nanti Pak Prabowo bakal jadi jurkam,” tutur Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim, Hendro Tri Subiantoro, Kamis 11 Januari 2018, seperti dilansir berbagai media online.

Jejak digital menulis, pada Pilkada Jatim 2013, paslon Soekarwo – Gus Ipul (KarSa) diusung oleh koalisi tenda besar, yang terdiri dari Partai Demokrat, Golkar, Gerindra, PAN, PKNU, PKS, PPP, Hanura, PBR, dan PDS serta belasan partai nonparlemen.

Baca Juga:  Sampah Popok Bayi Kuasai Kali Brantas, Ecoton Ultimatum Menteri

Koalisi ini berhasil mengalahkan tiga paslon cagub-cawagub lain: Khofifah Indar Parawansa – Herman S. Sumawiredja yang diusung PKB dan sejumlah partai kecil, Bambang DH – Said Abdullah (diusung PDI)P, dan Eggi Sudjana – Muhammad Sihat (perorangan).

Nah, banyaknya pendukung KarSa memilih Prabowo – Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014 itu, karena semua partai pengusung Capres-Cawapres ini, yakni Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan PBB merupakan partai pengusung keduanya pada Pilkada Jatim 2013.

Sehingga, wajar jika dalam Pilkada Jatim pada 27 Juni 2018 nanti Gus Ipul – Puti Guntur didukung PKS dan Gerindra “secara pribadi”. Tapi, yang perlu dicatat, realitas akar rumput PKS dan Gerindra, “secara pribadi” pula lebih condong ke Khofifah – Emil.

“Secara formal sih partai mendukung Gus Ipul – Puti Guntur, tapi kita akar rumput rasanya masih tetap mendukung Ibu Khofifah,” ujar seorang tokoh Relawan Gerindra di Jombang kepada Pepnews.com. Apalagi, akar rumput PKS, “enggan” gabung PDIP.

Khofidah dan Ainun Jariyah (Foto: barometerjatim.com)
Khofidah dan Ainun Jariyah (Foto: barometerjatim.com)

Kekuatan dukungan atas Gus Ipul – Puti Guntur juga mulai berkurang. Setidaknya, ini terjadi di Sidoarjo dan Kabupaten Malang. Dua orang Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU, Hj. Ainun Jariyah dan Hj. Khofidah mundur dari Tim Pemenangan Gus Ipul – Puti Guntur.

Bahkan, keduanya telah resmi mengajukan surat pernyataan mundur dari tim pemenangan paslon nomor urut 2 tersebut. Mereka lebih memilih kembali ke “pangkuan” Muslimat NU. Ainun adalah Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Sidoarjo.

Ainun juga anggota Komisi A DPRD Sidoarjo dari Fraksi PKB yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan Gus Ipul-Puti Guntur untuk wilayah Sidoarjo. Namun, lewat surat pernyataannya, pada 18 Februari 2018, ia memutuskan mundur dari ketua tim pemenangan itu.

Alasan yang tertulis dalam surat, Ainun mengaku ingin fokus sebagai anggota DPRD serta Ketua PC Muslimat NU di Sidoarjo. “Ya, ingin fokus di legislatif dan Muslimat NU,” jawab Ainun singkat saat dikonfirmasi wartawan.

Sedangkan Khofidah adalah Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Malang. Anggota Komisi D DPRD Jatim dari Fraksi PKB ini ditunjuk sebagai tim kampanye. Pada 1 Maret 2018, ia juga menyatakan mundur dari tim kampanye Gus Ipul – Puti Guntur untuk Kabupaten Malang.

Baca Juga:  Perang Terbuka Iran versus Israel Tinggal Tunggu Waktu

Terkait pengunduran Ainun dan Khofidah ini, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur Nyai Hj Masruroh Wahid membenarkan kabar tersebut, Bahkan, keduanya sudah menghadap dirinya dan diminta agar tidak merangkap sebagai ketua PC Muslimat NU sekaligus tim pemenangan salah satu paslon pada Pilkada Jatim.

“Saya yang meminta mereka (Ainun dan Khofidah) untuk tidak merangkap, Muslimat NU kok merangkap jadi ketua pemenangan (paslon), apalagi tidak non-aktif. Makanya saya minta memilih,” tegas Masruroh saat dihubungi wartawan, Senin malam, 5 Maret 2018.

Dalam dialognya dengan Ainun dan Khofidah, Nyai Masruroh meminta keduanya memilih. “Saya kan tanya, sampean itu milih tim pemenangan apa tetap di Muslimat NU. Harus pilih salah satu, tidak bisa dua-duanya,” tegasnya, seperti dikutip SantriNews.com.

“Saya suruh mikir, akhirnya milih mundur dari tim pemenangan,” lanjutnya. Setelah mundur dari tim pemenangan Gus Ipul-Puti, Masruroh berharap keduanya membantu pemenangan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa pada Pilkada Jatim 2018.

“Ya pastilah saya minta membantu Bu Khofifah. Kalaupun terikat dengan PKB, saya minta minimal diam, tidak melakukan apapun untuk kompetitornya,” tegasnya. Ia juga memastikan, selain Ainun dan Khofidah tidak ada lagi ketua cabang Muslimat NU yang masuk tim pemenangan Gus Ipul – Puti Guntur.

“Cuma dua itu. Kalau lainnya kan memang anggota legislatif dari PKB, jadi masih dibebani fraksinya. Namun, tetap saya minta komitmennya, sebagai ketua cabang Muslimat NU untuk memenangkan ketua umumnya,” tegasnya lagi.

Masruroh juga mengaku sudah bertemu dengan ketua cabang yang juga anggota Fraksi PKB. Namun, karena bukan anggota tim pemenangan atau jurkam, ia hanya minta komitmennya untuk memenangkan Khofifah.

“Sudah ketemu. Tapi bukan tim pemenangan, bukan jurkam, jadi saya enggak bisa ambil langkah untuk memilih. Tadi itu, kalaupun terikat dengan partainya, minimal diam, tidak membantu kompetitor,” tandasnya. Tak hanya itu. Barisan Relawan Jokowi for President (Bara JP) pun kini mendukung Khofifah.

Karena dia dulu mati-matian menangkan Jokowi di Jatim bersama Dahlan Iskan. Malah aneh kalau Bara JP dukung Gus Ipul karena dulu Gus Ipul dukung Prabowo dan mengajaknya ekliling pesantren dan bertemu kiai NU di Jatim. Bahkan, sampai Prabowo diangkat sebagai anggota kehormatan Banser di Jatim.

***

Editor: Pepih Nugraha