Sketsa

KPK Lembaga yang Nyebelin, Halangi Bakti Anak pada Bapak

KPK, Calon Gubernur, Sulawesi Tenggara, Kendari, Walikota, Adriatma Dwi Putra, Asrun, Headline
Asrun dan Adriatma Dwi Putra di KPK (Foto: CNNindonesia.com)
Baru pertama kali terjadi di dunia bapak dan anak yang sama-sama pejabat dan calon gubernur dicokok komisi antirasuah terkait suap untuk kampanye cagub.

Komisi Pemberantasan Korupsi memang nyebelin. Beberapa hari lalu lembaga ini menangkap anak dan ayah dalam satu operasi OTT. KPK tidak sadar atau pura-pura bodoh? Apakah orang-orang di KPK tidak pernah makan sekolahan? Aaah… KPK memang tak punya perasaan!

Dalam era demokrasi Indonesia yang hebat seperti sekarang ini, sejumlah  anak  membantu orang tuanya untuk  menjadi bupati, walikota atau gubernur. Sebaliknya, banyak pula orang tua,kakak, adik,  om tante, keponakan, tetangga, kawan satu kampung, kawan seperjuangan masa susah, dan lain-lain  yang membantu menjadi bupati, walikota, atau gubernur.

Seseorang yang kemudian menjadi orang tentu tak lepas dari peran keluarga. Di negara kita yang kehidupan dan budanya penuh kekeluargaan ini, bila ada anggota keluarga yang punya cita-cita mulia biasanya didukung oleh keluarga dan para kerabat.

Dukungan itu banyak ragamnya, bisa berbentuk bantuan materi uang dan barang, doa, kata-kata motivasi, aksesibilitas, dan lain sebagainya. Membantu keluarga itu wajib hukumnya kalau tidak mau dicap anak durhaka.

Kali ini KPK kok tega banget menangkap seorang anak yang jadi walikota sedang melakukan misi mulia yakni membantu orang Bapaknya meraih cita-cita menjadi seorang gubernur.

Baca Juga:  Begini Penyebab Bapak-Anak di Kendari Kena Cokok KPK

Sebagai seorang anak yang baik dan berbakti sangatlah wajar membantu orang tua mewujudkan mimpinya. Mimpi itu bukan datang mendadak tapi sudah melalui kajian dan perencanaan yang panjang sehingga si Bapak merasa pantas menjadi gubernur.

Dengan menjadi gubernur, si Bapak akan bisa dapat gaji besar, berbagai fasilitas negara dan seabrek kemudahan yang kesemuanya itu tentuya bisa membantu perekonomian keluarga dan para kerabat. Dengan menjadi gubernur, si Bapak bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga besar.

KPK harus sadar dan mawas diri, janganlah menjadi lembaga yang sombong dan tak punya perasaan. Hargailah pendidikan keluarga dan budaya kekeluargaan di negeri ini. KPK harus ingat bahwa sejak di sekolah seorang anak diajarkan untuk membantu dan berbakti pada orangtua.

Seorang anak diharapkan kelak kalau sudah jadi orang wajib membantu orang tua. Itupun masih belum mampu membalas budi pada orang tua selama hidupnya. Bila si anak kiranya mampu secara ekonomi dan kemudian ada keinginan orang tua yang belum terwujud sangatlah wajar sang anak membantu orang tua mewujudkan keinginan itu.

Ada orang tua yang belum pernah jalan-jalan ke mall. Kalau sang anak bisa mengantar dan traktir orang tua makan dan belanja di mall, apakah sang anak dan orang tua harus ditangkap?

Ada orang tua yang ingin punya smartphone touchscreen edisi terbaru yang banyak game nya, kalau sang anak punya uang, apakah salah membelikan orang tua smarthphone? Kalau ada orang tua punya keinginan jalan-jalan ke Hollywood Amerika, apa salahnya anak membiayainya? Pun dulu segala kebutuhan si anak dibiayai orang tua.

Baca Juga:  Walikota Termuda dan Ayahnya Yang Cagub Ini Kena Tangkap KPK

Nah bila ada ada orang tua yang ingin jadi gubernur karena selama hidupnya belum pernah jadi gubernur, sangatlah wajar bila sang anak membantu orang tua mewujudkan cita-cita si orang tua, misalnya mendukung segi pembiayaan, mencarikan dukungan politik dan sponsor, mendampingi kampanye, mempromosikan kehebatan orang tua.

Apalagi bila sang anak seorang pejabat publik akan sangat mumpuni punya kekuasaan, uang, jaringan politik dan bisnis. Inilah salah satu pembuktian anak yang baik dan berbakti pada orang tua.

Ketika kemudian KPK menangkap anak sekaligus bapaknya yang sama-sama memiliki niat dan cita-cita mulia, maka KPK sungguh tak mengerti nilai-nilai dalam keluarga. KPK sungguh tak tahu malu!

Ihhhh….KPK nyebelin bangeet, deh..!

Heu…heu…heu…

 

***

Editor: Pepih Nugraha