Wacana

Pesan Politik di Balik Kacak Pinggangnya Anies di Depan Jokowi

Jokowi dan Anies (Foto: Facebook.com)
Jokowi dan Anies (Foto: Facebook.com)
Politikus berkomunikasi dengan gayamasing-masing, baik kepada lawan politik maupun publiknya, demikian pula saat Anies berkacak pinggang di depan Jokowi.

Bagusnya sih emang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan harus dirapatkan dengan Presiden Jokowi kemana mana, biar tau kelakuan Anies ‘kan. Dalam politik Indonesia gesture dalam berbicara itu sudah menunjukkan posisi, bahkan dalam sopan santun ala timur gesture itu sangat berpengaruh.

Dalam Psikologi kekuasaan gesture tubuh adalah menunjukkan sikap hormat pada seseorang yang secara kuasa lebih tinggi.

Namun dalam kasus Anies, saat ini adalah dia-lah satu satunya orang di luar Prabowo Subianto yang secara potensial secara politis berhadapan dengan Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2019.

Pesan yang disampaikan dalam gesture ini adalah sikap Anies yang sejajar dengan Jokowi, bahwa dia adalah pesaing yang sepadan terhadap Jokowi sementara lihat gesture tubuh Menpora yang bersikap tidak seperti Anies.

Ini biasa dalam pertarungan kekuasaan dan bisa dibaca sebagai sebuah bentuk narasi panggung yang ingin disampaikan,

Berbeda dengan Jokowi yang sikapnya selalu menghormat pada orang yang dianggap lebih, seperti mencium tangan, bahkan sikap ini ia tunjukkan pada Bibit Waluyo juga yang saat itu berseteru dengannya. Ia terus menunduk, dengan SBY saat itu, bahkan Jokowi mengangkat angkat gong besar dan ditepukin banyak orang.

Baca Juga:  Apakah Politik "Penzoliman" Akan Melambungkan Nama Anies?

Anies berusaha menjadi antitesis Jokowi, tapi ada satu kekurangan Anies ia tidak punya popularitas yang menyamai Jokowi di tingkat massa. Jadi ketika Jokowi dan Anies dipasang bareng terus dalam satu frame pemberitaan, bisa saja rating Anies akan kurang karena berhadapan dengan popularitas Jokowi.

Foto di atas ini saja secara perlahan mengurangi popularitas Anies.┬áJadi rupa rupanya pertarungan politik sekarang dilakukan dengan sangat senyap dan berbentuk interaksi panggung, beda dengan di masa Pilkada Ahok panggung politik adalah “panggung statement” siapa yang memenangkan opini atas statement dialah yang menang…

***

Editor: Pepih Nugraha