Romansa

Muslihat Hakim Sarmin (8): Muslihat Hakim Sarmin

Cerita Bersambung, Cerbung, Headline, Fiksi, Novel
Ilustrasi

Cerita bersambung ini diadaptasi dari naskah pertunjukan Agus Noor berjudul Hakim Sarmin

Suster Tina menuntun Hakim Sarmin kembali ke selnya. Setelah itu ia membantu Suster Imelda dan Suster Nora membereskan peralatan yang dipakai untuk Uji Pemikiran. Ketiga suster itupun kemudian berlalu keluar dari ruangan.

Hakim Sarmin duduk dengan lunglai di pojokan selnya. Nampaknya sepele, namun Uji Pemikiran tadi ternyata cukup menguras energinya. Dr. Putra telah selesai dengan tabletnya. Dia mendekati Hakim Sarmin.

“Saya rasa cukup untuk hari ini,” kata dr. Putra. “Istirahatlah…”

Hakim Sarmin menegakkan duduknya dan menatap lurus ke depan.

“Tempat yang berbeda, ternyata membuat sesuatu tidak lagi sama,” kata Hakim Sarmin. “Entah memang seperti itu adanya atau saya masih dalam pengaruh uji tadi.”

“Apa yang Anda maksud?” tanya dr. Putra mengerutkan dahinya.

“Ketika saya disini, berbeda dengan ketika saya berada di luar sel. Di dalam sini saya merasakan hal-hal yang tidak bisa saya rasakan ketika berada di luar sel. Yang di luar sel pasti menganggap saya sedang terkurung, padahal dari sini saya justru bisa melihat betapa menderitanya semua orang yang hidup di luar sel. Yang di luar sel merasa hidupnya merdeka, padahal mereka terpenjara oleh dunia dan kebebasannya,” kata Hakim Sarmin panjang.

Hakim Sarmin lalu berdiri dan bergaya seperti seorang deklamator.

“Saya ingat puisi yang ditulis oleh seorang penyair,” katanya. “Aku telah merdeka dari segala, tapi tidak dari pelukanmu. Kita tak akan pernah mengerti kemerdekaan, bila tidak pernah merasakan pelukan. Sebaik-baik pelukan, ialah pelukan yang membebaskan.”

Dr. Putra memandangi Hakim Sarmin dengan kagum ketika Hakim Sarmin membacakan puisi Agus Noor yang berjudul Merdeka dari Pelukan. Dr. Putra kemudian bertepuk tangan dan memuji Hakim Sarmin.

Baca Juga:  Seriuskah Jusuf Kalla Mencalonkan Diri Lagi sebagai Cawapres?

“Baru kali ini saya tahu ada hakim yang suka berpuisi,” kata dr. Putra.

Hakim Sarmin mengangkat bahunya.

“Jangan lupa, Dok,” katanya sambil tersenyum. “Hukum dan puisi itu sebenarnya punya persamaan. Sama-sama rumit untuk ditafsirkan.”

Hakim Sarmin lalu keluar dari sel yang ternyata belum dikunci kembali.

“Dokter mengapa tidak mencoba,” bujuk Hakim Sarmin. “Duduk di kursi saya dalam sel itu. Cobalah perhatikan apa yang ada di luar dari dalam sel itu. Kita bisa duduk santai dan berbincang…”

Kata-kata Hakim Sarmin seperti membius dr. Putra. Walaupun tidak beranjak dari tempatnya berdiri, nampak jelas bahwa dr. Putra tertarik untuk masuk dalam sel itu.

“Masuk dalam pikiran seseorang akan membuat kita memahami bagaimana orang itu memahami dunia,” kata Hakim Sarmin. “Bukan begitu, Dokter?”

Tanpa sadar, dr. Putra sudah masuk dalam sel itu dan duduk di kursi yang ada di sana.

“Anggap saja rumah sendiri, Dokter,” kata Hakim Sarmin sambil tersenyum.

Dr. Putra memandangi sekeliling sel itu seakan dia adalah tamu yang kagum pada rumah yang dimasukinya.

“Ternyata dunia terasa lebih luas di sini,” ungkap dr. Putra.

“Batas dunia hanyalah pikiran kita, Dokter,” kata Hakim Sarmin.

Dr. Putra masih memandangi keliling sel dengan penuh ketakjuban.

“Saya tidak menyangka bisa melihat langit yang begitu biru di sini,” kata dr. Putra seperti sedang mengkhayal. “Saya bisa merasakan hembusan angin yang lembut membangkitkan gairah kebebasan. Ada juga kelepak sayap burung melintas senja. Di antara bayangan tiang serta temali kapal. Gerimis mempercepat kelam…”

Ketika dr. Putra mulai membacakan puisi Senja di Pelabuhan Kecil milik Chairil Anwar, ia tidak menyadari kalau Hakim Sarmin diam-diam bangkit dan mengunci pintu sel. Hakim Sarmin tersenyum menyeringai.

Baca Juga:  Dianggap Haram, Saham Bir Milik Pemprov DKI Pun Bakal Dilepas

“Selamat,” katanya. “Semoga Dokter tidak mati di penjara pikiran Dokter sendiri.”

Dr. Putra mulai mencerna apa yang sedang terjadi. Dia menjadi panik dan berteriak memanggil-manggil Hakim Sarmin. Hakim Sarmin mengabaikannya. Ia mengambil sesuatu dari sakunya yang ternyata adalah janur kuning. Dililitkannya janur kuning itu di lehernya seperti mengenakan kalung. Hakim Sarmin lalu berdiri di atas kursi yang ada.

Entah dari mana, muncul Komandan Kuncoro, Komandan Keamanan Kota. Tampak di leher Komandan Kuncoro terliliti kalung janur kuning. Komandan Kuncoro memberi hormat pada Hakim Sarmin. Sedangkan dr. Putra, terdiam untuk mencerna apa yang terjadi di ruangannya itu.

(bersambung)

***

Cerita sebelumnya:

Muslihat Hakim Sarmin (7): Uji Pemikiran