Romansa

Cuma Bicara

Romeo and Juliet (Foto: The New Yorker)
Romeo and Juliet (Foto: The New Yorker)

Lagi-lagi kita seperti ini.

Kita memulai dengan lambat, kalimat demi kalimat tergelincir perlahan. Anak kalimat menggantung, kata demi kata tersendat.

Kamu bertanya mengapa aku berbicara dengan nada frustrasi. Apakah aku bosan denganmu?

Aku tertawa kecil bagai tercekik.

“Reaksimu berlebihan … Aku tenang, kok,” kataku.

Kamu menyeringai dan mengangguk berulang kali. Sekarang kita benar-benar mulai.

“Dengar, aku minta maaf. Hanya saja, aku benci harus mengulangi kata-kata yang sudah kukatakan padamu. Kamu itu menyebalkannya sekali. Kamu pasti ngomel kalau harus melakukannya juga.”

“Enggak masalah. Aku yang duluan mengeluh waktu kamu menanyakan hal yang sama berulang kali. Jadi setiap kesempatan, kamu pasti membalas dendam. Aku tahu, kok.”

“Ayolah. Kamu tahu bukan itu yang kumaksud. Berhentilah bereaksi berlebihan.”

‘Oh ya, inilah Juliet si ratu drama. Ha ha. Aku tahu kamu ingin menyebut ‘Jancuk’. Oh ya, je-je……. Juliet Jancuk. Dua J. Ha ha.”

‘Baiklah, dengar. Maafkan aku. Ini takkan terjadi lagi.”

“Janjimu, Tuan Romeo yang terhormat . Apakah aku belum pernah mendengar janjimu sebelumnya? ‘Ini takkan terjadi lagi’, ‘Ini terakhir kalinya.’… Ha ha.”

“Juliet, aku bilang aku minta maaf. Berhentilah bersikap emosional!”

“Ha ha. Baiklah. Aku enggak akan emosional. Aku mendengarmu saja. Aku akan seperti kamu Tuan Anti-Emosional-Dengan-Nada-Bicara-yang-Keras. Aku akan seperti kamu. Lihat?”

“Kenapa kamu selalu seperti ini?”

“Seperti apa, Romeo? Kenapa aku harus seperti apa?”

“Ya sudah. Lupakan saja.”

‘Ha ha. Aku tahu. Tuan-Romeo-Ya-Sudah. Tuan-Romeo-Lupakan-Saja. Kok aku seperti merasa ada yang sedang emosional di sini? Ha ha.”

Aku hanya menyeringai menerima sarkasme itu dan mengatupkan bibirku rapat-rapat sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumahmu. Kamu turun dan kita tidak mengucapkan ‘selamat berpisah’.

Baca Juga:  Facebook Indonesia Memihak LGBT, Tak Peduli Moral Bangsa Hancur

Kamu membanting pintu mobil dan kaget sendiri oleh suaranya. Terselip ‘maaf’ tanpa membuka bibirmu. Aku memperhatikan kamu mendorong pintu gerbang dan masuk ke dalam rumahmu.

Sambil tertawa kecil, aku menghidupkan mesin mobil dan melaju.

Ini bukan akhir dari dunia. Dunia kita.

Aku takkan begadang semalaman, bertanya-tanya apakah ini merupakan puncak akhir hubungan emosional kita. Ini bukan apa-apa.

Kita hanya bicara.

Bandung, 24 Februari 2018

***