Romansa

Muslihat Hakim Sarmin (7): Uji Pemikiran

Cerita Bersambung, Cerbung, Novel, Fiksi, Headline
Pemain biola (Foto: Tempo.co)

Cerita bersambung ini diadaptasi dari naskah pertunjukan Agus Noor berjudul Hakim Sarmin

Sayup-sayup terdengar suara biola mengalun dari sebuah pemutar musik. Di sebuah ruangan yang dilengkapi dengan sel seperti yang ada di penjara, nampak Hakim Sarmin, berdiri di atas kursi kayu di dalam sel menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang bermain biola. Suara gesekan biola terus mengalun dan Hakim Sarmin, dengan penuh penghayatan, terus menggerakkan tangan dan badannya. Dia berdiri tegak di dalam jeruji yang mengerangkengnya.

Tak berapa lama, muncul dr. Putra. Di ambang pintu dia berhenti kemudian memandangi Hakim Sarmin yang tengah asyik di dalam jeruji besinya. Dr. Putra berjalan ke arah pemutar musiknya dan mematikan alat tersebut. Alunan suara biola berhenti.

Hakim Sarmin tidak terpengaruh. Ia terus bergaya memainkan biolanya dengan penuh penghayatan. Dr. Putra mendekati kerangkeng Hakim Sarmin dan memandanginya.

“Menyenangkan sekali melihat Anda begitu serius memainkan biola, Hakim Sarmin,” kata dr. Putra.

Hakim Sarmin terus memainkan biolanya dan tidak menghiraukan dr. Putra.

“Saya sampai merinding mendengar permainan biola Anda, Hakim Sarmin,” lanjut dr. Putra. “Seolah ada ribuan peri kecil yang beterbangan dari biola Anda. Saya bisa merasakan kehadiran malaikat yang begitu takjub dengan permainan Anda. Suara lantunan biola Anda sungguh mempesona.”

“Saya tidak mendengar apa-apa,” kata Hakim Sarmin sembari terus memainkan biolanya.

“Itulah hebatnya Anda,” puji dr. Putra. “Anda mampu menghadirkan suara yang tidak ada. Seperti suara Tuhan, yang hanya bisa didengar oleh mereka yang beriman.”

Hakim Sarmin berhenti memainkan biolanya dan terdiam sejenak. Setelah beberapa saat dia menangkupkan tangannya di depan dada dan membungkuk sambil berkata, “Amitaba…”

Baca Juga:  Agus Harimurti, Aceh, Pelukan Istri, dan Kisah Cinta Annisa

Dr. Putra terkesima melihat Hakim Sarmin. Selang berapa lama, dia menunjukkan wajah yang serius.

“Anda bisa bersandiwara dengan orang lain tapi tidak di hadapan saya, Hakim Sarmin,” kata dr. Putra. “Jadi, tidak usah berpura-pura pada saya.”

Dr. Putra meraih kursi dan menariknya mendekati pintu jeruji besi yang di dalamnya ada Hakim Sarmin.

“Bagi orang lain, Anda terlihat telah menghancurkan hukum,” kata dr. Putra. “Bagi saya, Anda adalah pemikir paling brilian yang bisa melihat hukum dengan cara yang berbeda. Di zaman yang serba gila ini, persoalannya bukan kita ikut gila atau tidak. Namun ini bagaimana memahami kegilaan itu dalam konstruksi pikiran yang tidak dibatasi oleh teori gila.”

Hakim Sarmin menggaruk-garuk kepalanya.

“Saya gak paham Dokter ngomong apa,” kata Hakim Sarmin.

“Apa yang kita pikirkan, akan menentukan kenyataan apa yang kita pikirkan,” kata dr. Putra sambil tersenyum. “Saya tau apa yang Anda pikirkan.”

“Memangnya saya berfikir apa?” tanya Hakim Sarmin.

Dr. Putra seperti sudah kehabisan kesabaran. Dia mulai membentak Hakim Sarmin.

“Sudahlah, Hakim Sarmin,” teriaknya. “Jangan berpura-pura lagi.”

Hakim Sarmin agak terkejut dengan bentakan dr. Putra. Dia kini terdiam dan tidak berkata-kata. Dr. Putra kemudian membunyikan bel.

“Siapkan semua!” perintah dr. Putra begitu melihat Suster Tina muncul.

Tanpa berkata-kata Suster Tina menganggukkan kepala dan keluar. Beberapa saat kemudian Suster Tina datang bersama Suster Imelda dan Suster Nora datang membawa peralatan medis dan sebuah kursi yang mirip dengan kursi dokter gigi.

Setelah menyiapkan alat-alat, Suster Nora membuka kerangkeng Hakim Sarmin.

“Duduklah di sini Hakim Sarmin,” kata dr. Putra sambil menunjuk kursi dokter gigi itu. “Saya ingin mencoba mengembangkan ekperimen tingkat lanjut untuk memahami bagaimana pikiran kita terkoneksi. Saya menyebut ini sebagai Uji Pemikiran.”

Baca Juga:  Arwah

Hakim Sarmin duduk di kursi dokter gigi dengan santai walaupun dari matanya terlihat bahwa dia sedang was-was. Suster Tina memasang topi berlampu di kepala Hakim Sarmin setelah sebelumnya mengikat tangan dan kaki Hakim Sarmin.

“Siapkan dirimu, Hakim Sarmin,” kata dr. Putra sambil menggosokkan kedua tangannya dengan bersemangat.

Atas perintah dr. Putra, Suster Tina mengecek denyut jantung Hakim Sarmin dan menyuntikkan suatu obat padanya. Hakim Sarmin tampak kejang-kejang. Lampu pada topi yang dikenakan oleh Hakim Sarmin telihat berkedip. Hakim Sarmin bergetar kejang. Tubuhnya menggigil dan terus bergetar sampai beberapa menit sebelum berhenti.

“Saya akan menanyakan pertanyaan standar, Hakim,” kata dr. Putra. “Yang pertama, mengapa Anda tidak memenjarakan koruptor?”

“Memenjarakan koruptor adalah pekerjaan yang sia-sia,” jawab Hakim Sarmin tenang. “Penjara adalah tempat yang nyaman untuk koruptor. Mengirimkan koruptor ke penjara tidak berarti menghukum mereka. Justru hal itu malah memberi mereka fasilitas untuk menikmati hidup nyaman dalam penjara.”

“Kalau begitu, mengapa tidak dihukum mati saja?” tanya dr. Putra lagi.

“Menurut saya itu tidak adil,” kata Hakim Sarmin. “Menghukum mati mereka sama saja membebaskan mereka dari tanggung jawabnya.”

“Bagaimana dengan gagasan agar koruptor dimiskinkan?” tanya dr. Putra.

“Dalam undang-undang dasar, orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara,” jawab Hakim Sarmin. “Kalau koruptor menjadi miskin, mereka berarti menjadi tanggung jawab negara. Itu malah akan membebani anggaran negara.”

Dr. Putra terdiam sejenak. Dia membaca sesuatu di tablet yang sejak awal percobaan tadi dipegangnya. Dia kemudian tersenyum simpul.

“Saya rasa cukup,” kata dr. Putra sambil mengangkat tangannya.

Perawat-perawatnya memahami kode itu. Suster Tina melepas topi lampu dari kepala Hakim Sarmin. Hakim Sarmin bangkit dari kursinya dengan tubuh lemas. Ia nyaris jatuh. Suster Tina buru-buru menolongnya. Suster Imelda dan Suster Nora merapihkan alat-alat yang tadi digunakan.

Baca Juga:  Islam Nusantara dan Soal Akulturasi Agama-Budaya

(Bersambung)

***

Muslihat Hakim Sarmin (6): Kerakusan Memang Mahal Ongkosnya