Wacana

Memulai Pendidikan Karakter dengan Kitab Ta’lim al Muta’allim

Pendidikan Karakter, Sampang, Madura, Ulama, Muhadjir Effendy, Ahmad Budi Cahyono, Headline
Ahmad Budi Cahyono (Foto: Kumparan.com)
Kitab Ta'lim Muta'allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji yang menjelaskan tentang metode belajar yang baik, bimbingan agar mendapatkan ilmu bermanfaat.

Peristiwa yang menimpa Ahmad Budi Cahyono, 27 tahun, guru tidak tetap (GTT) di SMAN 1 Torjon Kabupaten Sampang, Madura, yang dianiaya muridnya sendiri hingga meninggal, Moh. Halili, 18 tahun, jelas membuat miris dunia pendidikan kita.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy akhirnya turun ke Sampang, Senin 12 Februari 2018. Menurut Mendikbud, membangun karakter siswa itu harus dimulai dengan penataan hubungan antara guru dengan siswa yang menjadi semacam “kontrak belajar”.

“Dengan begitu ada kesepahaman antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada pedoman yang dipakai pegangan bersama. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi kedua belah pihak,” lanjut Muhadjir Effendy.

“Kontrak belajar” itu selama ini masih belum seksama, sehingga bisa memantik konflik atau setidaknya hubungan yang tidak harmonis guru dengan murid atau wali murid. Ada juga guru yang diadukan ke polisi karena memberi sanksi fisik kepada murid.

Inilah yang kemudian ditafsikan sebagai tindak kekerasan. Bahkan, sampai ada kasus guru dipidana karena memberikan hukuman fisik kepada murid. Yang lebih fatal, ada kasus wali murid menganiaya guru.

“Orang tua dan anaknya kompak menganiaya gurunya seperti di Makassar. Bahkan, murid menganiaya guru hingga tewas seperti guru Ahmad Budi Cahyanto, guru SMAN 1 Torjun, Sampang karena diduga dianiaya muridnya sendiri,” ungkap Muhadjir.

Penataan hubungan guru-murid ini bukan hanya untuk mencegah konflik dan disharmonisasi. Yang lebih utama adalah agar proses pendidikan bisa efektif. Guru bisa mendidik muridnya secara benar dalam arti mengembangkan harkat dan martabat kemanusiaannya secara utuh.

“Bukan sekadar mengajar. Karena pada dasarnya tugas substansial paling utama guru itu adalah mendidik, baru kemudian mengajar,” ujar Mendikbud. Ia menyebut, ada empat tugas utama substansial guru, yaitu mendidik, mendidik, mendidik, dan mengajar.

Dalam penataan hubungan, Muhadjir mengaku terus terang terinspirasi dari kitab Ta’lim al Muta’allim karya Syekh Burhanuddin Az-Zanurji. Ia menyampaikan itu saat silaturahmi di Ponpes Al Ihsan, Omben, Sampang asuhan KH Mahrus Malik, Senin 12 Februari 2018.

Dalam silaturahmi bersama beberapa ulama itu, Mendikbud juga menerima buah pemikiran Aliansi Ulama Madura (AUMA) yang disusun dalam Maklumat Guru. Kitab Tal’lim al Muta’allim itu menjadi standar wajib di pondok pesantren.

Baca Juga:  Menteri Muhadjir Effendy Ingin Agar SMK Garam di Madura Segera Berdiri

Sementara Muhadjir menilai, pesantren telah mampu menjadi contoh pendidikan karakter yang bagus. Yang menjadi masalah, terdapat sekitar 53 juta siswa yang tidak berada di pesantren. “Nah, bagaimana siswa-siswa ini mendapat pendidikan karakter yang kuat seperti halnya santri atau murid di pondok pesantren,” tanya Muhadjir.

Gayung pun bersambut. Kiai Mahrus Malik, yang masih kerabat dekat kiai linuwih almarhum KH As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo, ini menegaskan, gagasan Mendikbud itu sangat tepat.

Kitab itu memiliki kandungan sangat lengkap untuk mendidik siswa memiliki akhlak yang mulia. Membangun sikap ikhlas, dedikatif guru. “Di pesantren kitab itu diajarkan selama setahun baru kemudian tarbiyah,” kata Kiai Mahrus Malik.

Para ulama Madura prihatin dengan terjadinya perilaku murid yang tidak menghormati guru. Bahkan, sampai tega dan berani melakukan penganiayaan hingga meninggal dunia. Guru memiliki posisi yang terhormat di dalam Islam.

Guru bagi anak didik itu seperti keberadaan Nabi bagi umatnya. Mendasarkan, pada Qur’an Surat Fath ayat 9, dengan demikian murid wajib menghormati, melaksanakan dan membela. Manusia, kecuali Nabi dan Rasul, menerima ilmu melalui guru.

“Ilmu dan pendidikan yang diberikan guru kepada murid itu adalah sebaik-baik pemberian yang menjadikan anak didik beruntung selama-lamanya,” tegas Kiai Mahrus Malik. Bisakah kitab Ta’lim al Muta’allim diajarkan di sekolah?

Muhadjir Effendy bersama ulama Madura (Foto: Mochamad Toha)
Muhadjir Effendy bersama ulama Madura (Foto: Mochamad Toha)

SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki pengalaman, mengambil insirasi dan saripati kitab tersebut untuk diajarkan kepada para siswa dengan diintegrasikan kepada kegiatan belajar membelajarkan yang lain. Baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Menurut Kepala SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo Aunur Rofiq, kitab itu sangat memadai untuk membangun akhlak murid, khususnya dalam interaksiknya dengan guru. Proses pendidikan bisa saksama hanya jika murid menghormati guru.

“Murid percaya kepada guru. Apalagi di tengah jungkir balik nilai-nilai sosial dan keluarga, kitab Ta’lim al Mut’allim adalah jawaban yang tepat,” ujar Aunur Rofiq. Kalau berpedoman pada kurikulum yang ada hampir mustahil menjadikan mata pelajaran sendiri.

Ta’lim Al-Muta’allim

Kitab Ta’lim al-Muta’allim ila Thariqah al-Ta’allum yang lebih dikenal dengan nama Ta’lim Muta’allim, adalah satu-satunya karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji. Di dalam kitab ini, al-Zarnuji menjelaskan tentang metode belajar yang baik.

Ia membagi kitabnya ini dalam 13 bab, yang semuanya itu dimaksudkan agar seorang pelajar bisa mendapatkan ilmu dengan baik dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Di ponpes, khususnya yang berbasis salafiyah (tradisional), kitab ini adalah salah satu yang dipelajari.

Kitab ini menjadi acuan sekaligus bimbingan bagi penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dalam kitab ini banyak sekali terdapat petunjuk bagi seorang penuntut ilmu.

Misalnya, dalam memilih guru atau teman sebagai “kawan” berdiskusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam masyarakat. Al-Zarnuji juga menuliskan tentang cara memuliakan ilmu, orang yang berilmu (guru), kewajiban seorang murid sebagai penuntut ilmu, dan lain sebagainya.

Mengutip Republika.co.id, dalam hal hubungan dengan seorang teman, ia menyatakan: Laa tashhibu al-Kaslan fi haalaatihi, kam Shaalih bifasaadi Aakhir yufsidi (Janganlah engkau bergaul dengan seorang yang pemalas, banyak orang baik lantaran bergaul dengan orang yang rusak tingkah lakunya, akhirnya ia menjadi rusak).

Dalam kitab Ta’lim alMut’allim, sangat mengedepankan aspek moral dalam proses belajar mengajar. Moralitas harus dimiliki pendidik dan peserta didik. Dalam Ta’lim al-Muta’allim sangat diagagungkan ilmu agama yang berorientasi untuk kepentingan kehidupan di akhirat.

Baca Juga:  Orang Madura Itu Punya Falsafah “Bhuppa’ Bhâbhu’ Ghuru Rato”!

Kitab ini juga menyatakan bahwa setiap peserta didik harus memiliki sikap yang terpuji, antara lain: 1. Memuliakan pendidik; 2. Mengagungkan ilmu; 3. Menghormati Teman dan Bersikap Asih; 4. Bersikap Wira’i; 5. Penuh dengan Sikap Tawakkal;

6. Menghadap Kiblat ketika Belajar. Corak pemikiran pembelajaran dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim bersifat mistik-sufistik. Artinya, sangat mengedepankan aspek spiritual atau moral kepada Allah SWT. Di Madura sendiri sudah ada falsafah.

Orang Madura itu punya pakem yang harus dipatuhi, yaitu: Bhuppa’ Bhâbhu’ Ghuru Rato. Kalimat itu dibaca, Bhuppak Bheubuk Ghuru Rato atau dalam bahasa Indonesia: Bapak Ibu Guru dan Raja.

Peribahasa itu menggambarkan tingkat penghormatan orang Madura terhadap manusia dan lingkungannya di mana mereka berada. Makanya, orang Madura itu selalu dengan mudah berusaha dan menyesuaikan dengan lingkungannya.

***

Editor: Pepih Nugraha