Aksara

Bung Karno Tidak Masalah Memilih Berdasarkan Agama

Sejarah, Soekarno, Bung Karno, Suara, Pemilu, Agama, Headline, Pidato, Pemimpin
Soekarno (Foto: Steemkr.com)
Memilih pemimpin berdasarakan agama tidak melanggar konstitusi. Boleh memilih berdasarkan agama, juga boleh memilih bukan berdasarkan agama.

Pada acara Ultah TV One yang ke-9, mengundang sejumlah tokoh. Semua tokoh bicara soal kebangsaan. Semuanya bicara normatif, cenderung membosankan karena mengulang-ulang apa yang sudah sering mereka ucapkan di media.

Untung ada Prof. Mahfud MD. Dia bicara apa adanya tanpa merasa risih karena secara tidak langsung menjadi antitesa pembicara sebelumnya.

Prof Mahfud MD mengatakan, persoalan pluralisme sudah selesai. Kegaduhan belakangan ini bukan soal pluralisme, tapi soal keadilan. Sekarang orang banyak yang takut bicara keadilan karena takut dituduh anti pluralisme. Takut berhadapan dengan hukum. Ada yang menuntut keadilan langsung dituduh anti pluralisme.

Memilih pemimpin berdasarakan agama tidak melanggar konstitusi. Boleh memilih berdasarkan agama, juga boleh memilih bukan berdasarkan agama.

Banyak orang mengaku Soekarnoisme, tapi tidak paham ajaran Bung Karno. Bung Karno juga tidak masalah memilih berdasarkan agama, malah menyuruh memilih berdasarkan agama. Untuk memperkuat argumennya, Prof Mahhfud mengutip bagian pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Berikut kutipan bagian pidato Bung Karno:

“Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam –maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapat itidak lain tidak bukan hati Islam.Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan.

Baca Juga:  Di Antara Soekarno dan Jokowi

Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan.

Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini.

Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar h i d u p di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam.

Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah didalam sidang ini berapa persen yangmemberikan suaranya kepada Islam?

Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.

Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada.

Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara kristen bekerjalah sehebat- hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar suapaya sebagian besar dari pada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang kristen, itu adil -fair play! Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya.

Baca Juga:  Indonesia Sudah Khilafah (2) Soekarno: Waliyul Amri Dloruri Bis Syaukah

Jangan kira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pikiran kepada kita,agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar dari padanya beras, dan beras akan menjadi nasi Indonesiayang sebaik-baiknya.”

Pidato lengkapnya bisa dibaca di tautan ini.

Biasanya Yeny Wahid yang selalu bicara soal kebhinekaan, soal jangan membawa-bawa agama dalam politik, entah kenapa setuju pada argumen Pak Mahfud. Entah karena merasa tidak enak dengan pak Mahfud atau karena telah tercerahkan.

Entahlah.

14022017

***

Editor: Pepih Nugraha