Wacana

Potensi Industri Garam dan Herbal di Madura

Muhadjir Effendy, Garam, Madura, Herbal, Headline, SMK, Pendidikan, Kejuruan
A Busyro KArim (Foto: Detik.com)
Penelitian ilmiah menunjukkan kandungan protein kelor lebih tinggi dari daging, kalsiumnya lebih tinggi dari susu, vitamin A-nya lebih tinggi dari wortel

Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menginginkan ada SMK Garam di Madura patut dipertimbangkan. Setidaknya, untuk sementara bisa dengan membuka jurusan baru (garam) di SMK yang sudah ada dulu.

Bisa di Sumenep atau Pamekasan. Paling tidak, jurusan itu dibuka di Sumenep yang lokasi pabrik pengolahannya (PT Garam) ada di Kecamatan Kalianget, Sumenep. Sehingga, untuk praktikumnya akan lebih dekat dan mudah dijangkau siswanya.

Bupati Sumenep A. Busyo Karim mengungkapkan, pernah tergoda dengan gerakan Kampung Kearifan Nasional (KKN), sebuah ide besar Helianti Hilman, wanita peraih Master di bidang hukum dari King’s College, London, Inggris, kelahiran Jember, 1971.

Wanita itu kini menekuni profesi sebagai konsultan dan pengusaha di bidang produk pangan Slow Food. Program lain yang dijalankan Slow Food adalah protecting food biodiversity atau melindungi keanekaragaman hayati bahan pangan, termasuk garam.

Di Indonesia, kata Helianti, hal itu merupakan tantangan berat karena makin sedikit orang Indonesia yang peduli terhadap keanekaragaman sumber makanan. Ketika pada 1970-an, Kalianget (Sumenep) penghasil garam terbesar di Asia.

Lalu, di manakah garam kita yang dulu melimpah, padahal setelah 1980-an perluasan lahan garam dilakukan besar-besaran, yang kemudian disebutnya proyek renovasi, namun ternyata kita tetap tidak juara lagi. Tapi, Garam Bali yang Berkualitas!

Bupati yang akrab dipanggil Abuya itu sangat tertarik untuk memberi nilai tambah “subsidi” Tuhan yang melimpah berupa air laut yang kandungan mineralnya sangat tinggi di banyak perairan Sumenep.

“Bisa dibayangkan jika lahan seluas 2.620 ha ladang garam di Sumenep yang produksinya 65.045 ton/tahun bisa digenjot lebih bagus lagi kualitas dan kuantintasnya,” ungkap Abuya dalam sebuah catatannya.

Menurut Herlianti Hilman dalam risetnya, di Bali ia sanggup mengubah pola air garam yang menjadi bahan baku garam yang selama ini kita lihat dan dikonsumsi, untuk menjadi garam piramid.

Garam ini menjadi garam yang kaya mineral, jauh meninggalkan garam yang diproduksi masyarakat dan perusahaan pengelola garam di Indonesia. Garam yang diproduksinya di Klungkung Bali, ketika diproduksi mampu menaikkan harga garam menjadi Rp 150 ribu/kg.

“Sedangkan harganya di Eropa mencapai Rp 1 juta/kg. Air bahan baku di Indonesia untuk dijadikan garam piramid sangat melimpah sekali, termasuk di Sumenep, “Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga:  Biar Paham, Bedakan Garam Industri dengan Garam Konsumsi

Untuk kualitas garam piramid ini, lanjut Herlianti Hilman, pesaing Indonesia hanya di negara Cyprus, karena kandungan endapan air mineralnya tak jauh beda. Lalu bandingkanlah dengan harga per 1 kg garam di Kalianget yang hanya sekitar Rp 300-500/kg, tentu jauh berbeda.

Informasi ini harus ditangkap untuk menjadi penyemangat petani garam di Sumenep dalam rangka peningkatan kesejahteraannya. Tentu hal ini tak cukup melulu dari bupati, tapi rakyat dan perusahaan garam harus bahu-membahu bersinergi untuk mendapatkan teknologinya.

“Saya pasti akan men-support langkah-langkah kemudahan menuju produksi itu, sebab ini ikhtiar untuk bangkitnya sebuah peradaban di Sumenep,” ungkap Abuya. Sebagai catatan, wilayah Sumenep luas mencapai 2.0939.43 km2.

Sumenep ini meninggalkan jejak peradaban yang panjang dibandingkan kota-kota lainnya di Jawa Timur. Pemerintahan di ujung timur Pulau Madura ini berdiri sejak 1269, lebih tua dari Kerajaan Majapahit yang kesohor hingga ke Madagaskar itu.

Manfaat Daun Meranggi

Selain garam, Herlianti Hilman juga mengungkapkan, di Sumenep banyak sangat banyak tanaman berkhasiat tinggi yang sudah jarang dikenal orang, seperti tanaman meranggi atau kelor (Madura: maronggi).

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kandungan protein kelor lebih tinggi daripada daging, kalsiumnya lebih tinggi dari susu, vitamin A-nya lebih tinggi dari wortel, vitamin C-nya lebih tinggi dari jeruk, potasiumnya lebih tinggi dari pisang, dan zat besinya lebih tinggi dari bayam.

“Inilah istimewanya leluhur kita yang hidup ratusan tahun silam sudah sangat piawai memilih sayur yang berkualitas, yakni kelor (maronggi) yang dikemas dalam bentuk kowa kalambu dan paleppa konce maronggi,” kata Abuya.

“Dulu kita dihina karena masyarakat Sumenep doyan makan sayur kelor, karena di kota lain hanya digunakan untuk memandikan jenazah. Namun, hasil penelitian terbaru ini, ternyata maronggi ini memiliki kandungan protein, vitamin, kalsium, dan zat besi yang jumlahnya melebihi dari makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari, luar bisa!” lanjutnya,

Di Sumenep ini pohon kelor ratusan ribu jumlahnya, pohon ini oleh petani hanya dijadikan penyangga pohon cabe jamu, sebagian lain digunakan untuk penyangga sirih. Di pasar-pasar, daun kelor tidak menjadi bagian dari sayuran di tempat penjual sayur.

Daun kelor hanya dijual oleh para penjual mentimun dan jumlahnya sedikit, kadang tak laku, sehingga daunnya menjadi layu, lalu dibuang. Bisa dibayangkan jika ratusan ribu pohon kelor itu dikelola dengan profesional, kemudian diekstrak seperti bawang putih.

Yang kemudian diberi nama keren Carlicia, temulawak yang kemudian diberi nama Curminu atau mengkudu yang kemudian dilabel dengan nama Pacekap atau kapsul Noni. Entah nama apa yang cocok untuk ekstrak daun kelor itu jika sudah diproses menjadi ekstrak.

“Tapi saya pikir nama Ekstrak Maronggi tak kalah kerennya dengan nama tersebut di atas. Saya sangat tertarik untuk bertemu Herlianti Hilman, dan menceritakan hal ini kepadanya. Barangkali bisa memberi nilai plus atas daun kelor itu yang melimpah di Sumenep,” ujarnya.

Abuya mengatakan, Prof. Dr. Cristian dan rombongannya dari Jerman amat kepincut dengan tanaman ini, ia tidak hanya meneliti kandungannya. Ia lalu meminta agar diantarkan ke lokasi yang kontur tanahnya keras. Ia berharap produk lokal pertanian itu bisa menjawab produk yang  akan dikembangkan di Jerman.

Baca Juga:  Menteri Muhadjir Effendy Ingin Agar SMK Garam di Madura Segera Berdiri

Sebab, ia sangat khawatir jika produk obat-obatan yang dikembangkannya di Jerman maju, khawatir kualitas daun kelor menurun atau tak memenuhi volume permintaan. Sebab, jika dikembangkan, maka harus ada jaminan ekspor daun kelor ke Jerman agar tak tersendat.

Abuya pun menyadari sikap dengan hati-hati Prof. Cristian, karena penelitian dan rencana pengembangan yang bakal ia lakukan membutuhkan biaya besar. Kekhawatiran ini sangat manusiawi, sebab tak jarang jika sudah diproduk menjadi industri skala besar, bahan baku yang semula berkualitas, tiba-tiba dirusak karena ingin memperoleh untung besar.

“Untuk itu Prof. Cristian mengingatkan akan kelor yang ditanam bebas dari pupuk atau zat kimia lainnya. Sebab, unsur yang sangat menonjol dari kelor Sumenep itu hingga saat ini, terbebas dari bahan-bahan penyubur yang mengandung zat kimia,” tulis Abuya.

Prof. Ir. Eko Budi Djatmiko, Msc, PhD, FRINA, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi 10 November 1945 (ITS) Surabaya yang mendampingi rombongan tamu tersebut mengungkapkan kegembiraannya pada Abuya.

“Bahwa jika masyarakat mampu menyerap informasi ini sesuai dengan permintaan Prof. Cristian, maka ada insentif baru di bidang pertanian yang bisa dinikmati masyarakat luas,” lanjutnya.

Sebab, kedatangan Prof. Cristian ke Sumenep bersama rombongan pengusaha dari Jerman ini, bukti kesungguhan mereka untuk mendapatkan daun kelor dalam jumlah besar. Artinya, satu tahun ke depan masyarakat Sumenep tidak hanya mendapat penghasilan dari tembakau, jagung, padi, dan cabe jamu, tapi bisa mendapatkan dollar dari daun kelor.

“Saya mencatat; ada sekitar sepuluh juta lebih tanaman kelor yang sudah layak dipanen, baik yang menjadi penyangga tanaman cabe jamu ataupun sebagai pagar di pematang tegal milik warga,” ungkap Abuya.

Kini, tergantung dari masyarakat dalam menangkap peluang ini secara benar dan menyiapkan segala sesuatunya dengan serius. “Saya titipkan kepada Prof. Eko Budi Djatmiko, agar hal ini terus dikawal hingga bisa terwujud,” katanya.

Sebab, warga Sumenep juga tahu tentang khasiat daun kelor, terbukti dengan adanya home industry di Saronggi, yang menjual berbagai produk di pasar lokal. Tidak salah juga andai di Sumenep juga dikembangkan SMK dengan jurusan industri herbal.

***

Editor: Pepih Nugraha