Fakta

Ketika Rusia Peringatkan Israel Agar Tak Perkeruh Situasi Suriah

Vladimir Putin, Israel, Rusia, Benjamin Netanyahu, Iran, Politik, Internasional, Luar Negeri, Headline
Vladimir Putin dan Benjamin Netanyahu (Foto: Twitter)
Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan Israel lewat PM Benjamin Netanyahu agar tidak ikut campur di Suriah, terkait manuver pesawat tempur Israel.

Foto Presiden Rusia Vladimir Putin yang sedang berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ini diambil dari Twitter pemerintah Iran. Terlihat dalam pembicaraan itu, Putin mengacungkan telunjuknya dan memperingati Netanyahu agar jangan memperkeruh situasi di Suriah.

“Press TV,”  yang menginformasikan kejadian ini mengatakan bahwa Putin mendorong Netanyahu agar menghindarkan setiap yang bisa memunculkan konfrontasi baru di Suriah, setelah pesawat tempur Israel ikut ambil bagian di kawasan itu.

Tetapi “Press TV,” mengatakan, Putin sedang menelpon Netanyahu, hari Sabtu lalu. Kedua pemimpin itu terlibat pembicaraan serius masalah situasi terakhir Suriah, termasuk memperingati Israel agar jangan mengacaukan situasi di Suriah setelah pesawat tempurnya ambil bagian di wilayah itu.

Baca Juga:  Apakah Sudah Saatnya Amerika Serikat dan Israel Serang Iran?

Menurut saya, peringatan ini selalu dilontarkan Rusia kepada Israel sebelumnya. Bagaimanapun Israel yang menjadi sekutu dekat Amerika Serikat (AS) selalu ikut ambil bagian dalam membela kepentingan sekutu dekatnya tersebut.

Kawasan Suriah memang sudah hancur lebur akibat pertempuran antara AS-ISIS di satu pihak, juga Rusia-ISIS di pihak lain.

ISIS yang disebut Negara Islam di Irak dan Suriah itu, memang menjadi incaran kedua negara adidaya itu (AS-Rusia).

Ketika Presiden Irak Saddam Hussein digulingkan pasukan AS dan sekutunya, Rusia waktu itu masih belum siap membela Irak, meski negara Saddam Hussein itu sekutu Rusia yang waktu itu masih bernama Uni Soviet. Negara ini mengalami goncangan yang hebat akibat kebijakan Mikhail Gorbachev dengan “Glasnost,” dan “Perestroika,” nya.

Bahkan Rusia pernah meminjam uang dari AS. Ketika AS ingin menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Suriah sebagaimana Saddam Hussein, kekuatan Rusia sudah pulih.  Bashar al-Ashad tetap kukuh menjadi Presiden Suriah hingga kini karena dibantu Rusia.

Itu sebabnya jika kekuatan Israel, pendukung setia AS ikut campur di Suriah, babak baru pertempuran baru akan dimulai lagi. Ini pertanda tekad AS dengan meminjam tangan Israel agar Presiden Suriah Bashar al-Assad masih menjadi tujuan AS dan sekutunya seperti menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein.

Usaha agar Israel tidak ikut campur di Suriah inilah yang membuat Putin memperingati Netanyahu.

Menurut “Interfax,” mereka (Putin dan Netanyahu) berdiskusi mengenai situasi pesawat tempur Israel tersebut.

Netanyahu juga mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kami setuju, kata  Netanyahu bahwa keamanan di Suriah dikoordinasikan di antara dua negara dan akan berlanjut.

Baca Juga:  Pasukan Amerika akan Bertahan di Irak dan Suriah

Di tahun 2015, Israel dan Rusia telah menyetujui pertukaran data di Suriah. Memang Rusia memprotes pada hari Sabtu lalu, dengan jatuhnya F-16 Israel ditembak pasukan Suriah. Pesawat Israel itu jatuh ditembak sebelah utara Israel, tetapi militer Israel mengatakan pesawatnya ditembak di Suriah setelah drone diluncurkan tentara Bashar al-Assad.

Beberapa tahun belakangan ini Israel sering menyerang target-target di Suriah, bahkan menyasar ke kuatan militer Iran di Suriah, meski Suriah selalu menyatakan bukan kekuatan militer, tetapi penasehat militer Iran. Sejauh ini, Rusia, Iran dan pemerintahan Bashar al-Assad bersekutu melawan kekuatan militer AS dan sekutunya di Suriah.

Tulisan pernah dimuat di wartamerdeka.net

***