Sketsa

Toleransi Itu “Lakum Dinukum Waliyaddin”

Toleransi, Kehidupan, Agama, Kerukunan, Headline
Ilustrasi kerukunan (Foto: Dayakdream.com)
Salah satu makna toleransi dalam kehidupan sehari-hari adalah menghargai dan menghormati keluarga atau tetangga melaksanakan ibadah sesuai keyakinan mereka.

Saya bersekolah di SD negeri di pinggiran kota Solo. Ada beberapa teman saya yang beretnis Cina, salah satunya bernama Yung Yyung, papahnya bandar gabah dan gaplek di daerah kami. Walau memiliki mata sipit dan beda agama, kami tidak pernah meributkan hal itu. Bukan sekali dua kali kami berkelahi, tapi saya tidak pernah menjuluki dia si kafir dan dia pun tidak pernah menyebut saya si jawa. Setelah itu kami akur lagi.

Salah satu teman favorit saya di SMA bernama Hilda, saya juluki dia “Cica”, Cina cantik. Selain cantik Hilda juga baik hati dan sangat pandai. Kami satu kelas mungkin sungguh sayang dengannya. Walaupun mayoritas di kelas saya muslim, tidak satu kalipun kami saling mengolok. Bahkan dengan senang hati Hilda akan membantu saya mengerjakan PR matematika, pelajaran yang menjadi momok bagi saya.

Rumah bude di mondokan, Ceper, selalu menjadi tempat menyenangkan buat saya berlibur. Bude sekeluarga penganut katolik yang taat. Bangun pagi, mau tidur dan makan selalu diawali dengan doa. Hari minggu mereka sekeluarga berangkat ke gereja bersama sama, dan sayalah yang menunggu rumah.

Apakah bude pernah meminta saya pindah agama? Tidak sekalipun. Jika waktunya sholat, saya akan disuruh bude untuk segera ke masjid, kadang diantar kakak sepupu saya, yang menunggui saya di depan masjid.

Demikian juga ketika puasa ramadhan, bude dengan senang hati menghangatkan masakan buat saya sahur, serta menemani saya makan sahur.

Lingkungan tempat tinggal saya sekarang juga memiliki banyak penganut agama, dan selama ini kami selalu rukun. Depan rumah saya, keluarga batak, beragama kristen. Setiap idul fitri, mereka sekeluarga selalu datang ke rumah kami, sekedar mengucapkan selamat dan maaf maafan.

Demikian juga kami, ketika natal tiba, kami sekeluarga mengunjungi rumah mereka. Sekedar membawa makanan kecil dan mengucapkan selamat natal. Dan saya tidak pernah peduli larangan untuk mengucapkan selamat natal, biarlah dosanya kami tanggung nanti di akhirat.

Baca Juga:  Toleransi, Intoleransi, dan Prinsip Aqidah

Hidup dengan banyak teman, sahabat dan tetangga yang baik adalah anugerah buat kami sekeluarga, dan ini membahagiakan. Saya bisa menerima ketika tetangga kami mengadakan ucapan syukur di rumahnya, seperti mereka juga bisa menerima ketika saya mengadakan yasinan dan tahlilan.

Apakah itu mempengaruhi iman saya? Saya rasa tidak. Walaupun anak saya sekolah di yayasan budha, dan bergaul dengan berbagai macam etnis dan agama, saya juga tidak khawatir. Toh dia sorenya juga masih belajar agama dan mengaji. Bagi saya, Lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Sudah itu saja…

***

Editor: Pepih Nugraha