Wacana

Terpaksa Saya “Sambat” dan Curhat kepada Gus Dur

Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Sosok, Headline, Toleransi, Intoleransi, Kerukunan
Abdurrahman Wahid (Foto: tribunnews.com)
Gus Dur dikenal sebagai "Bapak Kerukunan dan Toleransi" yang bisa meredakan ketegangan jika ada terkait masalah dan persinggungan masalah SARA.

Gus, sewindu panjenengan meninggalkan kami… kangen panjenengan, Gus.

Bangsa yang dulu pernah panjenengan pimpin sekarang telah berada di ambang batas darurat kewarasan.

Banyak berita yang membuat kami tidak percaya kalau bangsa ini bisa sampai berbuat seperti itu Gus.

Ada bakti sosial satu paroki di Bantul dicegah oleh tindakan intoleransi dengan mengacu pada tuduhan kristenisasi, padahal kegiatan itu sudah berlangsung rutin selama puluhan tahun. Kok ributnya baru sekarang.

Kita geram sekaligus sedih, Gus, ketika Sahabat panjenengan KH Umar Basri-Cicalengka diserang sewaktu dalam kondisi khusuk berdzikir di rumah ibadahnya sendiri, pelakunya tertangkap dan dinyatakan sakit jiwa. Kok, keterangan ini bertentangan dengan nurani kami ya, Gus.

Kami hanya tahu bahwa Ulama adalah pewaris ilmu dan akhlak Kanjeng Nabi, tidak terbayangkan jika beliau semua seakan kondisinya terancam setiap saat seperti sekarang ini.

Baca Juga:  Mengawini Bidadari Jangan di Indonesia, Kau Tak Akan Kuat

Dan yang terakhir Ustadz Prawoto PERSIS meninggal dunia karena dibunuh secara membabi buta. Pelakunya dibilang gangguan jiwa, tapi istrinya keukeuh bilang tidak gila. “Kalau gila ya mana saya mau menjadi istrinya,” tegas istri pelaku.

Di Tangerang ada Banthe yang dipaksa membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan ritual agama di rumahnya sendiri. Padahal, seorang Banthe telah disumpah untuk tidak menanggalkan pakaiannya di manapun berada. Dia juga dilarang pegang uang sehingga harus ada anggotanya yang rutin datang mengurus keperluannya.

Gus, kami kok tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan para Ulama kita, ketika ada umat yang sowan, minta doa terus dibilang itu islamisasi. Ketika rumah-rumah kami dijadikan tempat ngaji, jam’iyahan kemudian dibilang itu bagian dari islamisasi.

Paling update, Gus, hari ini Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog di Sleman diserang orang bersenjata pedang waktu mereka sedang melakukan Misa Ekaristi, karena pelakunya sudah kebelet pingin kawin sama bidadari, katanya.

Belum lagi politik yang semakin carut marut dengan mengatasnamakan agama, Gus. Membuat bangsa kita menjadi tidak karuan.

Agama yang panjenengan ajarkan sebagai rahmat bagi semesta alam, tiba-tiba seakan kami rasakan malah menjadi legitimasi perilaku beringas dan haus darah. Jauh sekali dengan ajaran Kanjeng Nabi sebagaimana panjenengan mendidik kami dulu.

Baca Juga:  Ketika Sikap Intoleran Dibiarkan, Diam Bisa Berarti Bunuh Diri

Banyak provokasi atas nama agama, berani teriak : bunuh…. bakar… habisi… dan tidak ada tindakan berarti dari aparat untuk mencegah ataupun menghentikannya. Ini ada apa ya, Gus?

Kami semua kangen panjenengan Gus, kangen wejangan panjenengan, kangen guyon panjenengan.

Melalui wasilah panjenengan yang juga bagian dari Dzuriyah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kami memohon kepada Gusti Allah SWT agar masalah yang melanda bangsa kita segera berlalu.

Mohon dibantu ya Gus sambatan kami ini, mohon sampaikan kepada Gusti Allah SWT, ini sudah tidak bisa masuk akal dan hati kami.

Matur sembah nuwun Gus… Panjenengan selalu hidup di hati kami sebagai seorang Guru, Bapak dan Tauladan Bangsa Indonesia…

***

Editor: Pepih Nugraha