Sketsa

STARRY’S STORY (2): Melihat Dunia

Headline, Kehidupan, Kucing, Starry,
Starry melihat dunia (Foto: Pepih Nugraha)
Hidup anugerah bahkan bagi Starry dan tempat hidup itu adalah dunia. Maka Starry sangat antusias melihat dunia, ia berainteraksi dengan penuh minat.

Berhubung punya pengalaman dengan Grey, kucing angora berbulu kelabu yang sempat menghuni rumah 17 tahun silam, saya agak hati-hati memperlakukan Starry, kucing berbulu keemasan yang baru berusia 5 bulan ini. Starry agak kena pingit ketat, hanya main di rumah saja. Bukan karena Starry betina kecil lalu belum waktunya sudah main cabe-cabean dengan kucing kampung, tetapi pengalaman Grey itu masih menghantui.

Grey agak beda dengan Starry. Kucing jantan itu hijrah ke rumah dari pemilik lama tatkala sudah dewasa, sudah jadi kucing yang memberontak dan karenanya tidak mau diatur. Saya masih ingat pertama kali tatkala Grey dibawa dan dimasukkan mobil Vios warna ungu (warna janda, orang bilang), dia mulai resah dan mengamuk dalam mobil. Setelah di rumah, Grey tidak betah.

Pada satu titik tertentu, Grey hilang tanpa bekas. Ia kabur tanpa bisa saya temukan kembali. Grey konon cari betina untuk dia kawini. Itu kata tetangga yang mungkin merujuk pada pengalamannya sendiri hahaha. Sampai sekarang, saya tidak tahu di mana Grey berada.

Starry adalah penghuni baru. Tak terhitung kucing liar lainnya yang secara hati sudah dekat dengan saya, termasuk si Neige, kucing liar berbulu putih bagaikan salju yang turun di Paris, yang kisahnya saya bukukan dalam kumpulan tulisan “Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang“.

Intinya saya tidak membiarkan Starry ke luar rumah. Di luar banyak kucing liar yang biasa saya kasih makan sehingga ketagihan dan kebiasaan, datang lagi dan datang lagi.

Dari balik kasa pintu kawat transparan, Starry hanya bisa melihat dari dalam kucing liar yang lapar meminta makan di luar.

Sekali waktu nyonya rumah menyarankan ajak Starry jalan-jalan ke luar, biarkan dia mengenal lingkungan sekitar. Ada baiknya saran ini dan saya coba turuti. Tetapi kenyatannya, Starry langsung berlari menjauh. Naluri kaburnya kambuh.

Baca Juga:  Untuk Apa Presiden Joko Widodo Berlatih Tinju?

Paling sulit kalau ia sudah ngumpet di bawah mobil tetangga yang parkir di teritori rumah tetangga itu, yang ga elok kalau harus menjejaknya, harus minta izin ambil Starry meski kepada tetangga. Lebih repot kalau Starry ngumpet di kolong mobil tetangga yang berstatus janda, agak sungkan saya mengambilnya, dikira “ada udang di balik nyari Starry”. Akhirnya Starry kena pingit lagi.

Tetapi ketika kemarin Starry ke luar sendiri karena pintu depan terbuka tanpa sengaja karena ada tamu, ia tidak berlari lagi. Ia hanya bermain rumput di halaman depan yang sempit, sesekali matanya menatap kupu-kupu yang lewat, juga melihat awan berarak di langit biru. Ia demikian penuh perhatian menyimak binatang-binatang kecil yang hadir di sekitarnya. Kadang ia bersembunyi di balik semak kecil dan rerumputan tinggi.

Risikonya, badannya jadi kotor dan basah oleh air yang masih menggenang di rerumputan. Meski belum lama mandi, terpaksa Starry harus mandi kembali. Saya memperhatikan dan tak mau melihat Starry pergi. Starry puas. Ia sudah melihat indahnya dunia, setidak-tidaknya pagi itu saja.

11022018

***

Catatan sebelumnya:

STARRY’S STORY (1): Takut Hujan