Wacana

Mengawini Bidadari Jangan di Indonesia, Kau Tak Akan Kuat

Bidadari, Imajinasi, Headline
Ilustrasi (Foto: Islamedia.com)
Impian akan mendapatkan 72 bidadari idi surga disebut dalam hadis riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang bersumber dari sahabat Miqdam bin Ma’di.

Kawin adalah hak segala individu, dan oleh sebab itu maka penjajahan atas keinginan kawin harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri perkawinan. Bila kau ingin kawin dengan bidadari sekalipun, itu hak mu. Tapi jangan kawin dengan bidadari di Indonesia. Berat. Kau tak akan kuat. Indonesia tak akan memberimu tempat pesta, kehadiran undangan, apalagi doa restu.

Mungkin guru spiritualmu telah banyak bercerita padamu tentang eloknya sang Bidadari. Tentang suaka marga bidadari yang indah penuh pesona. Tentang keabadian bahagia tak berbatas. Tentang nikmat tak terkira yang akan kau dapat tanpa perlu bekal obat kuat dan salep anti lecet. Tapi tahukah kau, bidadari itu tak ada di Indonesia.

Guru spiritualmu mungkin benar setelah baca buku cerita. Tapi pernahkah kau bertanya kenapa dia tidak kawin dengan bidadari itu? Dia justru kawin dengan orang biasa. Padahal dia lebih dulu hidup dari kamu dan tahu tentang bidadari itu. Apakah dia bodoh sehingga cintanya ditolak sang Bidadari? Kurasa tidak. Dia pintar, sampai-sampai bisa bercerita banyak tentang kehebatan bidadari itu padamu.

Pernahkah kau melihat istri gurumu? Bidadari kah istrinya? Tidak. Istrinya tak beda dengan ibumu di rumah. Ibumu bukan bidadari. Ibumu adalah ratu. Dari singgasananya di dapur rumah, ibumu membesarkanmu. Diajarinya kau menginjak tanah, bersapa dan bermain dengan tetangga. Ibumu bangga padamu ketika kau berdiri dan berjalan di tanah. Tanah Indonesia.

Pernah kah kau sadari, tak pernah pula gurumu itu bercerita tentang bidadari pada istrinya. Takut istri kah gurumu itu? Mungkin iya, gurumu itu anggota persatuan suami takut istri. Tak mau pula gurumu mengawinkan anaknya dengan bidadari. Tahukah kau? Gurumu dan istrinya itu sayang pada anaknya.  Diam-diam, gurumu pun takut anaknya kawin dengan bidadari! Mengapa?

Bidadari itu tak ada di tanah Indonesia. Gurumu takut kelak tak bisa mengunjungi anaknya, menantunya dan mungkin cucunya.

Itulah kenapa justru kau yang disuruh kawin dengan bidadari. Karena gurumu tak punya rindu untukmu. Dia tak sayang padamu. Dia hanya sayang dan rindu diam-diam pada bidadari itu namun tak pernah berani mengawininya karena kepengecutannya sebagai lelaki.

Baca Juga:  Pangkostrad Edy, Tirulah AHY Yang Memberi Contoh Politik Beretika!

Dan tahukah kau? Diam-diam gurumu selalu berselingkuh dengan Bidadari itu lewat pikirannya sebelum kau mengawininya. Kau telah dicurangi gurumu, bukan?

Kawinlah, itu hak mu. Tapi jangan kawin dengan bidadari di tanah Indonesia. Mengawini bidadari itu akan banyak orang terluka. Dan luka itu adalah luka ayah dan ibu yang menyayangimu. Mereka menginginkan kau kawin dengan gadis satu kampungmu. Perempuan itu kelak jadi ibu dari anak-anakmu. Perempuan menantu yang akan ikut membahagiakan ayah dan ibumu. Perempuan yang akan merawat ayah dan ibumu saat sakit.

Jangan kawin dengan bidadari di Indonesia. Berat. Kau tak akan kuat. Biarlah para bidadari saja yang kawin dengan bidadara di alamnya sono.

***

Editor: Pepih Nugraha