Fakta

Saya Membelai Kota Jogja

Jogjakarta, Yogyakarta, SARA, Intoleransi, Penyerangan, Gereja, Profil, Kota, Headline
Penyerangan ke Gereja Lidwina, Sleman (Foto: Tribunnews.com)
Penyerangan ke gereja kecil di Kecamatan Gamping adalah "skenario besar" untuk memporakporandakan Jogja. Jadi, kutuklah pelakunya, bukan kota Jogjanya!

Tidak biasanya saya menulis status sehari dua kali, dua-tiga hari sekalipun terlalu banyak! Tapi saya tidak bisa menahan diri, marah dan jengkel melihat hari ini bersliweran di linimasa saya banyak orang dengan seenaknya sendiri mengejek, mengolok-olok dan menghina kota Jogja yang sangat saya cintai ini.

Saya selama ini selalu memberikan catatan kritis kepada Raja saya, Walikota saya, warga kota saya, kondisi carut marut, ruwet bundet kota saya. Tapi itu karena rasa cinta saya kepada kota ini, dan sama sekali bukan sebaliknya. Kalau ukuran dan sumber berita Anda adalah kabar dari media, apalagi dari gosip sektarianis, maka apa yang bisa kalian tandingkan informasi sesungguhnya dibanding dengan saya?

Kalau Anda mendengar betapa tidak istimewa-nya kota ini, saya lebih dari bisa menjabarkan 100 hal ketidakpantasan kota ini menyandang ke-istimewa-annya. Bila hari ini ada yang bilang lagi-lagi muncul kasus intoleransi, saya bisa memberi tahu Anda bahwa saya punya catatan bahwa ada 1.000 sikap saling ke-intoleransi-an yang terjadi di kota ini. Tidak hanya oleh orang Islam, tetapi juga orang Katolik, Kristen, dan bahkan penganut agama yang cacah jiwanya bisa dihitung dengan jari-jari 10 orang. Tapi yang kau permasalahkan hari ini adalah perilaku intoleransi “orang gila”, yang modusnya adalah tindakan kriminal atau bayaran.

Baca Juga:  Hidup di Jogja Memang Istimewa

Saya selalu risih: kalau ada yang selalu bilang, Jogja tidak senyaman dulu lagi? Coba tunjukkan adakah satu kota saja di seluruh penjuru Indonesia ini yang masih sama nyamannya dengan 10-20-30 tahun yang lalu. Kalau ada berarti kalau bukan kota mati, atau kota tua pensiunan, atau kota yang gagal mengikuti zamannya.

Kalau ada yang bilang, kota ini kehilangan ciri dan karakter dasarnya. Saya lebih dari bisa menyebut satu persatu, apa yang hilang dari kota ini. Di mana pucuk tertingginya adalah karakter kesederhanaan. Hilangnya kesederhanaan ini diikuti oleh ciri-ciri baik yang lain keteladanan, rasa rendah hati, kebersediaan berbagi, pengabdian, rasa hormat, dan seterusnya.

Namun siapa yang mula-mula harus disalahkan? Apa pun dan siapa pun yang kemudian datang belakangan. Itu bisa apa saja: orang yang merantau untuk berbagai urusan, kebijakan dan hegemoni pusat, pengaruh globalisasi, kapitalisme yang tidak terkontrol, perebutan pengaruh agama-agama.

Catat Jogja adalah kota yang sampai hari ini menjadi wilayah perebutan umat yang terus berjalan dan tak ada akhirnya. Sehingga sebenarnya adalah kelumrahan, bila setiap hari terjadi perbenturan sikap toleransi. Dan sebenarnya ini tidak sekedar menyasar agama, tetapi juga budaya, ekonomi, politik, dan seterusnya yang ujungnya nanti berakhir di isu suku, etnis, dan antar golongan.

Syafii Maarif (Foto: Kompas.com)
Syafii Maarif (Foto: Kompas.com)

Bahwa di Jogja terjadi penurunan drastis kewibawaan Kraton, kualitas kepemimpinan Walikota dan jajaran ASN-nya, mutu pendidikan yang makin menyedihkan, keruwetan jalanan, bahkan hilangnya sikap tegas Polisi dan TNI adalah realitas yang tak terelakkan. Dan semua itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan keistimewaan.

Jogja itu istimewa, mula-mula karena dua hal: ia satu-satunya provinsi yang sebelumnya merdeka lalu menggabungkan diri dengan Republik. Dan tidak sekedar bersedia bergabung, ia juga menjadi ibu muda yang mau menyusui anak yang baru lahir bernama Indonesia. Dan jangan lupa, selama Orde Baru, DIY adalah sebuah ironi tak berperi. Ia anak tiri yang selama 32 tahun dinomerkesekiankan oleh Presiden yang sesungguhnya lahir dan tumbuh di kota ini. Hal ini tak terepas dari rivalitas HB IX dan Soeharto!

Di satu sisi, sangat tidak menguntungkan karena DIY menjadi provinsi termiskin di Jawa, namun dengan tingkat “ke-nrima-nan” terunggul. Daripadanya justru di kota inilah tingkat harapan hidup mereka adalah terbaik di Indonesia. Kota ini terbiasa ditinggalkan orang2 terbaik yang telah dididiknya, terbiasa dilupakan dan dianggap “kasur tua”. Kota Jogja terbiasa berkorban, terbiasa memberi, bahkan terbiasa dianaktirikan. Tapi bukan berarti bisa seenak-enaknya kalian hinakan dan rendahkan!

Baca Juga:  Yogyakarta Berhenti Nyaman

Apa yang terjadi Minggu pagi ini di sebuah gereja kecil di Kecamatan Gamping adalah “skenario besar” untuk memporak porandakan Jogja. Pelakunya adalah orang yang sama sekali bukan penduduk asli kota ini, dan ia bagian dari jaringan “teroris kota” yang berasal dari ibukota. Kota ini untuk ke sekian kali harus menanggung malu untuk apa yang tak pernah mereka sadari dan antisipasi sama sekali.

Di sisi lain, toleransi sesungguhnya 95% terjaga: kami tetap bersama gotong royong kerja bakti, turun ke jalan membuat karnaval bersama, masih satu panggung menyanyi dan menari, masih bersatu padu mencapai kemajuan bersama.

Jangan kalian pikir kami tidak melakukan apa-apa: Buya Syafii Maarif langsung datang ke gereja, tatkala mendengar insiden ini terjadi dan membuat pernyataan mengutuknya. Warga kampung langsung berjaga di setiap gereja terdekatnya. Dan kalian cuma bisa teriak-teriak merendahkan harga diri kota kami.

Yang kalian tidak tahu, hal itulah yang dimaui oleh mereka (teroris, hipokrit dan sektarianis itu): Jogja merdeka dan NKRI bubar untuk selama2nya!

#kecampelakunyabukankotanya

***

Editor: Pepih Nugraha