Fakta

Faktanya, Kota Madiun Memang “Dikuasai” Madiun Mahardika

Calon Walikota, Madiun, Harriyadin Mahardika, Sosok, Headline
Harryadin Mahardika (Foto: Youtube)

Lapangan Gulun, Kota Madiun, Minggu 11 Februari 2018 tak mampu menampung antusiasme warga yang mengikuti jalan santai Madiun Mahardika. Tak kurang dari 50 ribu warga Kota Madiun tumpah ruah di Lapangan Gulun tersebut.

Lapangan yang biasa dipakai setiap pagi untuk olah raga itu seperti tidak kuasa menampung antusiasme warga kota Madiun. Baru kali sekarang ada acara sebesar dan sebanyak ini orang-orang yang datang di Lapangan Gulun.

“Saya belum pernah lihat yang seperti ini,” kata seorang pegawai Badan Diklat Kota Madiun yang kantornya tepat di samping Lapangan Gulun. Jalan santai yang digelar oleh Madiun Mahardika dan bertajuk Berani Berubah Fun Walk itu berhasil menyedot puluhan ribu warga Kota Madiun untuk berpartisipasi.

“Bukan hanya soal hadiah mobilnya Mas, saya ingin lihat calon wali kota yang pinter dan ganteng. Mau salaman sama foto selfie,” kata sekelompok ibu-ibu sambil tertawa gembira. Sementara itu, calon Walikota Madiun DR. Harryadin Mahardika menekankan, jalan santai ini merupakan momentum untuk bersama berani berubah.

“Kami ingin bersama rakyat Kota Madiun berani berubah. Bukan untuk mengubah yang sudah baik, tetapi meneruskan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik,” ujar doktor lulusan Monash University Australia itu. “Apakah bapak ibu berani berubah untuk Kota Madiun yang lebih baik?” tanya Mahardika.

“Berani!” saut puluhan ribu orang serempak. Adapun calon Wakil Walikota Madiun Arief Rahman, sempat menerangkan tentang cita-cita Madiun Mahardika. Menurutnya, Mahardika itu bukan hanya sebuah nama tapi cita-cita luhur untuk mewujukan Kota Madiun yang unggul, makmur, dan bermartabat.

“Madiun Mahardika itu akan mewujudkan Madiun sebagai smart city, kota modern dengan segenap kecerdasan. Cerdas warganya, cerdas pemerintahannya, cerdas lingkungannya, cerdas ekonominya, cerdas kehidupannya, cerdas mobilisasi, dan infrastrukturnya,” kata Arief Rahman, ST, MM yang dikenal sebagai pegiat Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Jawa Timur.

“Birokrasi pemerintahan nanti harus jadi organ perubahan yang cepat tanggap, terbuka, memberi kemudahan, jemput bola, lebih banyak mendengar dan berempati. “Birokrasi itu harus melayani dengan hati, fokus memberi solusi dan juga anti korupsi,” teriak Arief Rahman yang disambut riuh sorak peserta Fun Walk itu tanda setuju.

Faizal Basri, tokoh nasional yang juga ekonom Universitas Indonesia dalam kesempatan orasi, mengajak warga Kota Madiun berani berubah dan memegang kejujuran. “Mari kita semua berani untuk jujur dan berubah untuk Madiun yang lebih baik,” ajak mantan Ketua Komite Pemberantasan Mafia Migas.

Dalam kesempatan itu Faisal Basri juga mengungkapkan pertaruhan besar yang diambil oleh Harryadin Mahardika untuk terjun dalam Pilkada Kota Madiun 2018. “Mas Mahardika, adik kelas saya di UI ini, tinggal se-inchi saja sudah bisa jadi calon menteri,” ungkap Faisal Basri.

“Tapi, malah lebih memilih guna mengabdikan diri untuk warga Kota Madiun,” lanjutnya. Paslon Mahardika – Arief dalam Pilkada Kota Madiun 2018 ini adalah satu-satunya paslon yang bakal bertarung melalui jalur independen. Mereka lolos verifikasi setelah menyerahkan dukungan lebih dari 16.725.

Dalam Pilkada Kota Madiun 2018, dukungan minimal yang harus diserahkan bakal paslon independen sebanyak 14.441. Mahardika – Arief mengajukan sekitar 18.000 bukti dukungan ke KPU Kota Madiun untuk maju melalui jalur perseorangan. Setelah dilakukan verifikasi dukungan, yang dinyatakan memenuhi syarat sebanyak 16.725.

Baca Juga:  Madiun Mahardika, Pemegang Kunci Raden Ronggo?

Dalam Pilkada Kota Madiun 2018 nanti, Mahardika – Arief akan bersaing dengan dua paslon lainnya, Yusuf Rohana – Bambang Wahyudi (diusung Partai Golkar, Gerindra, dan PKS) dan Maidi – Inda Raya Ayu Miko Saputri (diusung PDIP, PKB, PAN, PPP, dan Demokrat).

“Kita resmi daftarkan pasangan yang mendapat rekom dari pusat yakni pasangan Pak Yusuf Rohana dan Pak Bambang Wahyudi,” jelas Ketua DPC Golkar Kota Madiun Diyn Darojat Adimulya kepada Detik.com di KPU Kota Madiun, Senin (8/1/2018).

Maidi yang menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Madiun secara resmi mendeklarasikan diri sebagai Bacawali Madiun pada Pilkada Kota Madiun 2018. Maidi didampingi Inda Raya yang merupakan pengurus DPD PDIP Jatim.

Keputusan koalisi ini dilakukan pada hari terakhir pendaftaran peserta Pilkada Kota Madiun 2018. Maidi sebelumnya mendaftar sebagai bacawali Kota Madiun di sejumlah partai, antara lain Demokrat, PDIP, dan Gerindra.

Sedangkan Inda Raya merupakan anak dari mantan Wali Kota Madiun periode 2004, Jatmiko Raya Saputra atau Koko Raya. Paslon ini didukung 5 partai dengan dukungan 20 kursi. Yaitu PDIP dengan 6 kursi, Demokrat 7 kursi, PAN 2 kursi, PPP 1 kursi, dan PKB 4 kursi.

Diantara ketiga paslon tersebut, tampaknya yang harus berjuang keras adalah paslon Maidi – Inda Raya. Pasalnya, Maidi sempat diperiksa penyidik KPK terkait kasus suapnya Walikota Madiun Bambang Irianto yang kini ditangani KPK.

Meski sebagai saksi, namanya tetap bakal terseret-seret kasus gratifikasi tersebut. Setidaknya ia akan dijadikan saksi selama kasusnya masih dalam proses hukum. Itu yang mungkin akan menjadi momok bagi Maidi sendiri nantinya.

Bagaimana dengan Yusuf Rohana? Yusuf Rohana adalah Ketua Fraksi PKS di DPRD Jatim, dan Bambang Wahyudi merupakan Ketua DPC Gerindra Kota Madiun. Apa yang membuat Yusuf Rohana akhirnya maju sebagai Bacawali Kota Madiun?

Ikhtiar pencalonannya itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Pertama, ia mengaku telah mendapat restu dari internal partainya. “Saya sering bertemu dengan Presiden PKS, Ketua Majelis Syuro, hingga Ketua Dewan Syariah. Intinya mereka support,” ujar Yusuf Rohana.

Alasan berikutnya, Yusuf Rohana menilai, proses pembangunan Kota Madiun belum banyak berkembang. Misalnya, dari sisi aspek ekonomi hingga perkembangan kota. “Saya melihat ada stagnansi di Kota Madiun,” ujar anggota Komisi B DPRD Jatim ini.

Madiun Mahardika (Foto Youtube)
Madiun Mahardika (Foto Youtube)

Padahal, menurutnya, Kota Madiun yang sangat strategis. Diantaranya, menjadi sentral dari daerah di sekitarnya, mulai dari Pacitan, Ponorogo, Magetan, hingga Trenggalek. Karena itu, seharusnya Madiun bisa menjadi representasi kota maju di sisi barat Jatim.

“Tapi, mengapa ini justru stagnansi? Kami melihatnya bahwa Madiun belum tergarap dengan baik,” lanjutnya. Itulah ofsesi Yusuf Rohana bila terpilih menjadi Walikota Madiun nantinya. Nyaris tak ada jejak digital yang menulis aktivitasnya selama menjadi anggota DPRD Jatim.

Sementara itu Mahardika yang dihubungi terpisah menyatakan, tiket yang didapatnya untuk mendaftar sebagai Bacawali Kota Madiun menunjukkan dukungan yang diserahkan sebagai dukungan nyata warga Kota Madiun.

Kedatangan puluhan ribu warga Kota Madiun pada Minggu (11/02/2018) di Lapangan Gulun itu menunjukkan antusiasme warganya untuk bisa melihat dari dekat wajah paslon Mahardika – Arief yang diusung lebih dari 15 ribu warga Kota Madiun ini.

Mahardika mengakui, untuk bertarung pada Pilkada Kota Madiun 2018, persaingannya ketat sekali. Apalagi, lawannya kebanyakan dari petahana. Kendati demikian ia memiliki strategi khusus untuk bisa menang dalam Pilkada Kota Madiun nanti.

Menurut Arief, dukungan nyata warga Kota Madiun bisa dilihat saat paslon ini membawa fotokopi KTP-nya. “Kita kumpulkan KTP-nya 22 ribu, yang diserahkan ke KPU 18.751,” ungkapnya. Yang memenuhi syarat 16.725 dukungan.

Sekedar catatan, hasil Pemilu Legislatif 2014, sebanyak 3 parpol dari 12 parpol yang turut bertarung dalam Pileg di Kota Madiun meraih suara terbanyak. Dalam Pilkada Kota Madiun 2018 ini, ketiga paslon itu bakal berebut sekitar 144 ribu suara pemilih.

Ketiga partai itu adalah Partai Demokrat dengan meraih 7.033 suara, PDIP dengan meraih 6.211 suara, dan PKB dengan meraih 4.363 suara. Ketiga partai itu yang merupakan peraih suara terbanyak dalam Pileg 2014.

Rata-rata ketiga partai itu memperoleh 7, 6, dan 4 kursi di DPRD Kota Madiun untuk periode 2014-2019. Masing-masing, Demokrat 7 kursi, PDIP 6, PKB 4, Gerindra 4, Golkar 2, PAN 2, NasDem 2, PPP 1, PKS 1, dan Hanura 1 kursi.

Untuk mengalahkan dua paslon lainnya, berarti Mahardika – Arief harus mampu “mencuri” suara dari warga pendukung parpol kedua paslon rivalnya itu. Rasanya tak sulit bagi paslon “Madiun Mahardika” ini untuk mendulang suara mereka!

***

Editor: Pepih Nugraha