Romansa

Dilan Lagi, Milea Lagi…

Film, Novel, Pidi Baiq, Dilan, Resensi, Headline
Dilan dan Milea (Foto: Kapanlagi.com)
Secara isi, "Dilan" sangat amat biasa, cenderung flat, predictable, dan garing. Tak ada yang istimewa, cuma kisah klasik naksir-naksiran ala anak SMA.

Pertama kali lihat trailer film “Dilan”, saya terhenyak, tak menyangka.

Sungguh tak menyangka karena saya punya novelnya.

Gara-gara trailer film itu, saya jadi ingat pernah beli novel “Dilan 1990” waktu mudik 2 tahun lalu (!). Saya memang punya kebiasaan memborong buku berbahasa Indonesia setiap mudik Lebaran. Maksudnya biar nggak ketinggalan dengan perkembangan dunia sastra tanah air. Kebanyakan buku itu langsung saya baca begitu kembali ke Norwegia, sebagian lagi saya baca sekilas untuk dibaca kemudian, atau saya letakkan lagi kalau bagian awalnya kurang menarik.
“Dilan” termasuk kategori terakhir.

Dan tertimbunlah nama dan kisahnya di antara tumpukan buku, novel, komik, dan majalah lain.

Munculnya trailer film dan ramainya review serta meme plesetan nan kreatif, membuat saya penasaran. Apa, sih, istimewanya bocah SMA itu? Sampai ada mak-mak seperti saya yang terkiwir-kiwir dengan pesona “bad boy”, dan membuat mereka pingin kembali ke zaman putih abu-abu.

Sebagian lagi, sepertinya ini yang lebih banyak, memandang “Dilan” sama sekali tidak patut dijadikan panutan anak muda.

Daripada asal bunyi, saya memilih membaca dulu novelnya, karena memang punya. Setelah dapat gambaran yang pas, baru saya berani berpendapat.

Baca Juga:  Bila Nanti Zumi Zola Berada dalam Penjara, Ingatlah Kata Dilan

Jadi, saya itu cukup sering membeli buku berdasarkan rasa penasaran tentang penulis, dan bukan semata jalan cerita. Seingat saya, “Dilan” saya pilih karena dulu pernah dengar nama Pidi Baiq yang digambarkan sebagai penulis multitalenta (ya, nulis, bikin ilustrasi, main musik juga). Dia yang mengaku sebagai “Imigran dari Sorga”, pernah lapar, pernah ngantuk, tapi alhamdulillah semuanya bisa diatasi.

Maka terbelilah novelnya.

Dan dalam dua hari tamatlah saya membacanya.

**

Karena ini novel pertama karya Pidi Baiq yang saya baca, saya nggak paham apakah memang demikian gaya beliau menulis. Kaidah bahasa Indonesia yang (menurut saya) agak amburadul, penggunaan kosakata yang nggak konsisten (gak, enggak, dan nggak. Atau seneng dan senang. Itu cuma sebagian), dan penjelasan arti bahasa Sunda di dalam teks yang menurut saya sangat mengganggu.

Yang terakhir itu mungkin karena saya mengerti bahasa Sunda, jadi nggak perlu terjemahan lagi. Tapi kalau saya jadi editornya, saya akan sarankan supaya semua terjemahan dijadikan satu di bagian “glossary”, atau ditulis di footnote pada tiap halaman.

Itu semua masalah teknis, ya.

Secara isi, “Dilan” sangat amat biasa. Cenderung flat, predictable, dan garing malah. Nggak ada yang istimewa. Cuma kisah klasik naksir-naksiran ala anak SMA, itu benang merahnya.

Dilan yang ganteng, ketua geng motor, tapi juara kelas Fisika, naksir Milea, anak Bio yang cantik.

Ya, itu dia. Anak cowok pintar dan ganteng, mati-matian PDKT ke cewek semata karena si cewek cantik. Nothing else. Dangkalnya kamu, Dilan…

So much for Brain, Beauty, Behavior ala Miss Universe.

Jalan ceritanya juga biasa aja, kalau nggak mau dinilai rata-rata. Sepanjang novel ini entah berapa kali kata “suka, sayang, senang, seneng, cinta, pacaran, he he he, ha ha ha, makasih” diulang-ulang. Belum lagi adegan menjelang tidur yang menutup hampir tiap bab, dengan kata-kata khas “Selamat tidur juga, Dilan…”.

Yang menurut saya sangat aneh dan disturbing adalah bagaimana kualitas seorang Dilan yang pandai, terpilih ikut lomba Cerdas Cermat, suka baca, hobi isi TTS, romantis, dan jenaka, juga punya kecenderungan brutal dan anarkis.

Ingat saja kalimat “Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang”. Talk about a psychopath wannabe.

Juga adegan di mana Dilan digambarkan hobi berantem. Bukan cuma dengan yang seumuran. Bahkan Pak Suripto, gurunyapun dia hantam juga, sampai kejar-kejaran di lapangan upacara dan disaksikan seantero sekolah (kalau kamu nggak baca sendiri, nggak tau kan, kalau ada cerita ini?).

Ketika kemudian Dilan dipanggil kepala sekolah, justru para guru itu yang terkesan takut pada Dilan.

Bunda Dilan yang beberapa kali dipanggil ke sekolah karena ulah anaknya digambarkan tetap tenang, nggak ada rasa marah sedikitpun pada Dilan. Semua ia anggap kebandelan khas anak SMA, bukan bandel yang aneh-aneh. Sampai Dilan diskors juga, tanggapannya kalem wae. Hmm 🤔

Hello? Ini cerita tahun 1990, lho. Bukan 2018. Seingat saya, sebandel-bandelnya murid zaman itu, tetap ada rasa takut dan segan pada guru.

Entahlah, mungkin di sekolah Dilan berbeda keadaannya.

Novel Dilan (Foto: Savitry Khairunnisa)
Novel Dilan (Foto: Savitry Khairunnisa)

Sisa cerita, penuh dengan romantika pacaran khas anak SMA, boncengan motor, pegangan tangan, ke pasar bareng, wakuncar, cemburu, ngolesin obat merah di pelipis pacar, cium pipi…

Mungkin semua itu bukan hal aneh buat anak muda kala itu, apalagi kids zaman now. Mungkin Pidi Baiq sekedar menggambarkan realita di sekelilingnya (kota Bandung tahun 1990). Juga kebiasaan anak-anak Bandung zaman itu untuk menyisipkan kata “anj*ng” di dalam percakapan mereka. Sepertinya ini bukan cuma dominasi anak Bandung, tapi juga ke Jakarta hingga hari ini.

Tapi ketika kemudian novel ini dijadikan film dengan jutaan penonton dalam waktu singkat, dan sebagian besarnya adalah para ABG, bayangkan berapa banyak yang merasa terinspirasi dan merasa dapat pembenaran melalui kelakuan Dilan dan Milea.

Mereka yang bisa jadi berprinsip, nakal boleh, asal nggak macem-macem. Bandel OK, asal romantis. Brandalan nggak masalah, asal setia kawan, setia pacar, dan hormat pada orangtua.

Mirip motto hidup Dilan, “Senakal-nakalnya gank anak motor, mereka juga sholat pada waktu ujian praktek agama”.

**

Satu-satunya hal yang membuat saya tetap membaca novelnya sampai akhir adalah saya serasa dibawa menyusuri jalan-jalan, pasar, dan tempat makan langganan di kota Bandung di tahun 1990-an, yang memang masih sejuk dan belum semacet sekarang.

Sebagai alumnus sebuah SMA di Bandung pertengahan dasawarsa ’90-an, saya merasa nyambung dengan tempat-tempat yang disebutkan dalam novel. Juga gaya bicara khas barudak Bandung, yang mengingatkan saya pada teman-teman sekelas saya yang asli Sunda.

**

Syukurlah Dilan cuma tokoh fiksi. Tokoh khayalan penulisnya yang semoga tidak dijadikan tauladan buat anak-anak muda Indonesia masa kini.

Sebagai ibu dari seorang anak lelaki yang sebentar lagi jadi remaja dan dewasa, amit-amit jabang baby, jangan sampai anak saya tumbuh jadi seperti Dilan. Dan semoga kami sebagai orangtua muslim bisa menjaga anak titipan Tuhan ini selagi diberi kepercayaan oleh-Nya. Jangan sampai kami jadi orangtua yang permisif, serbaboleh, termasuk menjadikan pacaran bebas sebagai pemakluman gaya hidup era modern. Terlebih kami hidup di negeri Barat yang kata kuncinya adalah liberalisme.

Cukup satu Dilan. Cukup di tahun 1990 dan 1991 saja.

Sedikit bocoran, di novel sequel-nya (Dilan 1991) akan dikisahkan suka-duka pacaran kedua sejoli, tetap diceritakan secara flashback dari sudut pandang Milea. Mereka akhirnya bubar. Bagaimana nasib Dilan selanjutnya nggak diceritakan. Milea kini sudah menikah dengan orang lain, dan punya anak. Ternyata sebagian orang memang memilih untuk terus menghidupkan masa lalunya.

**

Kalau kamu ketemu Dilan, bilang sama dia, yang berat itu bukan rindu. Tapi menjaga hidupmu supaya tetap lurus sesuai ajaran agamamu.

Bunda Fatih (bukan Bunda Dilan), Haugesund, Norwegia, 09 Februari 2018

***

Editor: Pepih Nugraha