Wacana

Teganya Fahri dan Fadli Renggut Keperawanan Kartu Kuning Zaadit

Zaadit Taqwa, Simpatisan, PKS, BEM UI, Joko Widodo, Kartu Kuning, Headline
Zaadit Taqwa (Foto: Pojoksatu.id)
"Keberanian" Zaadit Taqwa memberi "kartu kuning" kepada Jokowi ditengarai pesanan karena Ketua BEM UI itu simpastisan PKS. Jejaknya di Twitter dihapus.

Kartu kuning mendadak populer di jagat berita negeri ini. Bermula dari aksi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa, kemudian disambut beragam tanggapan publik. Kartu kuning milik mahasiswa itu kemudian berubah wujud dan rasa. Ibarat gorengan tahu isi rasa politik yang lezat. Isinya adalah beragam interpretasi politis yang kemudian disantap publik dengan rakus.

Ada anggapan bahwa aksi kartu kuning Zaadit Taqwa merupakan aksi heroik murni pemikiran seorang idealis muda yang non-partisan. Heroik karena keberaniannya sebagai mahasiswa mengemukakan pendapat di tegah “melempem”nya kepedulian mahasiswa pada kondisi negara saat ini.

Belakangan tersiar kabar Zaadit Taqwa merupakan simpatisan partai PKS -yang merupakan bagian kelompok oposisi pemerintah saat ini. Bukti-bukti screenshot dari akun twitter Zaadit Taqwa bertebaran di dunia maya. Bahkan kini akunnya itu telah ditutup. Ada apa dengan Zaadit Taqwa? Jadi hero kok kabur? Kok, nyalinya tak seperti waktu mengacungkan kartu kuning? Ketahuan belangnya ya, Dik?

Tersebab merebaknya kabar itu, heroisme dan kemurnian mahasiswa seorang Zaadit Taqwa jadi rancu. Diduga dia merupakan “kader” Partai PKS. Dia juga diduga binaaan kelompok ormas HTI yang telah masuk ke kalangan organisasi kemahasiwaan.

Baca Juga:  Jokowi Mau Kirim Ketua BEM ke Asmat, Berarti "Jangan Kritik Saya"

Aksi Zaadit Taqwa kemudian makin rancu ketika “keperawanan” kartu kuning itu direnggut Fadli Zon dan Fahri Hamzah (kartu merah) -dua politikus oposisi pemerintah. Kedua politikus partai Gerindra dan PKS ini bersama beberapa orang lainnya melakukan aksi yang mirip aksi Zaadit Taqwa pada pembukaan musyawarah nasional Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia di Hotel Royal Kuningan pada Sabtu, 3 Februari 2018.

Oposisi merupakan hal yang wajar dan sehat dalam politik dan demokrasi. Tapi ketika posisi oposan itu memakai aksi simbolik kritik si culun mahasiwa, maka posisi oposan itu telah “merenggut keperawanan” kartu kuning seorang Zaadit Taqwa. Sebuah aksi politikus senior yang tidak kreatif dalam melakukan kritik. Bisanya cuma meniru mahasiwa.

Celakanya, hal itu mereka lakukan dengan riang gembira di tengah melemahnya posisi Zaadit Taqwa akibat beredarnya kabar di medsos dia merupakan simpatisan partai PKS -yang merupakan bagian kelompok oposisi pemerintah saat ini.

Kalau Aksi Zaadit Taqwa murni mahasiswa, beranikah dia memberikan kartu kuning untuk PKS, Gerindra, DPR-RI dalam konteks pembangunan politik negeri ini? Bukankan lembaga politik tersebut juga bertanggung jawab terhadap kehidupan politik dan kedamaian negeri ini? Bukankah mahasiswa harus mampu melihat segala realitas timpang negara ini tanpa berpihak selain demi rakyat? Beranikah Zaadit Taqwa meminta mereka segera “terjun” langsung menolong orang Asmat di Papua?

Baca Juga:  Kartu Kuning untuk Jokowi, Perlawanan Mahasiswa Edisi Fatamorgana

Selama ini Fahri Hamsah dan Fadli Zon “paling demen” “memperkosa” realitas politik dan kebijakan Jokowi. Segala usaha keras Jokowi memperbaiki kondisi negeri ini seolah tak ada yang benar dimata mereka berdua -yang menempatkan mereka berdua sebagai si Benar. Mereka ciptakan pernyataan-pernyataan yang membutakan mata sebagian publik pada prestasi kerja Jokowi.

Zaadit PKSSementara kedua si Benar ini apa prestasinya di DPR-RI? Pernahkan mereka memperbaiki atau bikin benar lembaga mereka yang terdera kasus korupsi? Pernahkan mereka berdua mendapat penghargaan dari lembaga independen dan kredibel dari dalam dan luar negeri?

Kembali ke sosok Zaadit Taqwa, beranikah dia memberi kartu kuning untuk kedua orang alumni kampusnya ini?

Saya pikir Zaadit Taqwa tak akan berani karena dia merupakan salah satu korban yang dibutakan Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Kini dari aksi heroiknya, dia sendiri diperkosa, dan dia sungguh menikmatinya!

Mungkin untuk kadar culun seorang Mahasiswa, kenikmatannya kali ini telah membawanya pada puncak kenikmatan -sebuah “ejakulasi” nikmat tak terkira! Sayangnya baru tahap permainan awal Zaadit Taqwa sudah “kalah”. Aaaggghh!

Eeh, mudah-mudahan Zaadit Taqwa masih punya nyali dan tenaga untuk berangkat ke tanah Asmat. Jangan lupa ajak dua orang senior alumni kampus mu itu ya, Dik….

Pebrianov, 4/02/2018

***

Editor: Pepih Nugraha