Fakta

Raja Tua Yang Lelah

Sultan Hamengkubuwono X, Sosok, Jogjakarta, Kota, Sosiologi, Headline, Perubahan Sosial
Sultan Hamengkubuwono X (Foto: Tempo.co)
Warga tak lagi menganggapnya Agung dan Bertahta untuk Rakyat. Mereka merindukan lagi bapaknya, yang lebih irit bicara dan sederhana, tapi terus bekerja.

Sebenarnya sih kalau ukuran raja yaaa.. belum terlalu tua betul, tapi raja ini sudah tampak sedemikian lelah. Kelelahan yang mengikuti kotanya yang makin sumpek, macet, dan ruwet. Becak dikalahkan oleh bentor ilegal, yang membuat jalanan rimba tanpa hukum. Ia kalah oleh tuntutan perut warganya (sic!), yang atas nama kemajuan jaman memaksakan diri bersaing dengan moda transportasi on line yang nyaris memotong leher semua angkutan tradisional.

Andong bukan lagi konsumsi warga, yang mengantarkan mereka bergerak dari Kotagede ke Beringharjo, dari Godean ke Pasar Kranggan. Andong sudah semahal mobil limosine jam-jaman. Alasannya kudanya, sekarang eks-kuda balap yang harganya semahal sebuah motor baru. Coba tengok mana ada lagi, kuda-kuda Jawa di jalanan. Mereka trah kuda Ostrali yang sudah turun drajat jadi penarik kereta jalanan.

Polisi selalu kalah oleh warga, atas nama yang paling penting “iklim kondusif tetap terjaga”. Mantra baru yang mengaahkan jargon apa saja, apah artinya “city of tolerance” dibanding situasi kondisif? Jogja Never Ending Asia sudah entah kemana, mungkin memang sudah benar-benar ending. Karena hari ini Jogja adalah Istimewa!

Se-istimewa apakah? Istimewa karena akan menjadi kota dengan bandar udara termegah se Asia Tenggara. Sementara warganya selalu diejek dengan salah satu provinsi dengan tingkat kesejahteraan paling rendah di Indonesia.

Baca Juga:  Hidup di Jogja Memang Istimewa

Mereka gagap dan gundah dengan ukuran-ukuran ekonomi yang disediakan oleh Pusat, yang bahkan bukan dibuat oleh orang pusat itu sendiri. Ia hanya drop-dropan dari lembaga kreditor seperti World Bank atau IMF, sebagai parameter kemajuan pembangunan ekonomi. Ia lupa bahwa prestasi tertinggi warganya justru adalah tingkat harapan hidup yang tertinggi di Indonesia. Mana ada daerah yang warganya mencapai usia rata2 74,1 tahun!

Di hari gini, di mana tidak dikenal lagi biaya hidup turun, dari hari meningkat terus tanpa pernah punya alasan jelas. Jogja istimewa hanya dilihat dari jumlah pertumbuhan hotel yang sedemikian pesat, tanpa pernah mengukur daya dukung lahannya. Air yang dikonsumsi sebuah hotel, menyedot habis air yang semestinya menjadi hak warga se-kampung.

Dalam hal air, kota Jogja justru diselamatkan oleh “iklim yang tidak beraturan”, hujan terus menerus, tanpa kenal aturan kala. Yang membuat kandungan air tanah di kota ini tampak stabil dan tak ada masalah. Tapi sampai kapan? Akan tiba saatnya kemarau panjang itu tiba saatnya.

Dan seminggu ini, Jogja digempur isu intoleransi yang sebenarnya sama sekali bukan hal baru.

Bakti sosial yang dilakukan sebuah gereja, yang sebenarnya hanya sebuah gereja kecil di pinggiran kota, di mana antara pihak gereja dan warga telah lama saling kenal dan mengasihi, tapi sebuah organisasi anak pinak dari Ibukota mengintervensi mereka. Melarang acara yang hanya “pembagian sembako”, yang mereka curigai sebagai “upaya-upaya baru kristenisasi”.

Sementara nun jauh di Baduy, sebuah BUMN dengan terang-terangan memberikan listrik gratis bagi mereka yang bersedia di-“mualaf”-kan.

Dan raja ini, bukannya bersikap di tengah, ia condong ke kanan berpihak dengan mengatakan: “Sebaiknya kalau bakti sosial tidak usah bawa-bawa kata gereja”. Kalimat itu jadi salah, terutama karena itu keluar dari mulut raja yang bagi orang Jawa dianggap “sabda Pandita Ratu Tan Kena Wola-Wali”, sabda raja adalah pegangan hidup warganya yang tak boleh dibantah.

Ia bisa saja berkilah, itu dikatakannya dalam kapasitas sebagai gubernur, bukan sebagai raja. Ia kedudukan yang berbeda dan terpisah, walau ada dalam satu tubuh. Bagi saya, ini hanya sebuah indikasi yang ke sekian kalinya: bahwa ia telah lelah, lelah terlalu lama jadi gubernur. Entah kapan berakhir atau diganti. Lelah ditinggal istrinya mengejar karier di Jakarta. Lelah mengurusi warganya yang makin sulit diatur, bersalin watak, dan gampang menuduh.

Dan lalu, masyarakat tak lagi menganggapnya Agung dan Bertahta untuk Rakyat. Dan lalu, masyarakat mengenang dan merindukan lagi bapaknya, yang lebih irit bicara dan sederhana, tapi terus bergerak dan bekerja. Ia harus diingatkan, sekalipun lelah (dan itu manusiawi), bahwa karakter utama orang Mataram-Jogjakarta itu: Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh.

Sawiji berarti satu, menyatu, terpadu. Greget diartikan gigih, semangat, kerja keras dan dinamis. Sengguh berarti percaya diri, ora mingkuh bertindak tetap rendah hati.

***

Editor: Pepih Nugraha