Gaya

Gunting Kartu Kreditmu!

Ilustrasi kartu kredit (Foto: Blogger.com)
Ilustrasi kartu kredit (Foto: Blogger.com)
Kurang bijak menggunakan kartu kredit sebagai gaya hidup bisa bikin hidup jadi susah. Jika tidak bisa mengontrol keuangan, lebih baik tinggalkan saja.

Saya memiliki 6 kartu kredit dari 4 bank berbeda, 2 platinum, 2 gold dan sisanya kartu tambahan. Gaya hidup saya melambung tinggi, belanja bulananpun tidak saya batasi, yang penting kulkas penuh.

Makan di mall dan nongkrong di cafe sudah menjadi rutinitas. Dari semasa Planet Hollywood dan Diskotik Millenium belum almarhum, saya salah satu pengunjung tetapnya, hingga PH menghadiahi saya gold member. Itu yang membuat kartu kredit saya makin jebol, dan bagi saya tidak masalah. Mencari uang waktu itu ibarat saya memelihara tuyul, hari ini habis besok dapat.

Itulah masa jahiliyah buat saya, dan tentunya penerbit kartu kredit senang senang saja, karena saya selalu membayar tagihan tepat waktu dan di atas minimum. Semakin lama limit kreditpun dinaikkan, sales KTA, asuransi dan produk lainpun menjadi semakin rajin menelpon saya.

Waktu berlalu, dan tuyul tuyul sayapun mulai males cari duit, tagihan kartu kredit akhirnya cuma bisa bayar minimum payment, KTA dan segala tetek bengek tagihan lainnya membuat isi tabungan hanya numpang lewat. Dan akhirnya satu persatu mengalami gagal bayar, dari 1, 2, 3 hingga akhirnya 5 macet total.

Hanya 1 yang saya sisakan, dan selalu saya bayar lancar. Tapi akhirnya dengan segala macam alasan, di blokir juga, mungkin mereka sudah tahu kalau saya sudah mulai kere.

Kalau dulu marketing dengan bahasa sopan yang menelpon, sekarang gantian debt collector yang menghubungi saya. Dan episode perang mentalpun dimulai. Hampir tiap hari saya menerima teror telpon, hari ini Bank A, besok B, besok C, begitu terus. Dalam sehari bisa 2 atau 3 kali saya ditelpon. Kalau yang menelpon laki-laki, saya masih sanggup berdebat, tapi kalau sudah mbak-mbak, saya lebih sering menyerah.

Baca Juga:  Aditya vs Aditya

Suatu ketika saya diajak bertemu oleh salah satu debt collector salah satu penerbit Credit Card (CC), sebut saja Ramli, kami bertemu di Bekasi. Saya diajak ngopi, dan kamipun ngobrol santai. Ramli menasehati saya untuk membuat surat permohonan di semua penerbit CC yang macet. Dan untungnya dari 6 CC yang macet, 5 di antaranya bank asing, yang menurut dia lebih mudah meminta pemotongan pokok dan bunga dibandingkan bank lokal.

Setelah surat permohonan dibuat, saya melakukkan negosiasi selama beberapa bulan, satu persatu menyetujui permohonan saya, salah saunya CC yang outstanding kredit saya 27 juta, akhirnya saya bayar 11 juta dan diberi surat keterangan lunas. Satu persatu KTA dan CC dapat saya lunasi.

Hidup tanpa CC ternyata lebih sehat, sehat kantong dan jiwa raga. Ga ada duit ya ga jajan dan belanja bulanan juga sudah tidak kalap lagi. Dan jalan jalanpun cukup ke Taman Mini atau Ancol, yang penting ada air, anak-anak juga sudah senang.

Saran saya, ndak usah gaya gayaan bikin CC, gaji seupil ya dinikmati saja, kalo bisa makan warteg ndak usah gaya makan di emoll kalau Cuma ngutang. Kalau masih pengen mendem, minum ciu saja cukuplah, ndak usah sok minum Chivas, kalau harus gesek. Wong kalau sudah mabok rasanya sama saja.

***

Editor: Pepih Nugraha