Aksara

Binatangisme (2), “Tujuh Pedoman Utama” Yang Dilanggar Penguasa

Binatangisme
Prinsip “ Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Buruk “ yang menjadi inti dari Tujuh Pedoman Utama telah diubah menjadi, "Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Lebih Bagus Lagi!"

Tidak ada yang tahu, babi Napoleon berniat jahat. Dia memisahkan sembilan anak ekor anjing pemburu di tempat rahasia. Dia didik menjadi anjing pembunuh berdarah dingin dan tentu saja setia padanya

Beberapa kali dalam pertemuan mingguan terjadi perbedaan pendapat antara Snowball dengan Napoleon. Perbedaan itu menyebabkan para binatang mengerucut menjadi dua kubu. Pro Snowball dan pro Napoleon.

Puncaknya saat rencana pembangunan kincir. Napoleon menentang pembangunan kincir yang digagas oleh Snowball yang yakin kincir itu akan meningkatkan produksi.

Pada puncak pertentangan itu, sembilan anjing pemburu yang sudah tumbuh besar didikan Naopleon secara tiba-tiba menyerang Snowball. Snowball lari sebisanya, secepatnya menyelamatkan diri, tak kembali lagi.

Napoleon mengangkat dirinya sendiri menjadi pemimpin tanpa protes satu binatang pun yang shock melihat keganasan sembilan anjing pemburu.

Kincir yang mangkrak dilanjutkan oleh Napoleon. Dia mengaku dulu menentang pembuatan kuncir karena Snowball mencuri idenya. Ide pembuat kincir dan rancangannya adalah ide murni darinya. Tentu saja Napoleon sedang membual

Napoleon yang dibantu oleh kuda Boxer dan Clover memimpin dengan cara otoriter. Walaupun dia ikut menyusun “ Tujuh Pedoman Utama” tapi dia juga yang melanggarnya. Pertama, dia tidur di tempat tidur yang berarti melanggar pedoman ke empat, “ Semua binatang tak boleh tidur di tempat tidur. “

Melalui juru komunikasi babi kader Squealer yang selalu dikawal oleh tiga anjing pemburu binaan Napoleon yang siap memblokir suara sumbang atau kalau perlu memblokir nyawa bagi yang menentang Napoleon, jurkom squealer mengatakan, Napoleon tidak melanggar pedoman keempat, yang dilarang oleh pedoman keempat adalah tidur di tempat tidur dengan seprei.

Ini penjelasan Squealer “ Tempat tidur itu, tak lebih dari sekedar tempat untuk tidur. Sebenarnya, tumpukan jerami itu pun tempat tidur juga namanya. Yang dilarang adalah pakai seprei! Bukannya tidur di tempat tidur! “

Baca Juga:  Menjadi Wartawan Tak Seharusnya Arogan, Mengapa?

Para binatang memeras otak mulai mengingat-ingat, sejak kapan ada tambahan kata, “dengan seprei“. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut setelah melihat taring tiga anjing pemburu yang siap menerkam.

Tapi ada saja binatang yang berani kasak-kusuk soal perilaku Napoleon yang dianggap menyalahi pedoman keempat. Hukumannya tidak tanggung-tanggung. Tukang kasak-kusuk itu dibantai anjing pemburu di hadapan para binatang di satu upacara.

Pembantaian yang menimbulkan trauma itu jelas melanggar pedoman keenam, “Binatang tidak boleh membunuh sesama binatang”. Tapi, lagi-lagi jurkom babi Squealer yang dikawal oleh tiga anjing pemburu meyakinkan para binatang bahwa Napoleon tidak melanggar pedoman keenam yang berbunyi, “Binatang tidak boleh membunuh sesama binatang tanpa sebab”.

Kuda penarik Clover minta agar keledai Benjamin membacakan untuknya Pasal 6 itu. Dan ketika Benyamin, sebagaimana biasanya, berkata bahwa ia tidak mau mencampuri urusan itu, Clover mendekati kambing Muriel. Barulah Muriel membacakan pedoman itu. Menurut Muriel, bunyi pasal 6 itu sebagai berikut : “ Binatang tidak boleh membunuh sesame binatang TANPA SEBAB. “

Para binatang agak heran, sejak kapan ada tambahan “tanpa sebab”. Tapi mereka menghibur diri, barangkali saja memang ada, tapi mereka luput mengingatnya.

Setelah kincir selesai, angka produksi tidak juga meningkat seperti yang digembar gemborkan. Jurkom babi Squealer berkata sebaliknya. Dia mengatakan, produksi meroket di masing-masing produk. Mulai dari 200 persen sampai 500 persen. Tentu saja para binatang tidak percaya. Jatah dan menu makanan mereka tidak ada peningkatan. Tapi tetap saja tidak ada yang berani protes.

Pelanggaran demi pelanggaran “ Tujuh pedoman utama” dari idiologi binatangisme dilakukan oleh Napoleon secara terang-terangan. Mulai dari berhubungan dengan manusia, menggunakan uang, minum alkohol, merokok. Tapi Napoleon punya cara ngeles yang jitu. Dia tetap punya alasan bahwa sampai sekarang dia masih setia pada idiologi binatangisme.

Baca Juga:  Surya Sahetapy, Keturunan Kelima Tokoh Pers Tirto "Minke" Adhi Soerjo

Prinsip “ Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Buruk “ yang menjadi inti dari Tujuh Pedoman Utama telah diubah menjadi,  “Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Lebih Bagus Lagi!”

Terakhir pelanggaran memakai busana seperti tertulis di pedoman ke tiga, diketahui oleh para binatang yang mengintip pertemuan tertutup antara babi Napoleon yang menganakan jas leler tutup, pakai mantel, pakai rompi dari kulit , dengan manusia para pemilik peternakan.

Cerita ditutup oleh Orwell dengan satu pertanyaan mengambang;

“Para binatang yang berada di luar dan mengintai dari jendela tercenung. Mereka meneliti seksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung. Dari wajah manusia, kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja”.

26012017

***

Editor: Pepih Nugraha